
Sudah dua minggu sejak Rian masuk rumah sakit dan hari ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Aku sudah mebereskan semua pakaian Rian untuk dibawa pulang. Rian sangat senag saat dokter bilang diperbolehkan pulang, dari satu minggu kemarin saat keadaanya sudah mulai membaik dia sudah ingin pulang. Tapi mau bagaimana kalau dokternya gak ngebolehin. Aku mencoba membujuknya setiap kali dia ingin pulang, mulai pergi ke taman hiburan, pantai, beli banyak es krim, kemana pun yang dia mau. Kami pulangnya dijemput Andrian, karena tadi kata mas Rehan dia masih ada banyak pekerjaan. Menurutku lebih baik Andrian yang menjemput kami, karena mau bagaimanapun Rian anaknya Andrian bukan mas Rehan.
" Sudah selesai? " ucap Andrian yang sudah berada disampingku yang membuatku terkejut.
" Sudah! " ucapku setelah semua baju Rian aku masukkan ke tas.
" Ayo! " ajak Andrian kepadaku seteleh menggandeng tangan Rian dan aku hanya memblasnya sengan anggukan kepala. Andrian mengambil lebih dulu tas yang aku siapkan tadi, sebelum aku mengambilnya. Tangan kirinya menggandeng Rian dan tangan kananya membawa tas. Aku mengikuti mereka dari belakang. Rian sangat antusias sekali, dia tidak henti hentinya bercerita tentang teman teman sekolahnya, tentang aku, Reta dan juga tentang mas Rehan. Padahal dia selalu bercerita tentang itu selama dua minggu di rumah sakit. Mungkin dia sangat merindukan ayahnya itu, selama fua tahun mereka tidak bertemu. Sampai saat ini aku tidak tau kemana hilangnya Andrian selama dua tahun itu? Aku juga pasti tidak berani menanyakannya, dia bukan siapa siapaku dan setiap Rian bertanya tentang itu, dia selalu mengalihkan pembicaraan.
" Om Rehan! " teriak Rian tiba tiba saat melihat Rehan yang tidak jauh dari kita. Bukanya sekarang mas Rehan masih ada banyak pekerjaan? Kenapa dia bisa disini? Rian melepaskan gandengan tanganya dari Andrian dan berlari ke mas Rehan. Saat aku melihat ke Andrain, dia hanya diam mematung, seketika senyumanya berubah menjadi seduh.
" Jangan lari Rian! " teriakku saat melihat Rian berlari.
" Rian! " ucap mas Rehan jongkok menyesuaikan tingginya dengan Rian dan mengelus rambut Rian.
" om Rehan! Katanya bunda om Rehan sibuk, kenapa bisa disini? " tanya Rian penasaran dengan kedatangan mas Rehan tiba tiba disini.
" Iya pekerjaan om Rehan sangat banyak tapi sekarang sudah selesai, " ucap mas Rehan lembut dengan tersenyum.
" Ayo Rian! " ajak Andrian yang tiba tiba saja sudah berada disamping mereka dengan menjulurkan tanganya.
" Enggak papa! Rian pulangnya ingin sama om Rahan! " ucap Rian menolak tawaran Andrian. Andrian tetap saja diam mematung sambil mengulurkan tangannya yang membuatku tidak tega melihatnya. Aku pun turun tangan untuk membuat Rian mau pulang bersama Andrian.
" Rian! Sekarang Rian pulang sama papa ya? Kalau Rian pulang sama om Rehan kasiah papa pulang sama siapa? " ucapku lembut membujuk Rian
" papa kan bisa pulang sama bunda, " ucap Rian yang membuatku kikuk. Kenapa Rian berkata seperti itu, mana mungkin aku berdua sama Andrian.
" ya kan papa ke sini untuk jemput Rian buakn bunda! Jadi Rian pualngnya sama papa ya? " ucapku yang masih berusaha membujuk Rian dan akhirnya Rian menyutujui ucapanku dan menerima uluran tangan Andrian. Rian dan Andrian pulang bersama, aku pulang bersama mas Rehah. Jika seperti ini kan pas tidak ada orang yang dirugikan.
