Single Perents

Single Perents
bagian 43



Sesampainya di sekolahnya Rian, gerbang sekolah masih tertutup karena kami datang dua menit lebih dulu seperti biasa. Aku dan mas Rehan selalu menunggu Rian di depan gerbang bersama dengan orang tua yang lain. Mereka mengenal mas Rehan sebagai ayahnya Rian dan kami adalah sepasang suami istri yang bahagia yang membuat ibu ibu bahkan bapak bapak yang menjemput ataupun mengantarkan anaknya iri dengan keharmonisan kami. Padahal kenyataanya kami masih tunangan dan itu saja masih belum direstui orang tuanya mas Rehan.


" Aku angkat telpon dulu! " ucap mas Rehan setelah beberapa saat yang lalu handphonenya berdering dan aku jawabdengan anggukan kepala. Setelah itu pintu gerbang pun akhirnya terbuka dan banyak anak anak yang berlari keluar menuju orang tuannya.


" Bunda! " teriak Rian berlari ke arahku dan aku langsung menyambutnya adengan pelukan hangat.


" Permisi bu! Saya disiruh pak bos menjemput Rian! " ucap boby bodyguard Andrian dan di belakangnya juga ada banyak anak buahnya yang membuatku sepontan melepas pelukanku dari Rian. Menjemput Rian? Apa maksudnya dia? Bukannya sekarang waktuku untuk bersama Rian.


" Apa maksudmu itu! " ucapku berdiri dengan marah


" maaf saya hanya menjalankan perintah! " ucap boby kemudian menggendong Rian dan memasukanya ke dalam mobil. Rian hanya diam saja tanpa melawan, mungkin karena Rian sudah akrab dengan boby dan dia masih belum mengerti kejadian sekarang. Aku pun berlari ke mobil dan di cegah oleh anak buahnya.


" Rian! Rian! Apa yang kalian lakukan! Rian! Rian! " berteriak kepada mereka dan berusaha melewati mereka. Setelah mobil yang didalamnya ada Rian cukup jauh, mereka pergi dan masuk ke mobil mereka sendiri. Aku menghentakkan kakiku kesal dengan kejadian ini dan sedikit meneteskan air mata. Andrian! Wah! Aku tidak percaya dengan kejadian ini! Dia benar benar tidak main main dengan ancamannya! Tiba tiba saja handphoneku berdering dan terterap nama Andrian di layar. Saat ini aku sangat kesal dengannya, jangankan bicara lihat namanya sja aku sudah kesal! Tanpa basa basi aku langsung menutup telponnya dan lagi lagi dia mentelponku, tapi tetap saja aku menutup telponnya.


" Kenapa gak dijawab telponnya? Kemana Rian kok gak ada? " tanya mas Rehan yang sekarang sudah berada di sampingku setelah selesai mentelpon dan bertanya saat tidak melihat Rian tidak ada.


" Rian dibawa pergi sam suruannya Andrian dan yang dari tadi telpom itu Andrian! " ucapku dengan marah walaupun mas Rehan tidak tahu apa apa, malah aku jadikan dia pelampiasan amarahku. Maafkan aku mas Rehan. Tapi mau bagaimana lagi mas Rehan, aku sudah terbawa emosi. Tiba tiba saja handphoneku berdering dan kali ini bukan nama Andrian yang terterap di layar kacaku, tapi nama Adi. Berhubung Adi yang telpon, jadi aku mau mau aja mengangkatnya.


" Sebentar mas, aku mau jawab telpon dulu! " ucapku berpamitan ke mas Rehan dan mas Rehan hanya menjawabku dengan anggukan kepala. Aku sedik menjauh dari mas Rehan dan juga berada agak jauh dari sekolahnya Rian.


" iya Adi ada apa? " ucapku


" kamu dimana? " ucap seseorang yang membuatku kesal. Ya benar, itu Andrian yang saat ini sedang berbicara denganku di telpon menggunakan handphonnya Adi.


" Dengarkan aku Difa! Sekarang kamu dimana? Ini penting! " ucapnya tegas menghentikan jariku yang ingin mengakhiri pembicaraan kami .


