Single Perents

Single Perents
bagian 23



" Dasar Lo ya! seneng banget ngerjain orang!! sekarang Lo dimana? cepat kasih tau gue!! " ucap Reta marah marah


" emangnya kenapa? " ucapku dengan nada mengejek


" gue mau samperin lo dan buat perhitungan sama lo! " ucapnya sok sadis


" euw gue takut banget, taaakuuut banget, sampai sampai gue takut sherlock bahwa sekarang gue sedang di kafe tempat biasa kita nongkrong, " ucapku dengan alay ( khas inces )


" oke gue ke…" ucap Reta belum selesai langsung aku tutup telponnya, mungkin sekarang dia lagi ngumpatin aku. Aku pun masuk ke kafe menunggu Reta di dalam dan memesan minuman terlebih dahulu. Tidak menunggu terlalu lama, Reta pun akhirnya datang dan langsung marah marah.


" woy lo! bercanda lo itu nggak lucu! Lo tau gue hampir mati kena serangan jantung tadi! " ucap Reta terhenti setelah melihat aku hanya diam saja, meletakkan kepalaku di meja dan tidak menanggapinya sama sekali, nggak seperti biasanya yang selalu ngelawan dan nggak mau ngalah saat diamuk sama Reta.


" Lo kenapa hari ini lemes banget! apa Lo demam? " ucap Reta panik dan memegang kepalaku.


" Pusing atau maagmu kambuh, apa perlu aku antar ke rumah sakit? " ucapnya panik


" enggak aku cuma diambang kebingungan dan maaf soal tadi, karena kalau gak kayak gitu lo gak mau datang, " ucapku dengan nada malas, dengan kata kataku tadi Reta bernafas lega dan kembali duduk


" ya nggak lah, gue pasti datang kok! asalkan di traktir hehehe, " ucapnya cengengesan dan aku menghela nafas berat setelah mendengar ucapannya.


" Tapi minumannya Lo yang traktir ya? ya? ya? Difa kan cantik, lucu, baik hati dan gak pelit, " ucap Reta merayuku


" ya udah deh! " ucapku pasrah dengan menghembuskan nafas panjang


" yeah! thanks ya? " ucap Reta dengan loncat kegirangan


" segitu bahagianya kah lo gue traktir, " ucapku sinis


" ya ya lah ini kan pertama kali dalam hidup gue, lo traktir gue! mulai dari gue pertama kali ketemu sama lo sampai sekarang! " ucap Reta dengan menekankan setiap kata


" iya iya, tapi gue udah membiarkan lo tinggal secara gratis di apartemen gue, " ucapku mengelak


" benar tempatnya gratis, tapi perlu lo tau saat gue sampai di apartemen lo, baru satu hari di sana lampu sudah pada mati semua, kulkas sudah rusak dan tv juga. Setelah itu ada surat tagihan dari PLN dan ini yang membuatku semakin kaget, gila lo ya! masa iya dalam waktu satu bulan listriknya habis lima ratus dua puluh ribu! padahal di rumah gue lebih besar dari apartemen lo aja cuma habis tiga ratus ribu tiap bulan beda jauh di banding apartemen lo! lo pakai buat apa aja sih listrik di apartemen Lo? " ucap Reta menggebu gebu


" ya paling di rumah lo gak ada kulkas, AC dan tv, jadi ya habisnya sedikit, " ucapku mengelak. Bener juga sih kata Reta kenapa kok setiap bulan habis banyak ya bayar listriknya, aneh banget.


" Ada semua, malah di setiap ruangan pasti ada Ac nya sekarang, " ucap Reta dengan entengnya


" paling gak pernah di gunakan, " ucapku yang tetap saja ngelak


" iya sih kalau gak di gunakan ya dimatikan AC nya, " ucapnya sambil meminum minumannya. Apa mungkin karena aku gak pernah matiin acku, lampuku kan dua puluh empat jam gak pernah mati begitu pula dengan tvku jadi tagihan listrikku sampai sebanyak ini. Sampai sampai aku harus hutang ke pak Rehan setiap bayar listrik, karena sisa gajiku gak cukup buat bayar listrik.


