
Esoknya setelah Rian pulang sekolah aku bersiap siap dan tentu saja menyiapkan Rian juga. Setelelah selesai aku dan Rian berjalan menuju depan gerbang. Tidak menunggu terlalu lama pak Rehan datang membawa mobilnya.
" Ayo! " ucap pak Rehan membukakan pintu untukku dan kemudian membukakan pintu untuk Rian. Setelah melewati perjalanan berjam jam akhirnya kami pun sampai ditempan yang dituju. Aku masuk bersama pak Rehan dengan Rian digendong olehnya, kami seakan akan seperti keluarga yang bahagia. Kami pun langsung menuju panggung untuk bertemu dengan keluarga Reta dan tentunya dengan pengantinnya.
" Dina ya? " tanya ibunya Reta
" iya tante, " ucapku sambil mencium tangannya
" ini pasti suami sama anak kamu? " ucap ibunya Reta dengan mengelus kepala Rian. Sebelum aku menjawabnya tiba tiba ada suara yang mendahuluiku.
" Bukan! akulah suaminya! " ucap seseorang dibelakangku
" papa! " teriak Rian yang membuatku seketika menghadap kearahnya, ternyata Andrian pemilik suara itu. Bagaimana bisa Andrian datang kesini? Andrian langsung mengambil paksa Rian dari gendongan pak Rehan, karena merasa tidak memiliki hak atas Rian pak Rehan terpaksa menyerahkanya ke Andrian. Secara tiba tiba Andrian menggandeng tanganku, seakan akan dia mengatakan mereka milikku dan tidak ada satu pun orang yang bisa merebutnya dariku.
" Terus dia siapa? " ucap ibunya Reta sambil menunjuk pak Rehan
" dia…" ucapku yang terpotong perkataan pak Rehan
" bos, lebih teptnya mantan bosnya Difa, " ucap pak Rehan tannguh, setelah itu meninggalkan panggung.
" Pak Rehan! " ucapku berbisik sampai nyaris tidak terdengar. Apakah mungkin pak Rehan merasa dipermalukan atas perlakuan Andrian? kalau iya aku harus menyusulnya dan meminta maaf ke dia. Karena aku yang mengajaknya ke sini dan juga karena dia aku bisa berada ditempat ini. Saat aku menyusulnya, tanganku ditahan Andrian. Aku hanya bisa mengikuti Andrian, karena adeganku tadi dilihat banyak orang jika aku menuruskan adegan itu, pasti orang mengira aku sedang selingkuh dan pak Rehan adalah selingkuhanku. Daripada orang berfikir enggak egak kan? Tapi sebenarnya aku bahagia dengan tindakan kecil yang dilakukan Andrian. Sampai sampai dari tadi aku berusaha menahan senyumku. Tapi tetap saja aku merasa gak enak sama pan Rehan. Setelah turun dari tangga aku berusaha melepaskan tanganku lagi untuk mencari keberadaan pak Rehan dan lagi lagi Andrian tidak membiarkanya.
" Kamu itu kenapa sih! " ucap Andrian yang kesal dengan perilakuku
" gue mau mecari pak Rehan dan meminta maaf karena perilaku lo di panggung tadi! " ucapku ysng agak kasar. Sebenarnya sih aku tidak nyaman dengan cara bicaraku ke Andrian, tapi egoku mengalahkan segalanya.
" Meminta maaf? emang yang aku lakukan salah? mengambil anak dan istriku dari orang lain itu salah? tidak terima melihat istri dan abakku bersama orang lain itu salah? tidak suka orang orang menganggap orang lain suami dan ayah dari anaku, apalagi orang itu pernah dekat dengan istriku, apa itu salah? " ucap Andrian dengan nada rendah sampai hampir berbisik, tapi memekankan disetiap kata, menggambarkan bahwa dia marah dengan perilaku dan kata yang membela pak Rehan. Dia melakuka itu agar pertengkaran kami tidak didengar orang orang yang berada disekitar kita tertama Rian. Aku hanya diam setelah perkataan Andrian tadi. Walapun sifatnya amarah, tapi aku bahagia dengan marahnya Andrian. Dengan jata katanya dia menunjukkan bahwa dia tidak mau kehilangan aku dan Rian. Serta aku suka dengan kata ' istriku ' yang dia ucapkan, rasanya hangat dan membuatku tersipu.
" Ayo! " ajak Andrian dengan tersenyum yang menandakan dia sudah tidak marah lagi.