" Kalau gue gak mau gimana? Emang gue mau dengerin omongan lo yang gak berbobot itu! Ingit Andrian kita sudah berpisah! " ucapku kesal


" Ella… " ucap Andrian yang aku potong, karena kau sangat kesal saat ini dan sekarang dia sebut sebut nama Selena yang membuatku semakin kesal.


" Selena! Selena! Selena! Aku tahu kamu sangat mencintai wanitamu itu! Tapi tolong jangan bicara tentang dia denganku! Ya aku tahu kamu sangat mencintai wanitamu itu, jadi gak usah buang waktuku untuk mendengarkan ocehanmu! " ucapku sangat sangat kesal dan lagi lagi aku ingin menutup telponya, tapi ucapan Andrian membuatku menghentikan jariku lagi.


" Tolong dengarkan aku kali ini saja! Ya maafkan aku jika aku ada salah! Tapi sekarang yang terpenting adalah kesalamatanmu! Sekarang Selena kabur dari rumah sakit jiwa! Mungkin sekarang dia berada di sekitarmu, takutnya dia berbuat nekat! Untuk perpisahan kita, bukan aku yang memutuskan semua itu, tapi orang tuaku! Kamu pasti sudah tahu dari Tino kalau aku koma selama dua tahun dan semua itu terjadi sebelum sidang perceraian kita! Apakah Tino tidak menceritakan tentang itu? " ucap Andrian yang masih membuatku kesal dengan katanya yang ' maafkan aku jika aku ada salah ' heran deh sama dia! Kenapa dia masih tidak merasa dengan semua tindakannya, tapi juga sedikit bahagia sih! Karena dia sudah tidak menyebut Selena dengan nama Ella. Tapi apa yang dia bilang tadi? Selena kabur dari rumah saki jiwa? Jadi selama ini Selena di rumah sakit jiwa! Mungkin itu alasannya kenapa Andrian tidak memenjarakannya. Berpikir positif saja, semoga saja pemikiranku dan sekaligus harapanku itu benar.


" Difa sekrang kamu dimana? " ucap Andrian dengan lembut


" gue? Tanya aja sama anak buah lo itu! Kemana… halo! Halo! Andrian! " ucapku yang tiba tiba saja telponnya di tutup yang membuatku tidak bisa berkata kata lagi untuk mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini. Aku hanya amenghembuskan nafas berat. Saat aku berbalik, tiba tiba saja mas Rehan memelukku. Aku kaget dengan tindakan tiba tiba mas Rehan.


" Mas Rehan ada apa? " tanyaku padanya, tapi dia hanya terdiam tanpa mengucapakan sepatah katapun dan secara tiba tiba badan mas Rehan semakin lemas. Aku spontan memekuknya dengan erat agat dia tidak terjatuh, aku merasakan cairan kental di punggung mas Rehan dan saat aku melihatnya, ternyata itu darah. Aku langsung melihat disekitar, siapa yang melakukan ini pada mas Rehan? Mataku terhenti saat melihat satu orang wanita mencurigakan sedang berlari menjahui kami. Wanita itu memakai pakaian rumah sakit dengan postur tubuh yang kurus. Seketika itu aku teringat kata kata Andrian tadi di telpon dan mungkin wanita itu adalah Selena.


Tubuh mas Rehan semakin lemas dan aku tidak kuat memopang tubuh besarnya. Akhirnya kami pun terjatuh, walaupun tidak terlalu keras tapi sudah cukup untuk membuatku kesakitan.


" Mas Rehan! Mas Rehan! Buka matamu mas Rehan! Aku mohon buka matamu! Tolong! Tolong! " ucapku dengan menangis dan berusaha untuk menyadarkan mas Rehah. Meminta tolong berkali kali tapi tidak ada yang menolong kami, karena kami berada di tempat yanv sepih penduduk. Saat ini persaanku capur aduk antara kawatir, sedih dan takut. Dengan tangan yang gemetar, aku langsung cepat cepat mengambil ponselku yang berada di celanaku menelpon ambulan.