
Sudah dua tahun sejak perceraianku dengan Andrian. Rasanya berat tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan selama ini. Begitu juga dengan Rian, selama awal awal perceraian kami Rian selalu ingin pulang ke ruamah Andrian dan ingin bertemu dengan Andrian setiap harinya. Sementara Andrian tidak pernah menemui anaknya dalam dua tahun ini. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya!
Pada waktu itu saat Rian merengek ingin bertemu dengan Andrian. Agar Rian diam, aku pergi ke rumah Andrian untuk mepertemuakan Andrian dengan Rian. Tapi saat aku mengintip dari gerbang rumahnya, aku melihat rumah Andrian dengan keadaan kosong tidak ada seorang pun penghuni. pertanyaan yang tersemat dipikiranku, apakah Andrian pindah rumah? Apa mungkin dia sedang pergi? Rian tidak mau diajak pulang, ia ingin menunggu sampai Andrian pulang. Dengan segala upaya dan tipu daya, akhirnya aku bisa membujuk Rian untuk pulang. Apalagi aku dan Rian sudah menunggu di depan gerbang selama dua jam dan Rian juga sudah lelah.
" Difa! " ucap mas Rehan yang menyadarka aku dari lamunan masa laluku.
" Iya mas Rehan, " ucapku kaget. Oh ya sekarang aku tidak memanggil mas Rehan dengan sebutan pak lagi, karena besok aku dan mas Rehan akan melaksanakan pertunangan. Walapun awal awalnya rasanya cagung, tapi lama lama aku sudah terbiasa dengan sebutan itu. Selama dua tahhn ini, mas Rehan lah yang selalu ada di masa masa sulitku dan dia juga yang mengisi ketidak adanya Andrian sebagai ayah disisinya Rian. Karena alasan alasan itulah aku mempertimbangkan tawaran mas Rehan saat melamarku. Mungkin itu juga cara untuk melupakan Andrian. Tapi disisi itu orang tua mas Rehan tidak setuju dengan pertunangan ini. Alasanya adalah aku janda anak satu dan sebenarnya jauh hari sebelum mas Rehan mengenalkan aku ke orang tuanya, ternyata orang tuanya sudah menyiapkan wanita untuk menjadi istri mas Rehan yang merupakan anak dari sahabat ayahnya mas Rehan. Mas Rehan dengan tegas mengatakan kalau aku adalah wanita yang ia cintai dan dia tidak peduli dengan semua kekuranganku. Ia juga tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak sama sekali ia cintai. Ucapan mas seperti itu membuat orang tuanya terpaksa mengizinkan pernikahan ini.
" Coba kamu pakai cincin ini! " ucap mas Rehan menyerahkan cincin untuk pertunangan kami untuk aku coba. Kami sekarang berada di toko emas mencari cincin untuk pertunangan kami. Tadi setelah mengantarkan Rian ke sekolah, kami mampir ke toko emas ini.
Aku mencoba cincin itu dan ternyata pas di jari manisku. Aku juga suka dengan motifnya simpel dan elegan.
" Pas kok mas dan aku suka! " ucapku dengan tersenyum dan mas Rehan mengngguk paham.
" Saya ambil yang ini! " ucap mas Rehan ke mbak mbak penjual emas.
Setelah selesai memilih cincin, kami pergi ke gedung untuk melihat persiapan pertunangan besok. Persiapan disisi sudah lebih dari lima puluh persen dan kemungkinan besok pagi sudah selesai.Semua dekorasi gedung dirancang sesuai dengan keinginanku, begitu pula dengan baju yang kami kenakan besok. Maka dari itu, saat ini aku sangat sibuk memlih milih apa yang digunakan besok. Walaupun sudah hendle perancang gedung, tapi rasanya gak enak kalau tidak turun tangan sendiri. Sementara mas Rehan pergi karena ada urusan mendadak.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya untuk menjemput Rian ke sekolah. Aku meminta pak Rehan untuk menjemput Rian, karena saat ini pekerjaanku ssngat banyak dan tidak mungkin untuk menjemput Rian ke sekolah. Takutnya semua dekorai gedung tidak selesai. Aku menelpon mas Rehan untuk sekalian menjemput Rian dan membawanya ke gedung ini. Saat menutup panggilanku, aku mendengar teriakan Rian.
