
Sudah tiga tahun lama sejak kejadian itu, tapi pristiwa itu masih terngiang bgiang dikepalaku seperti baru kemarin itu terjadi. Keputusaan dan kepasrahanku dalam menghadaipi hal itu dan perjuangan Andrian dalam melepaskan aku dari jeretan itu juga hal yang tidak bisa dilupakan. Adi yang membawa bukti tiba tiba saja mengalami kecelakaan dan mobilnya meledak yang sempat membuat Andrian tumbang. Sahabat lamanya mengalami kecelakaan dengan mobil yang medak sudah dipastikan tidak akan selamat. Disisi lain bukti yang digunakan untuk membesakkan aku otomatis juga hangus.
Pada saat itu aku melihat ekspresi ketidak berdayaannya dan ketakutan diwajahnya. Tapi dia tidak pernah meninggalkan aku sedikitpun dan selalu menyemangatiku walaupun dia sendiri putus asa. Namun tidak lama setelah itu sekitar empat jam setelah kabar kecelakan, Andrian mendapatkan kabar baik kalau Adi ternyata tidak apa apa dan dia sempat keluar sebelum mobil itu meledak dan hanya luka luka ringan. Seketika itu raut wajah Andrian mulai tenang dan ada satu kabar lagi yang membuat dia bahagia sekaligus terharu. Adi sempat menyelmatkan bukti satu satunya dan hal itu yang membebaskan aku dari jeratan hukum, serta menjebloskan Selena dan boby ke penjara.
Aku sangat bersyukur memiliki orang orang baik disisiku. Andrian, Adi dan juga mas Rehan. Setiap memikirkan mas Rehan aku masih merasa sedih walaupun sudah tiga tahun. Dia yang menggantikan aku mati, seharusnya pada waktu itu aku yang mati dan dialah yang hidup. Mulai dari peristiwa penusukan itu dan pada saat itu dia melihat boby yang ingin nenusukku dan Selena yang tidak jauh dari tempat itu. Karena itulah mereka membunuh mas Rehan di kamar rumah sakit agar mereka tidak tertangkap karena pengakuannya.
" Difa ayo makan, " ucap seorang wanita yang mengetuk pintu kamarku.
" Iya, " ucapku beranjak dari tempat tidurku dan menuruni tangga menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur dan duduk di meja makan.
" Ini ibu membuat makanan kesukaan kamu, " ucapnya sambil mengambilkan capcay ke piringku.
" Oh ya, nanti Rian kesini kan? " lanjutnya
" iya te, " ucapku sambil mengambil sendok
" kok tante sih, udah tiga tahun loh untuk manggil ibu kok masih tante? Kamu sudah aku agap sebagai anakku seperti Rehan " ucapnya
Sejak kesalah paham itu berakhir dan ternyata bukan aku yang membunuh mas Rehan dan juga mas Rehan yang mengorbankan hidupnya demi diriku. Sejak saat itu orang tua mas Rehan mengkatku sebagai anaknya. Mungkin mereka merasaa bahawa aku adalah orang yang berharga bagi mas Rehan sampai dia rela mengorbankan hidupnya, jadi mereka ingin mrnjaga orang yang berharga bagi putra semata wayangnya yang sudah tidak bersama dengannya lagi.
" Iya tan, eh maksutnya ibu, " ucapku yang membuat ibunya mas Rehan tersenyum.
" Kok ayah ditinggal sih! " ucap ayhnya mas Rehan yang baru datang dan mengelus rambutku sebelum duduk disampingku.
" Gak kok! Ini baru saja makan yah, " ucapku yang membuat senyum dibibirnya
" Gitu dong manggil ayah, " ucapnya dan melanjutakan makan.
Kami pun makan dengan tenang dengan ibunya mas Rehan duduk bersebrangan denganku. Seperti inilah kehidupan kami sejak kehilangan mas Rehan saling mengauatkan dan mendukung sebagai keluarga.
" Kamu mau jemput Rian kan? " ucap ayahnya mas Rehan setelah selesai makan
" iya yah, " ucapku
" kami ikut ya? Kan hari ini hari libur jadi kita habiskan waktu bersama sebagai keluarga, " ucap ibunya mas Rehan dan aku menjawab dengan anggukan
Mobil mami pun sampai di rumah Andrian yang baru dan tidak jauh dari rumah orang tuanya mas Rehan. Setelah turun dari mobil, Rian langsung berlari ke arahku dan memelukku. Rian sekarang sudah berumur delpan tahun dan tingginya sudah hapir sama denganku. Dia sekarang bukan anak kecil yang aku harus jongkok untuk memelukknya.
