
Ambulan ini melaju dengan kencang melewati jalan yang renggang itu. Aku menangis tiada henti sepanjang perjalanan, takut kehilangan orang yang sekarang sedang berbaring dengan alat bantu nafas. Dua orang yang sekarang sedang berusaha memberikan pertolongan pertama pada mas Rehan. Tidak lama setelah itu, kami pun sampai di rumah sakit dan disambut dengan brankar dorong dan masuk ke ruangan IGD. Pintu IGD tertetup dan aku hanya bisa menunggunya di luar. Aku duduk sambil melihat tanganku gemetar belumuran darahnya mas Rehan.
Semua ini salahku! Andaikan saja aku tidak mengangkat telpon itu, mungkin mas Rehan tidak akan seperti ini! Andaikan saja aku berbalik lebih cepat satu detik saja, Dia tidak akan menyelamatkan aku dan tidak memperdulikan nyawanya. Bagaimana ini! Aku takut kalau mas Rehan tidak selamat! Kenapa dia melakukan itu! Seharusnya dia bisa melihatku saja atau mungkin membiarkan aku tertusuk yang membahayakan nyawanya!
" Difa! " ucap seseorang dengan lembut dan saat aku mengangkat kepalsku, orang itu ternyata Adi. Dia membuka tisu basah yang ada di tanganya, jongkok dihadapanku, meraih tanganku dan mulai membersihkan tanganku dari bekas darah mas Rehan.
" Andrian yang menyuruhku ke sini untuk mendampingimu, " ucapnya setelah selesai dan menatapku sambil tersenyum. Setelah mendengar nama Andria, sejetika itu aku teringat Rian. Bagamana dengan Rian? Apakah dia sudah sampai dengan selamat? Pertemuan yang sekilas dan setelah yang terjadi pada mas Rehan, mumbuatku khawatir.
" Bagaimana dengan Rian? Apakah dia sudah sampai? " ucapku khawatir
" di dia baik baik saja dan sudah sampai dengan selamat, " ucap Adi setelah sekian lama yang membuatku curiga. Tidak! Tidak! Difa hilangkan pikiran negatifmu! Bukannya Adi sudah mengatakan kalau Rian baik baik saja, berati ya baik baik saja.
" Aku sudah mengurus administrasi dan menelpon orang tua Rehan, " ucap Adi yang menurutku untuk menvalihakan pembicaraan kami tentang Rian. Entahlah kenapa setelah berkali kali aku menghilangkan pikiran negatifku, tapi tetap saja tidak bisa. Rian, sebenarnya apa yang terjadi padamu nak! Bunda sangat khawatir. Tanpa berpikir panjang lagi aku menelpon Andrian.
" Dia tidak akan mengangkatnya, " ucap Adi. Tidak akan mengangkatnya? Apa sebenarnya maksut Adi?
" Apa maksudmu? Kenapa Andrian tidak mengangkat telponku? " ucapku yang tidak tahu apa maksud perjataannya.
" Ya ya karena karena dia selalu mematikan telponnya saat bersama Rian, dia tidak mau kebersamannya dengan putranya ada terganggu, " ucapnya yang mulai bisa dilogika dan cukup untuk menghilangkan pikiran negatifku. Karena aku tahu Andrian sangat menyayangi putranya itu melebihi apapun.
Tiba tiba saja pintu IGD terbuka dan dokter yang memeriksa mas Rehan keluar. Aku dan Adi langsung menghampirinya dan menanyakan apakah mas Rehan baik baik saja?
" Lukanya tidak dalam dan untung saja tidak mengenai organ fital dan besok dia sudah bisa pulang! " ucap dokter itu dan kemudia pergia. Setelah mendengar perkataan dokter itu, akhirnya aku bisa bernapas dengan lega. Untung saja tidak terjadi apa apa dengan mas Rehan, kalau tidak, pasti aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!
Setelah dipindahkan ke kamar rawat inap aku selalu memegang tangannya dan duduk di samping ranjang tidurnya. Dia hanya tidur pulas dari tadi dan masih belum bangun yang membuatku khawatir. Aku khawatir jika dia tertidur dan tidak bisa bangun lagi. Aku hanya memendangi ejah pucatnya dan berharap dia segera membuka matannya.
