Single Perents

Single Perents
bagian 46 ( Andrian)



Melihat wanita yang aku cintai menderita seperti ini, rasanya sesak sekali. Dia wanita yang tulus, dia sangat menyayangi anaku walaupun tidak ada hubungan darah dengannya. Kenapa dia harus menderita seperti ini? Aku sudah mengalihkan pembicaraan, agar dia bisa melupakan kejadian tadi dan Rehan. Aku tahu walaupun itu tidak permanen, setidaknya bisa mengurangi rasa sedihnya. Tapi ternyata usahaku gagal, sekarang dia benar benar menangis.


" Oh ya! Apa sebaiknya aku membawa Rian kesini ya? " tanyaku ke dia


" gak usah, nanti dia punya alasan untuk tidak pergi ke sekolah! " ucapnya setelah menghapus air mata yang menetes di pipinya. Tiba tiba saja ada suara ketukan pintu, saat aku melihat ke arah datanya suara, Adi muncul dari balik pintu untuk memanggilku.


" Sebentar ya? " ucapku berpamitan denganya dan dia menjawabku dengan anggukan kepala.


" Ada apa? " tanyaku setelah berada di luar dan agak jauh dari kamar yang di tempati Difa.


" Aku ingin meminta izin ke kamu untuk menyerahkan bukti itu ke Firza! " ucap Adi


" lakukan saja yang kamu anggap benar dan jangan meminta izinku jika kamu tidak ragu! " ucapku tegas, karena kau sangat mempercayai temanku itu. Apalagi kalau kasus itu diserahkan Firza, mereka berdua adalah temanku dari kecil sampai sekarang. Kita sudah seperti saudara.


" Oke, tapi kamu harus menelponnya untuk menjelaskan kronologinya! " ucap Adi yang aku jawab dengan anggukan kepala. Setelah dia pergi aku langsung menelpon temanku itu.


" Firza! " ucapku dari balik telpon


" oh ya! Andri! Ada apa? " ucap Firza dari balik telpon


" bagaimana kabar kamu, istrimu dan anakmu? " ucapku yang bukan sekedar basa basi, karena kemarin dia meminjam uang dariku untuk biaya istrinya yang ingin melahirkan. Dia itu polisi yang terlalu jujur atau memiliki hutang banyak! Sudah sepuluh tahun dia tidak memiliki apa apa! Rumah saja ngontrak.


" Aku baik, begitu juga dengan anak anakku! Terimakasih bantuanmu dan aku pasti mengembalikan uangmu! " ucapnya dengan nada bahagia


" anak anakku? " ucapku bingung


" iya, aku memiliki bayi kembar! Dia sangat tampan sepertiku! " ucapnya antusias


" eeh selamat kawan! Usaha kamu akhirnya memuahkan hasil! " ucapku menggoda dan dia tertawa kencang


" kenapa kamu menelponku? Kalau untuk menagih hutang, sekarang aku gak ada uang! " ucapnya dengannada tinggi, padahal dia yang hutang?


" Lupakan saja tentang uangku, aku sudah merelakannya! Aku ingin meminta bantuanmu untuk menangani kasus Rehan, karena kasusnya berhubungan dengan Difa! Jangan kawatir, aku sudah menemukan bukti siapa orang yang melakukannya dan bukti itu akan dibawa Adi ke rumahmu! " ucapku panjang lebar menjelaskanya


" biar aku tebak, semua ini ada sangkut pautnya dengan Selena kan? " ucap Firza menebak dan tebakannya benar


" iya, tapi bukan Selena langsung, tangan kanannya! " ucapku menekankan pada kata ' tangan kanannya


" siapa? " ucap Firza penasaran


" Boy, kepala pengawalku, " ucapku dengan sedih mengingat penghiatanya. Kenapa bisa bisanya dia berani menghianatiku dan bodohnya aku bisa tidak mengetahui penghianat itu selama sepuluh tahu ini!


" aku ingin kamu menangkap Selena dan melepaskan boy! " ucapku serius, karena akau ingin menghukum penghianat itu dengan caraku sendiri. Tidak ada kata hidup bagi seorang penghianat.


" Akhirnya! Setelah sekian lama kamu ingin memenjarakan Selena! Dari awal sudah aku nasehati bahwa Selena itu bukan wanita baik dan sebenarnya kamu tidak mencintainya! " ucap Firza yang kembali menasehatiku yang terpotong dengan ucapanku.


