Single Perents

Single Perents
bagian 20



Setelah menidurkan Rian, aku mendengar keributan di bawah. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku pun turun untuk melihat apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. Setelah aku menuruni tangga dan tempatnya berada di ruang tamu, aku melihat Selena yang di rangkul Andrian dan mengigau gak jelas, eh kalau dibilang mengigau masalahnya dia gak tidur, ah terserah deh bingung aku menggambarkan situasinya dia sekarang, pokoknya dia ngegumam gak jelas kayak orang gila perempatan dan juga aku gak tau apa yang terjadi pada dia? kenapa seperti itu? dan drama apa lagi yang dia mainkan sekarang? aku butuh informasi nih buat ngegagalin modus dia. Aku melihat setiap sudut ruangan untuk mencari orang yang sekiranya cocok buat narasumberku dan tidak lama setelah itu aku melihat Adi masuk dengan membawa tas dan sepatu hak tinggi milik Selena. Wah ini dia orang yang aku cari lima menit lamanya, setelah aku lelah mencarinya dan akhirnya aku mendapatkan orang yang tempat untuk melakukan pekerjaan ini, hah hah hah TUNGGU PEMBALASANKU SELENA! Tidak membuang waktu lama lama, aku segera menghampiri Adi. Disini ada banyak orang, mbok Surti, Boby, Joko, tapi pilihanku jatuh pada Adi, karena cuma dia yang aku andalkan.


" Adi, " ucapku berbisik sambil menepuk pundaknya


" iya, ada apa? " ucap dengan mode formal Adi menoleh ke arahku


" oohh Difa, kirain siapa? " ucap Adi dengan mode biasa


" emangnya siapa? sekertaris itu ya? " ucapku penasaran dan sedikit nada menggoda, dengan senyam senyum


" enggak, " ucapnya dengan nada membentak yang seketika membuat senyumku memudar.


" oh ya kenapa kamu manggil aku, ada hal serius? " ucap Adi mengalihkan pembicaraan mungkin setelah liat perubahan ekspresiku


" oh ya gue mau nanya, emangnya ada apa sama si inces kw itu? "ucapku agak sinis


" inces kw? " ucap Adi dengan ekspresi bingung


" maksut gue si Selena, " ucapku memperjelas lagi, ealah Adi Adi kirain ngerti apa yang aku ucapkan tadi, ternyata dia gak se ambnyar Tino, kan gak seru kalau kayak gini.


" oh Selena, dia habis mabok, " ucap Adi dengan ekspresi wajah sedih.


" oh ternyata gitu, " ucapku berbisik


" apa? " ucap Adi mungkin dengar apa yang aku bisikkan pada diriku sendiri


" enggak, ya udah thanks ya! "


" Iihh alay banget, cuma mabok aja sampai kayak git! dulu aja waktu gue kecil pernah ngalamin kayak gitu, saat pertama kali naik mobil sewaan, dan cuma dikasih minyak angin sama minum teh anget aja udah baikan lagi, gak sampai kayak gitu tuh! " ucapku sinis dan dengan nada tinggi pastinya. Dan seketika semua mata tertuju ke arahku serta semua orang yang ada di ruangan ini menghentikan aktivitasnya. Oh aku tau sekarang, kenapa orang orang tercengang mendengar aku bicara kayak gitu? mungkin di pikirkan mereka, cewek secantik, sebaik dan semanis kayak aku ternyata bisa sinis juga. Tapi saat aku melihat mereka sekalu lagi, orang orang pada menahan tawa semua, ya terkecuali di Selena yang berusaha melepaskan rangkulan Andrian. Kenapa mereka aneh banget, apa jangan jangan tertular virus dramanya si Selena lagi, bisa gawat nih, nanti aku kewalahan membuka kedok mereka satu persatu. Karena sibuk dengan menahan tawanya, tanpa Andrian sadari bahwa Selena sudah lepas dari rangkulannya dan mulai berjalan menuju ke arahku dengan sempoyongan ( gaya berjalan khas orang mabuk ).


