
Tidak terasa sudah tiga bulan dan besok adalah hari pernikahan aku dan mas Rehan. Lebih cepat dari perkiraan! Entahlah apa yang ada dipikiran mas Rehan hingga memajukan pernikahan kita dan parahnya kita tidak melakukan pertunangan. Menurutku hal ini ada hubunganya dengan kejadian tiga bulan yang lalu di mobil. Mas Rehan melakukan semua persiapan pernikahan tanpa sepengetahuantu, mulai dari tanggal, bulan, gaun, dekorasi, undangan dan bahkan gedung. Dia merencanakan semua itu diam diam dan yang bikin aku geleng geleng kepala, baru kemarin aku diberitahu tanggal pernikahannya! Parah banget kan dia!
Tapi kalau aku diberitahu, pastinya aku menolaknya dan alasanku tetap sama bahwa bu Sari itu tulus mencintainya dan aku hanya memanfaatkannya. Tentu saja mas Rehan akan kembali mengatakan bahwa dia tidak peduli dimanfaatkan aku berkali kali. Entahlah apa yang ada dipikirannya! Kalau aku jadi dia, aku akan marah dan gak akan mau dimanfaatkan. Kesimpulannya, tidak ada orang yang mau dimanfaatkan kecuali mas Rehan. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku menghindari pernikahan ini? Kasian, mereka berdua adalah orang orang baik dan aku tidak ingin menjadi tokoh antagonis diantara mereka. Apa yang bisa aku lakukan dalam waktu sesingkat ini? Aku mengacak acak rambutku kasar, karena frustasi.
Tiba tiba saja pintu apartemenku terbuka dengan keras dan saat aku melihat ke sumber suara, ternyata Andrian pelakunya. Aku menghembuskan nafas melihat kelakuan orang itu. Datang gak ketuk pintu, main masuk aja ke rumah orang. Oh ya darimana Andrian tahu kode pintu apartemen? Bukannya aku dan Reta saja yang tahu?
" Ada apa? " ucapku malas
" Apa benar kamu akan menikah sama Rehan? " ucap Andrian marah dengan menujukan undangan berdiri dihadapanku.
" Iya! Kenapa? " ucapku malas meneladeni orang didepanku ini dengan posisi duduk sama seperti tadi, duduk di sofa ruang tamu menghadap orang itu.
" Batalkan pernikahan itu atau aku tidak mengizinkan kamu bertemu dengan Rian! " ucap Andrian mengacamku dengan ekspresi wajah datar. Hal itu semakin meperumit suasana.
" Kamu ingat? Kamu yang penyebab kecelakaan Rian! " lanjutnya yang membuatku spontan berdiri. Aku? What! Bukanya si Selena kekasihmu itu yang penyebab kecelakaan itu? Dikira aku belum tahu. Adik angkat kamu Tino yang menceritakan semuanya ke aku! Dia mendapatkan info ini dari kedua orang tuanya. Katanya Tino, Bukan hanya penyebab kecelakan Rian, ternyata Selenq juga penyebab hilangnya Andrian selama dua tahun ini. Ternyata selama dua tahun ini Andrian terbaring koma di rumah sakit dikarenakan ditabrak Selena dengan kecpatan tinggi saat Andrian ingin mengejarku di reatoran waktu itu setelah acar pernikahan adiknya Reta.
Setelah mendengar aku, aku merasa Andrian masih memperjuangkan pernikahan ini! Hqnya saja kejadian yang tak terduga yang mencegahnya. Tapi saat Tino mengatakan Andrian tidak mau mengangkat kasusu itu dan tetap saja diam dan karena itu juga Selena tambah nekat, sampai sampai menabrak Rian. Seketika itu juga aku marah dan bersamaan terjatuh ke titik terendah , setalah berharap terlalu tinggi ke Andrian. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan! Bisa bisanya setelah kejadian itu dia tetap diam dan malah menyalahkan aku atas kecelakaan itu. Tapi bukan dia saja yang menyalakan aku, keluarganya juga menyalakan aku atas kejadian yang menimpa Andrian dan Rian.