Ternyata aku dan mas Rehan datang terlebih dahulu, padahal mereka pergi terlebih dahulu. Mungkin mereka mampir di suatu tempat dulu.
Setelah mengatarkan aku sampai ke depan pintu apartemen, pak Rehan pergi. Sudah aku tawari untuk masuk tapi katanya ada hal yang mendesak, jadi dia pergi begitu saja.Aku masuk ke apartemenku dan aku melihat Reta yang sedang asik telponan sampai tidak mendengar aku masuk, entahalah dia telponan dengan siapa? Tapi sepertinya dia sudah punya pacar, akrena aku mendengar ada kata bab! Reta memang suka bersosilisasi tapi anehnya kenapa dia tidak pernah ada laki laki yang mendekatinya. Dia sudah menjomblo selama dua puluh tujuh tahun dan semoga saja bisa samapi ke pelaminan. Kasian dia, adiknya saja sudah memiliki dua anak kembar, padahal jarak umur mereka lumayan jauh sekitar lima tahunan. Peristiwa paling menyedihkan yang pernah iya ceritakan adalah selalu diteror kalau sudah pulang ke rumah orang tuanya, apalagi waktu lebaran.
" Oh Difa kapan lo datang? " ucap Reta terkejut melihatku sudah duduk di sofa.
" Sudah dari tadi! Lo aja yang gak tau! " ucapku sinis
" Rian kemana? Kok gak ada! Apa Rian masih tidak boleh pulang? " ucap Reta saat tidak melihat keberadaan Rian.
" Andrian? Gak sama kamu? Kemana? kok belum datang! " ucap Reta dangan raut kawatir
" iya! Aku sama mas Rehan! Kalau itu aku tidak tau! Mungkin mampir disuatu tempat atau mungkin kejebak macet, " ucapku dengan tenang walaupun sebenarnya kawatir bagaimana keadaan Rian sekarang. Dia baru keluar dari rumah sakit takutnya nanti sakit lagi.
" Gak lo telpon? " ucap Reta teriak
" kalau aku punya nomornya uduh aku telpon dari tadi! " ucapku yang juga teriak untung saja dijam jam segini udah pada berangkat sumua. Kalau aku dan Reta teriak teriak gak ada yang marah. Coba aja kalau udah diatas jam empat sore, teriak seperti ini! uwh! Bisa bisa ramai sekampung.
" Emang lo gak punya nomornya? " ucap Reta dengan nada rendah
" enggak Reta, " ucapku dengan tersenyum
" oh, " ucap Reta yang kemudian diam seribu bahasa.
" Oh ya Reta, lo telponan sama siapa tadi? Asik banget sampai sampai gue dateng uak dengar! " ucapku menggoda Reta
" oh itu, gue telponan sama adik ipar gue! " ucap Reta enteng
" lo selingkuh sama adik ipar lo! " ucapku teriak, kaget setelah mendengar perkataan Reta. Wah gak aku sangka Reta seperti itu! Emang sih aku akui adik iparnya itu ganteng, tinggi dan tajir tipe tipe sempurna buat dijadiakan suami. Tapi ya masak iya nikung adiknya sendiri! Apalagi dia udah punya dua anak!
" Ngawur kamu! Gak mungkin lah! Emang lo pikir gue cewek apaan! " ucap Reta marah
" ta tapi tadi aku dengar ada kata bab, apa masutnya itu! " ucapku yang juga gak mau kalah dengan Reta
" itu masuknya baby, babynya mereka berdua. Jadi tadi dia mau tanya kejutan apa yang akan dia berikan kepada anak dan istrinya! Besok anniversary mereka! Gitu, kamu aja yang salah paham! " ucap Reta yang menjelaskan semuanya. Hal itu membuatku menghembuskan nafas lega dan menghelus dada. Untung saja itu tidak terjadi!
" Kenapa kamu? " ucap Reta saat melihat tingkah anehku.
" enggak papa! " ucapku tersenyum.
Tidak lama setelah itu, tiba tiba pintu terbuka dan ternyata Andrian dan Rian. Ini dia yang aku kawatirkan akhirnya datang. Aku pun menghampiri mereka dan juga Reta.
" Kenapa lama benget? Kemana dulu kalian? " ucapku kawatir