" tunggu dulu Rian, kakek dan nenek belum bertemu dengan ayahmu, kita berencana untuk pergi liburan dan sekaligus mengajak ayahmu, " ucap ibunya mas Rehan. Apa! Ngajak Andrian? Aku kira cuma kita bertiga kenapa sekarang bersama Andrian? Bukannya aku tidak senang, entah mengapa setelah kejadian tiga tahun yang lalu aku merasa canggung saat berada didekat Andrian.
" Itu papa, " ucap Rian menujuk ke arah Andrian yang sedang mengankat teponnya dengan menggunakan baju yang santai. Tidak ada yang berubah dengan Andrian, dia tetap orang yang sama, tapi sekarang dia memiliki berowok tipis di wajahnya yang menambah pesonanya.
" Oh Difa, bu pak, " ucapnya setelah melihat dan mengahampiri kami
" Ayo masuk, " ucapnya mempersilahkan kami masuk
" Enggak disini saja, kita mau berencana pergi liburan bersama sekarang? Kamu luang kan? " ucap ayahnya mas Rehan
" iya pak, " ucapnya
" oke, Rian sama kakek dan nenek ya? kamu sama Difa, " ucap ayahnya mas Rehan dan dijawab dengan anggukan oleh Andrian
Apa maksutnya ini? Aku harus bersama dengan Andrian semobil? Yang benar saja, aku sudah membayangkan seperti apa situasi canggungnya. Rian langsung masuk ke mobil mereka.
" Kita mau pergi kemana? " ucap Andrian
" ikuti saja mobil kami, " ucap ibunyanmas rehan
" Ayo! " ucap Andrian membukakan pintu mobilnya dengan ragu aku masuk. Selama perjalan tidak ada pembicaraan diantara kami hanya diam dan canggung.
" Oh ya bagaimana kabar Adi dan Reta? " tanyaku yang memecahkan keheningan diantara kami
" mereka masih bulan madu dan mungkin kembali besok, " ucap Andrian.
Reta dan Adi sudah menikah dua bulan yang lalu, kedekatan mereka berawal dari peristiwa tiga tahun itu. Saat Adi di rumah sakit aku menyuruh Reta untuk merawatnya bukan menyuruh sih lebih tepatnya dia ingin meratnnya untuk membalas kebaikan Adi kepadaku. Tidak disangka benih benih cinta tumbuh diantara mereka.
" Loh kemana mobil mereka? " ucapku terkejut karena tidak melihat mobil mereka di depan dan saat melihat wajah Andrian dia hanya tenang saja, tidak ada khawatir khawatirnya. Setelah itu aku hanya diam saja, karena merasa dia sudah tahu jalannya.
Setelah beberapa jam dan hari sudah menjelang sore mobil ini berhenti disebuah pantai yang dulu pernah kami kunjungidan malah menciptakan pertekarang besar. Dia membukakan pitu untukku, menggenggam erat tanganku dan mengajaku ke pantai itu, akrena hari mulai sore hanya ada cahaya matahiri yang hampir tenggelam.
Tiba tiba saja Andrian sudah tidak ada disampingku, kemana dia? Kok aku ditinggal sendiri? Lampu lampu kecil kecil di sekitarku mulai menyala dan menampilkan pemandangan yang indah dan aku ternyata sedang berdiri di tengah lampu yang berbentu love. Adrian datang dengan memakai kemeja berwana coklat susu seperti warna lamu itu dan mendekat ke arahku. Dia jokok dihatapanku dan mengelurakn cicin dari sakunya dan mebukanya menghadap ke arahku.
" Will you marry me? " ucapnya yang membuat jantungku berdebar, apakah ini mimpi? Aku sangat terkejut dengan hal yang terjadi dihadapanku. Setelah sekitar sepuluh menit aku menjernihkan pikiranku dan akhirnya aku mengangguk, Andrian langsung memakainkan cicin itu ke jariku dan memelukku. Setelah itu keluar Rian, ayah dan ibunya mas Rehan, ayah dan ibunya Andrian, Tino dan Tina, serta Adi dan Reta keluar dari persembunyianya dan memberikan tepuk tangan kepada kami.