
Akhirnya resepsi pernikahan yang melelahkan itu berakhir juga, kalian tidak tau betapa lelahnya aku sekarang sampai sampai berjalan aja sempoyongan. Bagaimana gak lelah tadi duduk cuma sebentar ada tamu berdiri lagi, duduk lagi berdiri lagi terus deh begitu sampai habis semua tamu yang diundang dan tamu yang diundang sekitar lima ratus orang, sampai heran aku itu ngundang orang se provinsi banyak banget. Aku cuma mengundang keluarga dan teman dekat cuma sekitar dua puluh orang dan sisanya yang ngundang ya si Andrian. Dan disinilah aku sekarang memakai baju pengantin berada di bawah panggung bersama dengan teman rese ku itu. Sementara Andrian pergi entah kemana aku tidak tau mungkin itu penting karena setelah resepsi pernikahan pergi begitu saja. Dan untuk Rian sudah tidur dari tadi dan sekarang Rian berada di rumah kakeknya untuk tiga hari kedepan, katanya sih untuk memberikan privasi antara aku dan Andrian.
" Kenapa lo nikah gak ajak ajak gue sih? "
" emang lo punya calon? " ucapku dengan wajah mengejek
" serem banget tuh wajah! ya cariin dong temanku yang baik, cantik, pintar dan cute jadi biar gue gak malu saat ditanyain dinikahan adik gue, rencananya sih ada e lo yang temenin gue sebagai jomblo, eh ternyata lo sekarang udah nikah mana cepet lagi! "
" kurang satu pujian lo, nanti gue bantu! "
" apaan ya? perasaan udah lengkap tuh! " dan si Reta lama banget memikirkan kurangnya satu pujian buat gue yang akhirnya membuat ku geram
" suka menolong Bambang "
" nama gue bukan Bambang "
" trus siapa? Tarjo? "
" gue perempuan! "
" oh ya gue lupa lo perempuan, trus apa dong? serah lo dah! " ucapku dengan nada yang sedikit meninggi dikata kata terakhiryang membuat bingung dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan dengan wajah yang bersalah. Mungkin dia bingung ya? yang seharusnya marah itukan dia bukan aku.
" Ya maaf, trus gimana tolong cariin calon dong, tetangga lo kek, mungkin teman atau anak buah Andrian? "
" oh ya ada anak tetangga gue juga jomblo dan sama kayak lo gak laku laku! "
" siapa siapa sebutin dong nama dan ciri cirinya! " ucap Reta dengan antusias
" namanya si Thomas dan ciri cirinya hidung mancung, mata bundar dan wajah sedikit bundar "
" orang luar negeri ya? "
" iya, itu dia Thomas, Thomas! " ucapku saat melihat tetanggaku dengan menggendong Thomas dan berteriak memanggilnya. Aku pun langsung menghampiri tetanggaku itu dan menggendong Thomas. Dan sementara Reta diam mematung dan melongo yang membuatku tidak bisa menahan tawaku. Kenapa aku bilang kayak gitu emang bener tetanggaku itu menganggap kucing itu seperti anaknya sendiri, dia melakukan itu karena dia dan suaminya sudah lama tidak dikaruniai seorang anak. Dan kucingnya itu saat di komplek perumahan selalu dijauhi oleh kucing betina yang ada disana. Setiap kali dia mendekat selau dijauhi dan menurutku nasib yang dialami kucing itu sama dengan Reta.
" Ini calon yang lo maksud, masak kucing juga Difa, " ucap Reta frustasi
" tapi perlu lo tau nasib kucing ini sama persis dengan lo! "
" rese lo masak samain gue sama kucing sih! " ucap Reta dengan cemberut
aku pun tertawa dengan lepasnya setelah mendengar kata kata Reta dan tetanggaku itu juga ikut tertawa.
" Ya udah gue pulang! " ucap Reta dengan kesal
" lo ngambek? " ucapku dengan sisa sisa tertawaku dan Reta pun langsung pergi gitu aja. Tetanggaku itu pun langsung berpamitan untuk pergi dan aku langsungmengejar Reta.
