Single Perents

Single Perents
bagian 39



Paginya Andrian datang ke apartemen dan ingin mengantarkan Rian. Reta yang membuka pintu apartemen, saat melihat Andrian yang datang dia langsung menutup pintu itu. Dia sekarang membenci Andrian, dia takut Rian diambil olehnya. Dia sudah menganggap Rian sebagai anaknya sendiri dan dia juga kasian denganku, karena aku tidak akan bisa hidup tanpa Rian. Andrian berkali kali mengetuk pintunya, tapi tidak digubris sama Reta. Sekarang ini aku merasa bingung dan takut, walaupun berkali kali meyakinkan bahwa semua ini akan berjalan baik seperti dua tahun yang lalu. Saat ini yang aku harapkan adalah kedatangn mas Rehan seperti biasa mengantarkan Rian ke sekolah. Tapi jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh dan mas Rehan belum kunjung datang. Tidak mungkin aku membiarkan Rian tidak sekolah karena hal ini. Aku pun nekat keluar dari apartemen bersama Rian, aku sudah tidak peduli apakah dia masih di depan pintu atau tidak. Aku keluar dari apartemen dengan menggendong Rian dan ternyata Andrian masih berada di depan pintu, aku berjalan cepat tanpa memperdulikan dia.


" Difa! Difa! " teriaknya memanggil namaku sambil mengejarku. Aku semakin berjalan dengan cepat, agar tidak disusul olehnya. Tapi tetap saja, dai meraih tanganku dan membuatku terpaksa menghentikan langkahku.


" Apa? " ucapku ketus, sebenarnya aku takut dia mengambil Rian sekarang.


" Aku akan mengantarkan Rian! Aku juga yang akan menjemputnya dan mengantarkanya kembali ke apartemen ini! " ucap Andrian tegas seakan akan dia bisa membaca isi kepalaku. Dia berkali kali menyakinkanku yang akhirnya membuatku setuju dengannya, tapi aku tetap ikut bersamanya dan memastikan dia menepati ucapannya. Di jalan aku berusaha menghubungi mas Rehan, karena tidak biasanya mas Rehan hilang tanpa kabar sejak kemarin siang. Biasanya kalau tidak bisa mengantarkan Rian ke sekolah, dia selalu memberitahuku! Tapi kenapa sekarang tidak? Aku takut terjadi sesuatu denganya. Teleponya tidak di angkat, kemana dia? Atau mungkinsangat sibuk ya?


Setelah pulang dari mengantarkan Rian, aku meminta Andrian mengantarkan aku kantor hukum miliknya. Aku ingin memastikan sendiri dia tidak apa apa. Saat sampai disana, aku langsung masuk tanpa mengucapkan terima kasih pada Andrian. Sesampainya di depan ruangan mas Rehan, aku bisa mendengar pembicaraan mas Rehan dan sepertinya bersama dengan ibunya.


" Ibu, tolong pahami dia sekali saja! Ibu juga seorang ibu kan? Ibu pasti merasakan apa yang dia rasakan, tolong beri kami sedikit waktu untuk melakukan pertunangan itu lagi, " ucap mas Rehan lembut dan membelaku.


" Sedikit waktu? Kapan dan berapa lama? Coba saja kalau kamu menikah dengan anak sahabat ayah kamu, hal ini tidak terjadi! Ingat Rehan umur kamu sudah tiga puluh dua tahun! Kamu tidak malu sama teman teman dan tetangga yang selalu mebicarakan kamu! " ucap ibunya mas Rehan menasehati dia. Aku tahu seperti apa perasaan ibunya mas Rehan, dia pasti sangat kecewa dengan prmbatalan pertunangan itu. Dia juga malu dengan tetangga dan saudaranya. Semua anak saudara ibunya mas Rehan sudah memiliki anak, bahkan ada anaknya yang ingin menikah. Aku tahu hal itu, saat diajak mas Rehan hadir di pertunangannya keponakannya.


" Rehan yakin, sedikit waktu itu hanya waktu yang benar benar tidak lama ibu, jadi Rehan mohon pada ibu untuk bersabar sedikit lagi! " ucap ibunya mas Rehan. Setelah itu dia keluar dari ruangan mas Rehan dan melihatku di depan pintuk mendengarkan pembicaraan mereka. Saat aku ingin mencium tangannya, dengan kasar dia menariknya dan pergi dari tempat itu.