" Kamu! " ucap Selena yang agak gak jelas dan dengan nada tinggi, serta menunjuk ke arahku


" gue, " ucapku menunjuk diriku sendiri dengan ekspresi wajah bingung, setelah melihat ke kanan, ke kiri dan ke belakang untuk mencari keberadaan orang yang di tunjuk Selena dan ternyata tidak ada, yang berati itu menuju ke arahku.


" Iya iya, gara gara kamu hidupku jadi berantakan seperti ini, aku kehilangan semuanya gara gara kamu! " ucapnya sama dengan nada tinggi dan agak gak jelas. Setelah mengatakan semua itu Selena jatuh pingsan di hadapanku dan seketika semua orang berhamburan datang ke arah Selena untuk membantunya, dan sementara aku yang berada di depannya hanya diam mematung mencerna perkataan Selena yang tidak sama sekali aku mengerti. Apa ya? kira kira yang aku ambil darinya, bukakan kah dia yang akan mengambil semuanya dariku dan apa maksudnya berantakin hidupnya? emangnya hidupnya itu mainannya yang selalu di berantakin sama Rian, aneh banget. Dan saat aku ingin mengucapkan apa yang aku pikirkan, semua orang sudah tidak ada seakan akan hilang begitu aja di telan bumi, tapi untungnya masih ada Adi di hadapanku.


" Maaf, " ucapnya menyesal


" untuk apa? " ucapku yang bingung dengan permintaan maafnya


" karena gak jelasin, Selena itu mabuknya dikarenakan apa? " ucap Adi dengan ekspresi wajah penuh penyesalan. Emangnya Selena mabuk karena apa?


" Seharusnya aku jelaskan terlebih dahulu bahwa Selena itu mabuknya bukan karena kendaraan, tapi karena minum minuman keras, " lanjutnya, apa!! jadi tatapan tercengang mereka bukan karena yang kau pikirkan tadi, tapi karena kata kataku yang nyeleneh dan gak masuk akal. Ah aku jadi malu nih! sepertinya besok aku harus melakukan hibernasi dan tidak meninggalkan kamar.


" Maaf ya? " ucapnya yang kemudian naik ke lantai atas, aku hanya diam tanpa merespon kata maafnya dan setelah itu mengacak acak rambutku frustrasi. Sepertinya aku gagal menjadi pahlawan di mata mereka yang memberantas mereka yang tukang drama. Aku dengan lemas naik ke tangga dan menuju ke kamarku. Dan saat aku membuka pintu, aku melihat Andrian yang membaringkan tubuh Selena di kasurku.


" Ngapain kalian ada di kamar gue! " ucapku dengan kesal bercampur dengan amarah yang menggebu gebu


" untuk sementara Selena tinggal di kamar ini, " ucap Andrian dengan seenaknya


" kalau Selena di kamar gue, trus gue tidur di mana? " ucapku sinis


" terserah anda mau tidur dimana? asalkan tidak di kamar ini, " ucap Andrian dengan gampangnya yang membuatku tambah kesal. Aku pun langsung menutup pintu dengan kerasnya dan sampai sampai bisa terdengar di seluruh penjuru rumah. Aku pergi dari sana dengan menghentakkan kakiku menuju kamar Rian, karena cuma kamar Rian yang ada di pikiranku saat ini untuk tempat yang aku tiduri. Dasar Andrian seenak jidatnya dia ngusir ngusir aku dari kamar aku sendiri! bayangkan di kamar aku sendiri! emangnya gak ada kamar lain selain kamarku, kan masih banyak kamar tamu yang kosong dan apa lagi mereka tidur berdua lagi di kamarku. Saat aku sudah berada di depan pintu kamar Rian, aku membuka pintu itu perlahan lahan agar tidak membangunkan Rian dan tidur di ranjang yang lumayan sempit sih untuk kita berdua.