" Lo ngambek? " ucapku sekali lagi setelah bisa mengerjakan Reta dan memegang tangannya
" gak gue mau pulang ngantuk, " ucap Reta dengan muka datar
" beneran, gue tadi cuma bercanda maap ya! "
" oke oke gak usah kwatir, " ucap Reta dan setelah itu pergi
Saat aku kembali ke tempat itu aku bertemu dengan seorang pemuda yang sepertinya wajahnya tidak asing. Yang membuatku heran pemuda itu membawa koper kedalam. Aku hanya melihat tindakan anak muda itu.
" Kok udah selesai sih, mana gak ada orang lain! "
karena rasa penasaranku semakin tinggi aku pun langsung menghampiri pria itu dan menepuk pundaknya agar menengok kearah ku.
" Eh kakak ipar, " ucapnya cengengesan
kakak ipar? apa sih maksud orang ini kenal aja enggak tapi pernah liat, tapi siapa? dan dimana?
" Lo siapa? "
" kenalkan kakak ipar, saya Tino adiknya kak Andrian, " ucap pemuda yang bernama Tino dengan menjulurkan tangannya dan aku pun dengan ragu ragu menerima juluran itu.
" Tapi gue gak pernah liat lo dan Andrian gak pernah tuh cerita tentang lo! "
" ya ya lah lima hari ini aku dibuang keluar negeri sama tuh orang, oh berati kakak ini yang namanya Difa kan yang menjadi pelayan restoran langgananku itu kan? "
aku hanya menganggukkan kepala dan Tino menceritakan tentang saat setelah dia memfoto Rian. Jadi setelah memfoto Rian dia langsung menunjukkannya pada kakaknya yang berada di kantor dan ternyata didalam ada tangan kanannya yang sendang membicarakan sesuatu. Setelah itu Tino memberitahu pada kakaknya bahwa ada anak yang wajah serta perilakunya sangat mirip dengannya dan dia langsung menunjukkan foto itu.
' ada apa? ngapain kamu kesini! ' ucap Andrian kesal karena perbincangan tentang bisnisnya dengan Adi diganggu Tino
' kak kak lihat lihat ada anak yang sama persis seperti kakak! ' ucap Tino dengan antusias
' trus kenapa? sekarang kamu pulang jangan ganggu kakak lagi! ' ucap Andrian setelah melihat foto itu dan memberikan hp Tino
' tunggu tunggu, coba saya lihat fotonya, ' ucap Adi menghampiri Tino dan Tino pun memberikan hp itu.
' Dri bukan kah anak ini wajahnya persis sama kamu, atau mungkin anak ini yang kita cari selama ini, ' ucap Aji menunjukkan kembali foto itu dan Andrian hanya mengangguk anggukan kepalanya
' mungkin, sekarang perintahkan anak buah itu menyeliki! ' perintah Andrian ke Adi, Adi pun menunduk hormat dan setelah itu langsung pergi dengan membawa hp milik Tino.
' Woy hp gue! ' ucap Tino berteriak ke Adi setelah Adi menutup pintu ruangan itu
' kak gimana hp ku, ' rengekan Tino
' nanti aku belikan yang baru! ' ucap Andrian yang kembali bergelut dengan laptopnya
' beneran kak, ' ucap Tino yang hanya dijawab dengan deheman
' kakak! ' teriakan Tino dengan posisi tangan ingin memeluk yang langsung dihentikan oleh Adrian dan menyuruhnya untuk pulang. Dan tidak lama setelah itu Tino mendengar pembicaraan Andrian dengan Adi saat mampir di kantor Andrian. Dia mendengar bahwa anak yang dia foto itu keponakannya anak dari Andrian dan kepergok kakaknya saat dia berada didepan pintu, dengan pintu sedikit terbuka. Dan sejak saat itu Tino dikirim ke luar negri oleh kakaknya, katanya sih untuk liburan.
" Ya gitu deh kak, mungkin kakak mengirimku ke luar negeri agar aku gak ember ke papa sama mama, tapi percuma setelah itu aku langsung memberitahu mereka! " ucap Tino dengan bangganya
aku hanya mengangguk anggukan kepala, oh jadi yang lapor itu Tino, apa Andrian tau ya soal ini ya? Apa aku bilang saja ya ke Andrian?
" tapi kak, jangan beritahu kakak ya? pliss, " ucap Tino memohon dengan merekatkan tangannya
" iya iya"