" Difa? " ucap mas Rehan yang membuatku menoleh ke arahnya.


" Kenapa kamu bisa di sini? " ucap mas Rehan kaget melihatku di depan pintu, mungkin dia takut aku mendengar semua percakapan mereka. Dia takut membuatku tertekan dan merasa tidak enak. Untuk itu, aku harus berpura pura baru datang dan tidak mendengar perkataan mereka. Aku berjalan masuk je euangannya dan menutup pintu.


" Kamu dari tadi di sini? " ucap mas Rehan dengan ekspresi wajah tidak enak.


" E enggak mas! Baru saja datang saat ibu keluar, " ucap bohong dengan tersenyum dan seketika membuat mas Rehan ikut tersenyum. Aku dan mas Rehan duduk di sofa ruanganya, kami duduk bersebelahan dan saling berhadapan.


" Aku disini karena khawatir sama kamu! dari kemarin siang setelah mengantarkana aku, kamu tidak ada kabar! " ucapku dengan tersenyum, walaupun aku masih merasa sedih bercampur tidak enak.


" tidak apa apa, Rian berangkat tepat waktu, " ucapku dengan tersenyum


" oh syukurlah kalau begitu! " ucap mas Rehan menghembuskan napas lega.


" Kenapa wajah kamu pucat? Apa kamu sakit Difa? " ucap mas Rehan melihatku dengan wajah pucat, tapi bukan pucat sakit melainkan pucat karena memikirkan tetang Rian yang akan dibawa pergi Andrian. Mas Rehan memegang dahiku setelah itu memegang dahinya.


" Aku tidak apa apa mas Rehan cuma banyak pikiran aja! " ucapku dengan suara lemas.


" Apa sih! Sebenarnya yang kamu pikirkan samapai seperti ini? " ucap mas Rehan khawatir dan dengan nada marah.


" Rian mas, Andrian mengambil hak asuh Rian! " ucapku yang seketika merubah raut najah mas Rehan dari khawatir menjadi sedih sekaligus terkejut.


" Bagaimana ini mas Rehan? Apa yang harus aku lakukan? " ucapku dengan mata yang sudah berkaca kaca.


" Itu sangat sulit Difa! Apalagi Rian pernah mengalami kecelakaan dan kamu bukan ibu kandungnya Rian, " ucap mas Rehan menyesal dengan menghembuskan nafas pasrah. Mendengar ucapan mas Rehan seketika itu juga aku merasa tidak berdaya. Aku harus kehilangan hak asuh Rian. Seketika air mataku menetes. Tidak! Tidak mungkin! Pasti mas Rehan pasti memeliki solusi untuk masalah ini. Pasti mas Rehan memiliki solusinya!


" Pasti ada solusinya kan mas? " ucapku dengan ekspresi penuh harapan. Mas Rehan adalah salah satu harapanku, jika mas Rehan bilang tidak bisa! Aku harus bagaimana lagi? Hilang harapanku.


" Aku akan berusaha semaksimal mungkin Difa, " ucapnya dengan tersenyum sambil menghapus air mataku. Sekarang aku lebih tenang,setidaknya masih ada harapan meski sangat kecil.


Mas Rehan mengntarkan aku pulang. Saat tadi keluar dari lobi, aku melihat mobil Andrian masih terpakir di depan. Ada urusan apa Andrian masih di sini? Tidak mungkin kan dia menyewa salah satu pengacara yang ada di sini? Tapi kenapa dia masih di sini? Saat aku masuk ke mobil mas Rehan, aku melihat mobil Andrian lewat.Tidak mungkin kan dia menungguku?


Sepanjang perjalanan mas Rehan tidak menceritakan kejadian tadi dengan ibunya dan bahkan dia tidak membahas tetang pertunangan kita yang tertunda. Dia adalah orang yang selalu memahami keadaanku dan itu juga yang membuatku merasa bersalah denganya. Aku selalu merepotkan dia dan tidak pernah sekalipun aku direpotkan olehnya.