Single Perents

Single Perents
bagian 40



Sudah riga hari sejak aku ke kantar mas Rehan dan sekarang ini merupakan sidang keputusan hak asuh Rian. Hal yang aku rasakan kali ini adalah was was dan kawatir! Reta selalu memberiku semangat yang membuatku sedikit percaya diri dan tentunya juga dari mas Rehan. Dia menggenggam tanganku dengan erat selama persidangan dan tambah erat saat keputusan. Aku melihat keringat di dahi mas Rehan dan juga keriangat yang ada di tangannya yang menandakan dia juga gugup serta kawatir dengan keputusan yang diambil hakim. Reta juga mengalami yang sama persis yang dialami mas Rehan. Ternyata keputusan hakim tidak sesuai yang kami inginkan, dengan terpaksa aku harus melepaskan Rian ke tangan Andrian. Sedih, menangis? Itu pasti , tapi mau bagaimana lagi! Hakim sudah memutuskan dan saat ini aku hanya bisa berharap janji yang dibuat Andrian saat itu, tidak dia ingkari. Dia mengizinkan aku menemui Rian sesuka hatiku.


Mas Rehan memelukku dan menengankan, begitu juga dengan Reta yang menepuk punggungku. Hari ini menjadi momen mengharukan untuk kita bertiga. Untng saja Andrian masih berbaik hati mengizinkan Rian tinggal di apartemen bersama denganku dan Reta selama tiga hari dan anehnya Selena tidak datang di persidangan bersama dengan Andrian! Kemana dia? Kenapa tidak datang?


Setelah pulang dari sana, aku dan Reta memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan Rian dan menuruti apa pun yang diinginkannya selama tiga hari ini, walapun kami bolos bekerja dengan cuti sakit. Kami bekerja di pabrik yang bergerak disektor perindustrian, kami mulai bekerjaannya saat dua tahun yang lalu dengan gaji yang masih sisa untuk makan kita.


Sekarang kita berada di restoran yang sangat ingin dikunjungi Rian, yaitu restoran yang tertutup setiap ruangnya. Tiba tiba saja aku ingin ke toilet, karena sudah tidak tertahan ingin buang air kecil. Saat selesai, sebuh kebutulan disana aku melihat ada mas Rehan bersama dengan orang tuanya dicela pintu, dengan posisi saling berhadapaan. Mas Rehan membelakangi pintu dan orang tuannya menghadap ke pintu. Saat aku mulai mendekat, ternyata mereka sedang bertengkar hebat. Tentu saja topiknya sama, yaitu tetang aku yang masih saja tidak direstui oleh mereka untuk menjadi menantunya. Entah kenapa dan apa yang salah, aku tidak tahu! Aku selalu melakukannya semua yang diinginkan orang tua mas Rehan! Capek sebenarnya, tapi dukungan dari mas Rehan dan Reta yang membuat rasa capek itu hilang.


" Kenapa kamu sibuk sibuk mencampuri urusan dia sampai sakit begini? Samapai sampai kamu memedulikan Restoran! Coba saja kalau anak sahabatnya ayah, ini tidak akan terjadi! " ucap ibunya mas Rehan dengan emosi yang masih saja membandingkan anatara aku dan anak shabat ayahnnya mas Rehan.


" Dia calon tunanganku ibu, jadi wajar jika aku selalu mencampuri urusannya dia! " ucap mas Rehan dengan emosi


" tapi tetap saja kamu harus memedulikan restoran Rehan! Di sana ada banyak orang yang bergantung hidup Rehan! Dan kamu juga harus mengurus tubuhmu Rehan! " ucap ayahnya mas Rehan bijak. Walaupun itu dia masih mendukung mas Rehan dengan keputusan yang dia pilih. Setidaknya aku masih bisa bernafas lega, karena masih ada harapan dan dukungan untuk bersama dengan mas Rehan.


" Tapi tetap saja yah, aku tidak suka dengan wanita itu! Dari awal saja banyak kejadian yang tidak diinginkan dan takunnya banyak kejadian yang lebih parah dari sebelumnnya mengintai hubungan mereka! " ucap ibunya mas Rehan yang masih menentang.