" Kemana? " ucapku bingung dengan ajakanya
" pulang, " ucapnya singkat
" gak makan dulu? " ucapku yang tak membiarkan makanan geratis terbuang sia sia, biasalah mantan anak kos, seneng banget kalau ada makanan geratis.
" Kalian sudah makan siang kan? " tanya Andrian lembut
" Rian lapar gak? " tanya Andrian
" ndak papa, " jawab Rian yang masih digendongan Andrian
" kamu lapar? " tanya Andrian ke aku
" enggak sih! " ucapku jujur
" yaudah ayo! " ucap Andrian menarik tanganku keluar dari gedung. Yah gak dapat makanan geratis! jiwa anak kosku terluka. Enak banget si Reta, udah tadi amplob yang aku kasih tebel, eh malah gak jadi makan. Trus kalau sudah selesai acaranya dipinjem tuh uang adiknya sama Reta, kalu enggak uangnya dikasih ke Reta, kan katanya suaiminya adiknya kaya, jadi gak terlalu membutuhkan uang. Setelah sampai di depan mobil, Andrian membukakan pintu untukku, kemudian dia mesuk menyetir serta memangku Rian. Karena saat ini Andrian membawa mobil mewah dengan dua pintu.
" Sini Riannya! " ucapku dengan menyulurkan tangan
" apa? " ucap Andrian yang tidak paham dengan maksudku
" Rian sini! gak baik nyetir sambil memangku Rian dan kasian Riannya capek gak bisa gerak! " ucapku menyakinkan Andrian sekaligis kasih melihat Rian diam saja takut jatuh. Setelah itu Andrian menepi dan memberikan Rian kepadaku.
" Maafkan aku! " ucap Andrian menyesal
" kenapa? " tanyaku heran dengan kata katanya
" bawa mobilnya salah dan buat kamu capek! " ucap Andrian menyesal
" gak papa aku udah biasa kok kayak gini, " ucapku jujur dengan nada meyakinkan. Setelah itu melanjukan perjalanan kami. Sepanjang perjalanan Rian terus mengoceh, sampai sampai aku gak sempat membalasnya dan untung saja ada Andrian yang membantuku menjawab pertanyaan Rian. Akhirnya hampir sampai, sebelum pulang Andrian berhenti disalah satu Restoran untuk makan. Andrian keluar dari mobil dulu kemudian membuka pintu untukku dan mengambil Rian dari pangkuanku kemudian ia gendong. Setelah itu baru aku turun dari mobil. Andrian menggandengku, kamipun berjalan beriringan seperti potret keluarga bahagia. Tiba tiba ada seseorang masuk diantara kami dan menggandeng tangan Andrian yang sedang menggandeng tanganku. Yang membuatku sesak bukanya menyuruh parasit itu pergi, dia malah melepaskan genggaman tangannya. Sekitika itu aku memahami posisiku sesungguhnya. Sampai kapanpu Adrian hanya mengutamakan Selene dibandingkan aku. Aku hanya diam mematung dan berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh. Semua yang aku fikirkan tentang dia itu semuanya salah, dia lebih rela kehilangan aku dibangdingkan kehilangan Selena.
" Kejutan! " ucap Selena dengan ceria
" baby? kamu datang gak ngabarin aku! " ucap Andrian halus. Wah! wah! gak aku sangka ternyata Andrian playboy, tadi aja sok sokan istriku, sekarang baby.
" maaf honey, sebenarnya aku mau beri kamu kejutan di rumah, tapi aku malah ketemu kamu disini! ditempat kita nongkrong dulu waktu pacara, " ucap Selena dengan nada menja yang membuatku jijik sekaligus marah. Aku mengikuti mereka dari belakang, sebenernya aku ingin pergi darisini. Tapi Rian masih digendong Andrian, kalau aku ambil nanti bisa memicu pertengkaran, apa lagi sekarang berada ditempat umum. Jadi sabar dulu Difa. Saat masuk di restoran lagi lagi kesabaranku diuji.
" Honey tempat duduknya cuma tiga! gimana kalau Difa duduk ditempat lain, " ucap Selena merengek manja yang membuatku semakin muak dengan tingkah lakunya.
" Oke baby, " ucap Andrian menyetujui perkataan Selena. Gak bisa aku bayangin dia menyetujui usulan Selena! tanpa nembatahnya sekali! Masalahnya bukan pada tempat duduknya, tapi aku seperti tidak dihargai dusini.