Tidak lama setelah itu, tiba tiba saja dia membuka matanya dengan perlahan dan memanggil namaku.
" Mas Rehan! Bagaimana keadaanmu? " ucapku khawatir
" Di Difa! Air! " ucapnya dengan suara paruh. Dengan sigab aku langsung mengambilkan dia air dan membantu meminumkannya.
" Sudah! " ucapnya setelah meminum dua teguk. Aku meletakkan gelas yang masih berisi air itudi atas meja.
" apa? " ucapku dengan lembut
" jika bersamaku, kamu akan terluaka, maka pergilah! Aku tidak ingin mengorbankan kebahagianmu demi diriku, " ucapnya tiba tiba
" apa maksutmu mas Rehan? " ucapku yang tidak paham apa yang dia ucapkan itu. Kenapa dia tiba tiba berkata seperti itu?
" Aku tahu kalau Andrian akan memisahkanmu dengan Rian, jika kamu menikah denganku! Aku juga tahu kalau Rian adalah hidupmu dan kebahagianmu, aku tidak ingin bersikap egois dengan menahanmu untuk tetap disampingku! " ucap mas Rehan sambil meneteskan air mata begitu juga denganku. Aku juga bingung dengan keadanku saat ini. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan mas Rehan, tapi aku tidak bisa hidup tanpa kehadiran Rian.
" Aku mencintaimu mas Rehan! Aku ingin menghabisakan sisa hidupku dengan mu! " ucapku terisak
" aku tahu, aku juga ingin menghabisakan sisa hidupku denganmu Difa! Tapi aku bukanlah orang jahat yang membiarkan ibu dan anak terpisah! " ucapnya sambil menghapus air matanya. Aku semakin terisak mendengar perkataanya. Kenapa hidupku menjadi seperti ini? Kenapa aku harus dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit ini?
" Maafkan aku yang tidak berdaya ini, Difa! " ucapnya sambil menghapus air mataku. Andrian! Kenapa kamu melakukan semua ini padaku? Apa salahku padamu Andrian! Kenapa kamu tidak henti hentinya menyakiti diriku Andrian! Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan padaku? Sampai kapan kamu mengacaukan kebahagian yang telah aku bangun?
" Baikalah! Jika ini yang mas Rehan inginkan, tapi izinkan aku merawatmu sampai sembuh! " ucapku setelah isak tangisku berhenti.
" Bailah! " ucapnya setuju. Setidaknya dengan ini akan mengurangi penyesalanku karena setuju dengan apa yang kamu katakan. Ini akan menjadi perpisahan yang damai, namun menyakitkan.
" Apa kamu lapar? Aku belikan kamu makan ya? " ucapku dengan tersenyum menghentikan keheningan yang tejadi.
" Iya, masakan rumah sakit sangat tidak enak, " ucapnya dengan tersenyum. Walaupun kami saling memberiakn senyuman, tapi hati kami tetap sakit dan senyuman itu hanyalah topeng agar kami merasa baik baik saja satu sama lain.
" Oke! Dengan cepat aku akan membelikan makanan untukmu! " ucapku kemudian pergi.
" Difa! " ucapnya memanggil diriku saat diambang pintu.
" Iya, ada apa? " ucapku berbalik mengahadap kearahnya.
" Berhati hatilah dengan Selena dan anak buahnya! " ucapnya memeringatkan aku. Aku masih tidak paham dengan yang dia katakan barusan. Berhati hati? Kenapa? Tanapa bertanya lagi aku langsung pergi dari ruangan itu, setelah menutup pintu, aku langsung pergi ke kamar mandi, tidak memperdulikan Adi yang sejak tadi meneriaki namaku. Sebelum sampai di kamar mandi air mataku meluruh tanpa bisa aku hentikan, dengan kasar aku menghapusnya.
Aku sangat menyesali diriku yang tidak mencintai mas Rehan dari dulu sebelum Andrian masuk dalam hidupku. Aku sangat menyesali saat aku menolak mas Rehan dan memilih bersama Andrian. Mungkin jika dari dulu aku mencibtai mas Rehan dan memilihnya, kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Mungkin hidupku akan tenang dan bahagia bersama dengan mas Rehan, bukan berantakan bersama Andrian. Tapi aku juga menyadari, walaupun hidupku berantakan, Andrian masih memberikan kenangan indah untuku.