Padahal waktu itu Rian masih berada diterotor jalan, hanya saja Selena sengaja melakukannya dan untu kasus Andrian, mana aku tahu! Aku tidak ada dalam kejadian! Kenapa menyalahkan aku? Andrian tetap diam walaupun orang keluarganya menyalakan aku! Aku tidak apa apa disalahkan, setidaknya dia memikirkan tentang anaknya! Kita kan tidak tahu, mungkin saja Selena mengulangi hal ini! Dengan menuntut Selena akan memberikan efek jera pada Selena. Andrian itu lebih menyayangi Selena daripada anaknya. Rasa cintanya ke Selena teramat besar dan sekarang dia mengatakan ini hanya untuk mempermainkan aku lagi! Oh tidak bisa! Aku bukanlah Difa dua tahun yang lalu yang jamu permainkan berkali kali dan kalau memang dia tidak mau aku melanjutkan hidupku, kenapa dia setuju setuju aja saat aku meminta dia untuk bercerai?
" Tidak akan! " ucapku dengan nada tinggi, menolak mentah mentah.
" Udah deh pak Andrian terhormat! Jangan mencampuri kehidupanku lagi! Ingat kita sudah bercerai! Hidupmu adalah hidupmu dan hidupku adalah hidupku! Jalan kita sudah berbedah! " ucapku tegas dan tiba tiba saja dia pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia mengaku kalah sebelum berdebat denganku. Ya iya dong! Aku adalah Difa Putriana, yang gak akan kalah kalau urusan berdebat!
Bagaimana kalau ancaman Andrian gak main main? Aku takut, aku gak bisa bertemu dengan Rian lagi! Aku takut kehilangan Rian! Rian adalah anakku! Andrian! Kenapa kamu membemberikan ancaman yang berat padaku dan dengan alasan seperti itu! Kamu masih menyalkan aku tentang hal itu Andrian? Meski kebenaran sudah terbuka!
" Gak papa, cuma kelilipan, " ucapku bohong
" ooohh! Andrian kan yang membuat lo nangis? " ucap Reta yang membuatku terkejut. Bagaimana Reta bisa tahu?
" Aku tadi melihat mobil Andrian keluar dari parkiran apartemen dan siapa lagi yang bisa membuat lo nangis kalau bukan Andrian! " ucap Reta dengan raut wajah marah. Aku akui Reta sangat sangat membeci Andrian, karena Andrian sudah membuatku menangis berkali kali.
" Bener bener orang itu ya! Gak ada habis habisnya nyakitin lo! Padahal kalian sudah berpisah dan besok lo sudah menikah! Dia tetap saja mengganggumu! " ucap Reta marah marah dan aku hanya diam menyimak.
" Apa yang dia katakan sama lo? " tanya Reta
" gak ada, " ucapku singkat tanpa berniat memberitahukan Reta tentang kejadian itu, karena aku bisa menghadapi semua itu sendiri. Yang aku lakukan hanya membatalkan pernikahan ini, itu saja!
" Terserah lo dah! " ucap Reta kesal karena aku tidak mau memberitahu Reta tentang masalahku. Setelah itu dia pergi ke meja makan dengan menghentakkan kakinya, menaruh makanan yang dia beli tadi dan memakannya dengan kesal. Tiba tiba saja suara bel pintu berbunyi. Saat aku membukannya, ternyata orang itu adalah mas Rehan. Kenapa mas Rehan kesini?
" Mas Rehan? " ucapku kaget
" kamu gak siap siap? " ucap nas Rehan yang masih di ambang pintu.
" Siap siap? " ucapku yang masih tidak paham dengan ucapan mas Rehan.
" kan sekarang waktunya jemput Rian! " ucap nas Rehan. Oh iya sekarang Rian sudah pulang sekolah! Aku pun langsung bersiap siap dengan cepat. Setiap pulang sekolah sampai jam tujuh malam waktuku bersama Rian. Karena jam jam segitu Andrian masih sibuk di kantornya, kecuali Andrian libur.