" Tapi tetap saja, kita harus menghargai keputusan Rehan! " ucap ayahnya mas Rehan menasehati ibunnya mas Rehan untuk menerima meputusan mas Rehan.


" Bukannya lebih baik bersama dengan Sari, dia orangnya baik, sopan dan yang penting dia calon ibu yang baik untuk anak anak Rehan! Dia sudah lalai dan membuat anaknya yang masih kecil kecelakaan! Ibu macam apa itu! " ucap ibunnya mas Rehan yang membuatku kecewa dengan perilakuku sendiri. Ibu macam apa aku ini? Aku bukan ibu yang diandalkan! Betul kata ibunya mas Rehan dan Andrian. Keputusan hakim itu benar sekali, mungkin lebih baik Rian bersama dengan Andrian dan Selena tentunnya.


" Ibu! Sudahlah bu! Jangan bandingkan Difa dengan Sari! Belum tentu Sari bisa mengurus anak, sementara Difa sudah mengurus anaknya orang selama lima tahun ibu! " ucap mas Rehan dengan nada tinggi dan hal ini menjadi pertama kalinya dia berbicara dengan nada tinggi dengan ibunya. Ini juga gara gara aku dia melakukan hal ini, karena membelaku! Aku membuat mas Rehan durhaka dengan ibunya.


Setelah mendengar itu, aku kembali ke ruanganku. Apa mungkin sebaikna aku melepaskan mas Rehan? Hubungan kami banyak mengalami pertentangan dan rintangan! Aku sudah banyak menyusahkan mas Rehan dan sampai sampai dia tidak bisa memedulikan keadaannya. Aku selalu mengeluh ke dia, sedangkan mas Rehan selalu menyimpan penderitaannya sendiri dan tidak pernah mengeluh ataupun bercerita. Aku terlalu mebebani dia! Aku terlalu mengandalkan dia! Aku terlalu bergantung dengan dia! sampai sampai pekerjaan kecil mengantarkan Rian saja, aku masih mengandalkan mas Rehan. Aku teralalu banyak membuat dia menderita! Tanpa aku menanyakan bagaimana keadaan dia? Apa kesulitqn dia? Tidak pernah sekali aku menanyakan tentang hal itu.


" oh iya, " ucapku bingung kemudian duduk.


" Lo kenapa sih? Difa! Difa! Woy! " ucap Reta khawatir melihatku yang dari tadi hanya melamun.


" Apa? " ucapku spontan kaget saat Reta berteriak memanggil namaku.


" Lo kenapa sih? " ucap Reta kesal


" Gak kenapa napa! " ucapku mengelak. Tidak mungkin kan aku bercerita tentang itu untuk saat ini. Sekarang aku harus melupakan masalahku dan berfokus pada Rian. Ubah suasana hatimu Difa! Kamu harus ceria! Ini demi Rian, Rian akan sedih.


" Rian sudah pesan makanan? " tanyaku dengan tersenyum dan Rian menjawabnya dengan anggukan.


" Iya lah! Dari tadi nunggu, lo gak dateng dateng! " ucap Reta emos sambil melotot yang jauh dari kata seram.


" Ya maaf! Namanya di toilet, pasti lama, " ucapku cengengesan


" ya gak selama itu! Sebenarnya lo di sana ngapain sih! Nonton konser? " ucap Reta yang masih kesal dengan aku.


" Ya gak juga lah, mana bisa nonton koser di toilet? " ucapku dengan tersenyum, memakai wajah tidak bersalah. Rian dari tadi tertawa melihat tingkah kekonyolan aku dan Reta. Tidak lama setelah itu, pramusajai datang dan menghidangkan makanan yang aku pesan. Aku menyuapi makan Rian terlebih dahulu, setelah itu baru aku makan.


Setelah selesai makan kami pun pulang dan saat ingin ke pintu keluar, lagi lagi aku bertemu dengan orang tuannya mas Rehan dan bersama dengan mas Rehan juga. Cuma bedanya sekarang ada seorang wanita yang sekarang sedang mencium kedua tangan orang tuannya mas Reha. Yang aku yakini bahwa dia adalah anak sahabat ayahnnya mas Rehan yang dijodohkan sama mas Rehan.