" Jangan bilang kamu mencintai orang pertama kalau masih jatuh cinta ke orang kedua! Kamu tidak salah dalam hal itu, kalau dia memang menyayangi anakmu! Dia tidak akan membuang Rian! " ucapku melanjutkan ucapannya. Itu saja yang dia ucapkan berkali kali, sampai aku menghafalnya dengan jelas dan ucapnya selalu terngiang ngiang di kepalaku yang membuatku memutuskan untuk melepaskan dan menghukum Selena sesuai dengan kejahatanya dan tidak lagi menetupi perbuatanya.


" Benar sekali! Oke! Akan aku lakukan sesuai keinginanmu, " ucapnya dan setelah itu menutup telponya.


Saat aku ingin kembali ke kamar rawat Difa, ada empat polisi yang dicegah oleh pengawalku untuk masuk ke kamar rawat Difa. Terjadi kegaduhan disana, antara pengawalku dan keempat polisi itu. Saat melihat itu, aku langsung berlari menuju kamar rawatnya.


" Maaf pak, ini ada apa? " ucapku bingung dengan kedatangan mereka


" kami ingin menangkap Dinafa Putriana dalam khasus pembunuhan Rehan, " ucap polisi itu dengan menyerahkan surat penangkapan. Aku membaca surat penangkapan dengan teliti dan memamang benar surat itu ditunjukan untuk menangkap Difa. Bagaimana bisa terjadi?


" Maaf pak, tapi saudari Difa sedang sakit! Biarkan dia sembuh, setelah itu bapak bisa menangkapnya! " ucapku tegas


" Jangan halangi kami, atau kalian akan kami tangkap kerena sudah nelindungi pelaku! " ucap polisi itu. Aku mengisyaratkan ke pengawalku untuk membiarkan mereka masuk.


" Kamu! Telpon semua pengacaraku! " ucapku ke Tano, salah satu orang kepercayaanku. Setelah itu aku masuk mendahului polisi itu, agar menangkan Difa dan menyakinkannya bahwa semua ini akan baik baik saja. Benar dugaanku, saat melihat ada polisi, Difa langsung panik. Aku langsung menggenggam tanganya dengan erat.


" Aku tidak melakukanya! " ucapnya menangis sambil menggelengkan kepalanya


" Iya aku tau Difa, jadi kamu jangan khawatir, ini hanya kesalah pahaman! Oke? " ucapku menyakinkan Difa dan hal itu yang membuat Difa sedikit lebih tenang.


" Bapak lihat sendiri kan? " ucapku emosi karena mereka tidak mempercayai ucapanku.


" Baiklah! " ucap polisi itu dan memborgol tangan kanan Difa dengan lengan ranjang rumah sakit. Aku hanya diam melihatnya, karena untuk saat ini tidak ada yang bisa aku lakukan. Tapi yang pasti, aku akan membebaskanmu dengan segala cara. Tidak lama setelah itu, semua pengacaraku atau lebih tepatnya sembilan pengacaraku datang dan sedang bernego dengan polisi itu. Aku tidak memperhatikan mereka, aku hanya berfokus ke Difa yang sedang gemetar.


" Aku tidak melakukannya! " ucapnya sekali lagi sambil menggelengkan kepalanya. Aku tidak pernah melihat keadaan Difa seburuk ini, kenapa hal seburuk ini terjadi pada dirimu Difa! Trik apa lagi yang sekarang kamu mainkan Selena? Kenapa kamu bisa menjadi wanita seburuk ini! Kamu sangat berbeda dengan Selena yang aku kenal dulu!


" Iya Difa! Iya, aku tau! Tenang ya? Aku janji pandamu akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat! " ucapku dengan yakin sambil mengelus kepalanya. Tiba tiba saja salah satu polisi itu datang dan melepaskan borgol itu. Tidak sia sia aku membayar mereka, mereka bisa memahami apa yang aku inginkan, tanpa mengucapkannya dan satu lagi, mereka cepat sekali datannya. Benar benar bisa diharapkan. Semua polisi itu pergi dari ruangan ini dan berjaga diluar.


" Kalian boleh pergi! Aku akan menelpon jika membutuhkan kalian lagi! " ucapku ke mereka dan setelah itu mereka semua pergi. Tiba tiba setelah itu telponku berdering dengan tertera nomor tidak dikenal.


" Halo ada apa? " ucapku


" Apa! Adi mengalami kecelakaan! " ucapku kaget