
" gue gak mau! "
" kalau gak mau ya? terserah, " ucap Andrian santai dan kembali melanjutkan tidur yang sempat tertunda
aku menanggapinya dengan hembusan nafas panjang dengan mengelus dadaku. Sabar Difa sabar ini masih hari pertama Difa dan mulai saat ini kamu harus memiliki kesabaran yang ekstra karena hari harimu harus dipenuhi oleh dia dan dengan sifat dinginnya. Kalau dipikir pikir lebih baik aku aja perkataannya daripada tidur di sofa waktu bangun pegel pegel semua tuh badan. Tidak berpikir panjang aku langsung tidur disebelahnya.
Saat bangun tidur aku sudah tidak mendapati Andrian di sebelahku. Aku pun langsung bangun dan membuka tirai kamar, dan wow pemandangan kota dari atas yang berada di pandanganku, gila nggak aku sangka ternyata pemandangannya seindah ini, sampai membuatku terkagum kagum. Aku pun langsung teringat untuk mencari keberadaan Andrian. Aku mencarinya mulai dari kamar mandi, dapur, ruang tengah dan hasilnya nihil, aku tidak menemukan keberadaan Andrian. Ternyata capek jugalah ya mencarinya, gak aku sangka ternyata kamar yang ia pesan sebesar ini dan juga seindah, tapi semalam kayaknya gak sebesar ini deh, apa aku semalam capek banget ya? sampai sampai gak ngeliat keadaan sekitar, maklum lah semalam kan aku capek banget. Kira kira dia kemana ya? se pagi pagi ini! alah bodoh amat toh nanti ia akan balik juga. Kkkriuk suara perutku, laper lagi, lebih baik aku mandi dulu kemudian turun cari makan. Pada saat aku makan di salah satu restoran dekat dengan hotel yang aku tempati, aku bertemu dengan pak Rehan di depan restoran. Waduh ketemu sama pak Rehan nih apa yang harus yang aku lakukan? apa pura pura gak liat aja ya? tapi kalau pura pura gak liat nanti ketemu juga, atau langsung pergi aja ya? mumpung pak Rehan belum liat aku. Dan saat aku berbalik pak Rehan memanggil namaku.
" Difa, " teriak pak Rehan
waduh gimana nih ketauan lagi
" apa kamu benar Difa? " ucap pak Rehan yang sudah berada di dekatku dan dengan perasaan terpaksa aku harus berbalik badan menghadap pak Rehan.
" Eh iya pak, " ucapku canggung
" mau makan? " tanya pak Rehan dan aku jawab dengan anggukan kepala
" makan bareng yuk! "ajakan pak Rehan dan lagi lagi aku hanya menjawab dengan anggukan kepala. Aku mengikuti pak Rehan dari belakang. Pak Rehan memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela kaca seperti tempat yang selalu yang aku sukai dan dia juga yang memesankan makanannya, karena dia tau makan dan minuman yang aku sukai.
" Oh ya, dimana Rian dan suami kamu? kok makan sendiri? " ucap pak Rehan dengan senyum dilaksanakan yang membuat suasana canggung. Suasana canggung ini terjadi karena dua hari sebelum pernikahanku pak Rehan mengutarakan cintanya padaku walaupun dia tau kalau aku mau nikah, katanya sih lebih baik ia utarakan daripada jadi beban dalam hidupnya. Ternyata benar kata Mbak Tami dan Tina selama ini, pak Rehan bersikap berbeda denganku bukan karena kasihan tapi rasa cintanya yang terpendam itu. Dan kanapa aku tadi berusaha menghindar darinya ya? karena peristiwa itu yang membuatku gak enak sama pak Rehan.
" Rian sama neneynya dan kalau Andrian sudah berangkat ke kantornya, " ucapku bohong, tapi cuma soal Andrian doang kalau soal Rian memang benar sama kakek sama neneknya.
" oh gitu "
suasana hening diantara kita sampai pelayan datang mengantarkan makanan.
" Terima kasih ya mbak, " ucapku pada mbak mbak yang mengantarkan makanan dan dijawab dengan senyuman
" oh ya pak, gimana keadaan restoran sekarang selama gak ada saya, " ucapku mencari topik pembicaraan, karena aku gak suka jika lama lama suasananya hening.
" Semuanya baik, " ucapnya singkat sambil memakan makanannya.
waduh gimana sih bapak ini! aku sudah susah susah cari topik eh malah dijawab sesingkat itu, gak seru nih. Dan lagi lagi setelah itu keheningan terjadi, terserah aja deh yang penting sekarang aku harus kenyang. Selesai makan pak Rehan memanggil salah satu karyawan restoran untuk meminta tagihan makan.
" Jadi semuanya berapa mbak? "
" total semuanya delapan ratus dua puluh lima ribu pak, " ucap karyawan itu
" biar saya aja pak! " ucapku menghentikan kegiatan pak Rehan yang sedang mengeluarkan uang dari dompetnya.
" nggak usah biar saya saja, lagi pula saya yang mengajak kamu makan tadi, "
" saya jadi gak enak sama bapak, biarkan saya bayar makanan saya saja ya pak? "
" nggak usah Difa, " ucapnya dengan lembut
syukurlah, aku tadi cuma basa basi aja sih karena sebenarnya sekarang aku lagi gak bawa dompet dan sekarang aku bener bener bersyukur ketemu pak Rehan tadi. Dan saat berada di luar restoran pak Rehan menawariku untuk diantarkannya.
" Nggak usah pak lagian saya menginap di hotel yang ada di sebrang, tuuh " ucapku sambil menunjuk hotel tempatku menginap.
" Ya udah saya duluan "
" iya pak, hati hati, " ucapku sambil melambaikan tangan dan dibalas dengan lambaian tangan olehnya.
" Kenapa? " ucapku dingin
" lama banget ngangkat telfonnya! "
" gue sibuk, trus ngapain lo telfon gue! "
" oh ya gue lupa, lo kan sibuk ngurusin si do'i, iya kan? " ucapnya dengan nada menggoda
" kenapa lo telfon aku Reta? udah tiga kali gue tanya kayak gitu ke elo! "
" iya iya sensi amat mbak, gue mau curhat ke e lo "
wah target empuk nih! lumayan buat refreshing.
" Tapi gak enak kalau ngomongnya di telfon, " ucapku dengan nada lembut
" trus kita ngomongnya dimana? " ucapnya sok polos
" ke kafe yang biasa, tapi lo ya? yang bayarin, " ucapku cengengesan
" kok gue! " ucapnya sok kaget
" kalau gak mau ya udah, gue tutup telfonnya, " ucapku mengancam
" eh tunggu tunggu, oke oke gue traktir "
" beneran nih, ikhlas gak? "
" iya "
" nanti gue kirim alamat gue, " ucapku gak tau malu
" ngapain? "
" ya e lo jemput gue lah "
setelah cukup lama dia berfikir akhirnya jawab juga.
" ya udah gue jemput nanti "
aku langsung menutup telfonnya sebelum dia yang nutup duluan, karena setiap kita telfonan pasti dulu duluan yang matiin telfonnya dan setelah itu aku langsung mengirimkan alamat hotel yang aku inapi. Uh waktunya siap siap. Setelah siap siap aku langsung menuju ke lobi hotel dan menunggu disana. Lama banget sih dia datangnya, apa jangan jangan gak jadi lagi.
" Difa! " teriaknya
ah akhirnya nongol juga tuh anak setelah sekian lamanya.
" lama banget sih lo datangnya! "
" he he he, gue tadi lupa, " ucapnya sambil menggaruk garuk kepalanya
" ya udah ayo! " lanjutnya