" Bunda! " teriak Rian yang sepotan membalikan tubuhku ke arah suara. Rian sekarang sudah berumur enam tahun, dia masuk kelas TK B dan juga dia tidak memagilku dengan sebutan 'unda' tepapi dengan sebutan 'bunda'. Tidak ada yang berubah dari Rian selalain postur tubuh yang tinggi. Rian menjadi anak yang paling tinggi dikelasnya.
" Rian? Jangan lari lari Rian! Nanti jatuh! " teriakku melihat Rian berlari ke arahku.
" Dimana om Rehan Rian? " tanyaku ke Rian, karena tidak melihat mas Rehan.
" Gak tau bunda, om Rehan langsung pergi setelah menurunkan aku, " ucap Rian polos
" Bunda! Bunda! " Ucap Rian yang tiba tiba sudah berada di sampingku dan menarik narik bajuku.
" iya ada apa Rian? " ucapku lembut
" bunda! Rian mau es krim yang disana bunda? " ucap Rian menunjuk es krim keliling yang berada di sebrang jalan.
" Iya Rian nanti kalau bunda selesai akan bunda berikan banyak! " Ucapku lembut sambil melakukan pekerjaanku
" gak mau bunda! Rian maunya sekarang! " Ucap Riang merengek
" ya udah, tunggu bunda nyelesaikan ini dulu ya? Gak lama kok, cuma tinggal sedikit! " Ucapku yang masih melakukan pekerjaanku dan saat menengok ke arah Rian, Rian sudah tidak ada di tempat. Pandanganku langsung tertujuu ke arah pintu, karena di dalam pikiranku pasti Rian akan ke es krim keliling itu. Dengan sigak aku berlari mengikuti Rian dari belakang dan berusaha menyusul Rian. Saat berada di ambang pintu, aku medengar suara tabrakan. Saat melihat ke jalan, aku melihat Rian yang pngsang di pinggir jalan dengan darah yang mengalir dari kepalanya dan mobil yang menabrak Rian langsung pergi.
Aku yang melihat Rian seperti itu, langsung berlari ke arahnya. Ranya hatiku hancur dan nyawa ini serasa melayang, air mata sudah mengalir tak terkendali.
" Rian! Rian! Tolong bangun nak! Rian dengar bunda kan? Rian bunda disini kamu mau beli es krim itu kan? Bunda akan berkan, tapi Rian harus bangun dulu! Rian! Rian! Bangun Rian! Tolong saya! Tolong selamatkan anak saya! " Ucapku memangku Rian yang sedang tak sadarkan diri ke arah orang orang yang mengelilingi kami dan kandaraan kendaraan yang berhenti.
Tidak lama setelah itu, ambulan datang, aku iku berada di dalanya. Aku melihat dua orang yang ada di dalanya sedang melakukan pertolongan pertama untuk Rian. Sesampainya di Rumah sakit Rian langsung di masukkan ke IGD. Sekarang aku beeduri di depan ruangan Rian. Hal pertama kali yang aku pikirkan adalah menelpon mas Riaha.Aku menelpon mas Rehan dengan gemetar.
" halo! Difa! Diafa? " ucap mas Rehan karena aku lama tidak bersuara
" Ma mas Re Rehan, Ri Rian mas! Aku tidak tau keadaan Rian sekarang! Aku takut terjad apa apa! " Ucapku dengan cepatdan kembali menagis, aku tidak kuat mengatakanya.
" Difa kamu tenang dulu, setelah itu kamu katakan! " Ucap mas Rehan menenagkan aku, setelah cukup lama aku menghentikan tangisanku.