" Tapi ngomong ngomong gue boleh pesen cemilan gak? kan gak enak kalau gak ada cemilannya? " ucap Reta dengan mata yang berbinar dan tidak tau malu


" iya, " ucapku malas


" mbak! " ucapnya memanggil karyawan di sana


" Oh ya hpmu baru ya? " ucap Reta setelah melihat hp baruku yang berada di meja


" oh ini? di kasih Andrian soalnya hpku dirusak sama Andrian, " ucap malas


" oh, tapi kok bisa hp lo sama Andrian? " ucapnya dengan penuh perasaan sampai sampai menyipitkan matanya


" entahlah gue juga tadi gak tanya ke dia "


" gara gara keteledoran lo, gue jadi malu sama suami lo? " ucap Reta heboh


" kenapa? " ucapku singkat


" waktu gue telpon hp lo, gue gak tau kalau yang angkat itu suami lo dan yang paling parahnya lagi! gue waktu emosi gara gara apartemen itu, jadilah semua umpatan yang ada di dunia ini keluar dari mulut gue! " ucap Reta dengan nada tinggi. Ah rasain lo mangkanya jangan suka ngumpatin orang jadi kena imbasnya. Apa lagi ngumpatinnya sama orang baik hati semperti aku. Aku tersenyum miring khas evil mendengar kata katanya.


" ngapain lo senyum kayak gitu! lo ngukurin gue ya!?" ucap Reta curiga melihat senyum evilku


" enggak! " ucapku dusta, sementara Reta menyipitkan matanya tidak percaya


" lagi pula itu kan bukan salah gue, " lanjutku mengalihkan pandanganku dari dia dan saat aku memandangnya, dia masih menyipitkan matanya ke arahku.


" Apa! apa! " ucapku menantang dia


" oh ya! kenapa lo lemes banget tadi? " tanya dua dan sudah tidak menyipitkan matanya, mungkin dia sudah tidak curiga lagi padaku.


" tadi itu… " ucapku yang terpotong olehnya


" tunggu dulu! lebih baik kita makan cemilan dulu! gue lapar! nanti aja lo ceritanya setelah makan! " ucap Reta sok tegas. What? perasaan aku yang pesan makanannya, tapi kok dia yang ngatur ya? kan seharusnya aku dan dengan tidak merasa bersalahnya dia menyantap makanan itu! Apakah dia sahabatku dari dulu? dan kenapa aku betah ya sama dia? Aku pun tersenyum tidak percaya melihat kelakuan perempuan di depanku ini. Aku pun ikut menyantap makanan bersama dia dengan cepat aga makanan yang dia pesan menggunakan uangku habis lagi, eh ralat maksudku yang dia pesan menggunakan kartu kreditnya Andrian. Lah ini baru benar kata katanya. Akhirnya aku makan dengan emosi sambil melihat wajah Reta yang tak tau malu itu.


" Sudah habiskan? " ucapku setelah ludes makanan dan minuman di hadapanku.


" oh ya ya, " ucap Reta dengan mulut yang masih penuh dengan makanan


" jadi gini, salah satu temanku…" ucapku terpotong olehnya lagi


" berhenti! teman yang mana? perasaan selain gue, Lo gak punya teman lagi! "ucap Reta curiga


" itu teman SMpku, " ucapku dusta dengan gelagat aneh


"teman SMP yang mana? yang gue tau Lo kan gak punya teman saat SMP? " ucap Reta semakin curiga


" adalah pokoknya, Lo gak tau! " ucapku yang masih mengelak


" oh ya udah teruskan! " ucap Reta pasrah karena elakan ku yang semakin menjadi