
Jam di restoran menunjukkan pukul dua belas siang. Aku segera mengganti bajuku dan berjalan menuju tempat parkir restoran. Saat aku membuka pintu restoran aku mendapatkan pesan dari orang yang tak di kenal dari ponselku. Aku membuka pesan itu di ponselku dan rupanya si pengirim pesan itu Andrian.
678**
Saya tidak bisa jemput Rian sekarang. Tapi saya sudah mengirim asisten saya.
Anda
Gak usah gue aja yang jemput.
setelah aku mengirim pesan itu hanya di baca gak di jawab sama Andrian. Segitu sibuknya di sampai gak bisa jawab pesan. Tapi aku siapanya dia dan walaupun di jawab sama dia apa pentingnya bagiku, kan gak ada. Aku memasukkan ponselku ke dalam kantong, membuka pintu restoran dan berjalan menuju tempat parkir. Saat di parkiran aku bertemu dengan pak Rehan.
" Sudah aku bilang kan tadi, kamu saya antar jemput Rian!"
aduh aku lupa lagi tadi pagi kan pak Rehan mau mengantarkan aku menjemput Rian. Aku jadi gak enak nih sama pak Rehan. Aku mengikuti pak Rehan dari belakang menuju mobilnya. Sesampainya di sekolahnya Rian, Rian segera menghampiriku.
" Unda dimana papa?" ucap Rian setelah tidak menemukan keberadaan ayahnya di sampingku
" papa masih banyak pekerjaan jadi gak bisa jemput Rian"
" walaupun gak ada papa kan ada om," ucap pak Rehan keluar dari mobilnya
" om Lehan!" pekik Rian
kami pun segera masuk ke mobil dengan Rian berada di kursi belakang.
" Unda kapan kita ke taman belmain, kata unda becok kalau Ian libul cekolah, becok kan Ian libul"
oh ya sampai lupa dengan janjiku pada Rian untuk membawa Rian ke taman hiburan.
" Besok sama om ke sana"
" Benelan om?" ucap Rian yang di balas dengan anggukan oleh pak Rehan. Dan seketika Rian langsung berteriak dengan gembiranya.
" telus papa gimana?"
" papa Rian kan sibuk jadi Rian sama om dan bunda aja ya?" ucap pak Rehan yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Rian.
Pagi pagi sekali kami aku bangun dan menyiapkan keperluanku dan Rian. Menyiapkan baju ganti dan baju yang akan di gunakan Rian, menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk kita bertiga. Aku memasukkan semuanya ke dalam tasku dulu yang aku gunakan waktu masih kuliah. Aku pun membersihkan diri dan berpakaian santai. Aku memakai baju dress warna biru tua milikku dulu waktu kuliah. Semenjak ada Rian aku gak pernah membeli baju atau barang barang kebutuhanku. Yang terpenting bagiku saat ada Rian adalah memenuhi semua kebutuhan Rian tak terkecuali apa pun.,0 Setelah semuanya beres, aku membangunkan Rian dan memandikan Rian. Rian sebegitu gembiranya sampai gak mau sarapan, katanya takut terlambat. Daripada nanti dianya nangis jadi aku turuti kemauan lagi pula tadi udah bawa bekal. Setelah Rian sudah selesai bersiap siap kami pun turun ke bawah dan menunggu pak Rehan di lobby. Tidak menunggu lama pak Rehan menampakkan dirinya dan menuju ke arah aku dan Rian. Tidak menunggu waktu lama kami berangkat, berhubung bejadi pak Rehan mencarikan restoran untuk kita sarapan. Oh ya seharusnya sekarang ini aku masih harus bekerja tapi berhubung yang ngajak pemilik restoran itu sendiri jadi ya liburan dan gak perlu izin. Akhirnya kami pun sampai di salah satu restoran ternama di kota ini dan kami segera masuk ke restoran itu. Sebagai besar yang di restoran ini orang orang dari kalangan kelas atas yang pastinya ya mahal harganya jadi kan gak mungkin orang sepertiku datang ke sini kecuali ada yang bayarin. Aku duduk di depan pak Rehan dan Rian duduk di sampingku. Rian yang milih semua menunya katanya Rian dia pernah di ajak kemari sama ayahnya jadi dia tau apa menu yang ia suka. Semua menu yang di pesan Rian semuanya makan kesukaannya, aku dan pak Rehan hanya ngikut aja. Saat kita menikmati makanan ada seseorang yang menghampiri kita dan rupanya itu si Andrian. Kok bisa dia tau kalau aku dan Rian ada di sini bersama pak Rehan. Dan Rian langsung berteriak dengan gembiranya karena ada ayahnya dan menghampiri yang langsung di gendong sama Andrian.
" Lo kok bisa di sini sih?" ucapku dengan wajah tembok
" ini tepat umum jadi saya bisa di sini," ucap Andrian dengan wajah dinginnya dan duduk di sampingku tempat Rian duduk tadi dengan Rian berada di pangkuannya. Aneh Banget nih orang gak permisi dulu kek malah langsung duduk aja.
" Papa papa Ian nanti cama om Lehan dan unda mau ke taman belmain," ucap Rian dengan nada gembira
" kalian mau ke taman hiburan?" ucap Andrian yang menghentikan aktivitasnya menyuapi Rian
" iya saya yang mengajak Rian sama Difa," ucap pak Rehan dengan nada sama dinginnya
aku gak pernah sama sekali mendengar pak Rehan menggunakan nada dingin dan memasang muka datar seperti ini. Aku akui sekarang ini situasi yang benar benar canggung. Andrian hanya mengangguk angguk saja. Setelah kita selesai sarapan Andrian pergi menelfon seseorang entah siapa meninggalkan Rian duduk di bangkunya sendiri dengan memainkan ponselku dan sementara pak Rehan berada di kasir membayar makanan kita. Saat pak Rehan menanyakan makanan tadi dan katanya kasir itu makanan kita ada yang bayar. Saat pak Rehan bertanya siapa yang bayar dan kasir itu menunjuk Andrian yang sedang menelfon. Jarak tempat kami makan dekat dengan kasir jadi aku bisa mendengarkan mereka bicara. Dan kemudian pak Rehan menghampiri Andrian sepertinya sih pembicaraannya serius deh. Aku tidak bisa mendengar mereka berbicara karena jarak antara mereka dan aku terlampau jauh jadi aku hanya bisa melihatnya saja dari kejauhan. Setelah itu mereka kembali ke meja kami dengan muka yang tak bersahabat. Aku jadi penasaran apa yang perbincangkan tadi.
" Saya nanti ikut ke taman hiburan"
" Gak cuma saya, Rian dan Difa saja," ucap pak Rehan dengan nada tinggi
" tapi Rian itu anak saya," ucap Andrian dengan nada tinggi juga
jadilah cekcok diantara mereka yang membuat banyak pandangan orang ke arah kami yang membuatku muak dan harus bertindak jangan sampai terjadi bangku hantam di sini.
" Udah deh kalian berdua jangan bertengkar kayak bocah gak malu di lihatin banyak orang, jangan lupa ini tempat umum, kalian berdua itu orang yang berpendidikan dan terpandang, gue pergi sendiri sama Rian," ucapku melerai mereka dan langsung menggandeng Rian keluar dari restoran dan menghentikan taksi dan langsung menuju taman hiburan sendiri tanpa mereka. Aku tidak peduli apa yang terjadi di antara mereka setelah ke pergianku.