
Aku mencari kontak Andrian yang ada ditelpon baruku. Sempat was was sih karena takutnya gak ada nomornya Andrian karena sudah aku cari berkali kali tidak ada namanya Andrian. Aku pun menelusurinya sekali lagi mungkin tertinggal dan akhirnya aku menemukanya tapi disini namanya suami bukan Andrian dan disematkan juga. Tidak menunggu lama aku menelponnya.
" Halo, halo? " ucap Andrian dari balik telpon
" ah iya lo masih bawa tas yang gue kasi ke lo tadi siang di kafe? " ucapku yang agak canggung karena perkataan Reta tadi
" kenapa? " ucap Andrian singkat
" didalam sana ada hpnya mbok Surti yang mau gue servisin, " ucapku
" oh, " ucap Andrian dengan nada sama
" Fina! " ucap Andrian pada seketarisnya yang bisa terdengar di telpon walaupun suaranya kecil
" iya pak, " ucap Fina
" tolong kamu carikan tas yang saya buang di kafe yang depan pusat kota, " ucap Andrian ke seketarisnya. What dibuang jadi tas itu dibuang di kafe parah banget Andrian. Masak iya sih tas yang aku berikan ke dia dibuang! segitu benci kah dia ke aku! Ternyata aku yang benar buakan Reta! apa kata Reta tadi! saling mencintai? apanya! trus kenapa Andrian Membuang tas yang aku berikan kedia, padahal aku belum bilang bahawa isi tas itu ada jasnya Adi! Ternya tidak ada yang lebih memahami kita selain diri kita sendiri! kalau bigitu aku gak mau lagi minta nasehat ke Rata lagi! mulai sekarang aku menjalani kehidupanku dengan caraku sendiri! dan tidak meminta nasebat orang lain.
" Baik pak, " ucap Fina
" jangan kawatir nanti aku serviskan sekalian, " ucap Andrian
" oke terima kasih, " ucapku yang kemudian menutup telponku dan kembali melakukan aktivitasku yang tertunda yaitu rebahan dan memainkan telpon baruku. Sebenarnya aku senang sih! karena telponku dirusak sama Andrian karena telponku itu udah lama sejak aku kelas satu SMA sampai sekarang! udah lama banget kan?dan pasti udah jadul bangetkan? mau giamana lagi keluargaku gak punya uang buat beli jangankan buat beli telpon buat makan aja gak bisa! tapi sekarang telponku udah canggih dan merupakan keluaran terbaru dan pastinya sangat mahal sih! pasti dong masak uang banyak beliin telponya ecek ecek ya gak mungkin lah! malu dong!
Saat memainkan telpon gak kerasa udah petang! dan aku pun turun ke bahawa menunggu Rian di teras rumah. Dan gak lama setelah itu malah Andrian yang datang bukan Rian! Mau aku samperin biasalahseperti kayak istri beneran! eh ternyata dia datangnya bersama Selena, jadi ya! gak jadi duduk aja di teras dan mengalihkan pandangan dari mereka berdu pura pura aja mereka arwah yang tak terlihat. Dan tiba tiba aja mereka menghampiriku! ya aku tetap aja pura pura gak ngelihat merekan kan aku juga gak tau kalau mereka beneran menghampiriku bukan cuma lewat aja di depanku! kan nantia aku jadi malu.
" Difa kenapa kamu di luar? dan dimana Rian? " ucap Andrian yang sudah ada di depanku dengan digandeng sama Selena
" oh gue lagi nunggu Rian, " ucapku malas entang kenapa aku malas jika berhadapat dengan mereka berdua
" nunggu Rian? emangnya Rian kemana? " tanya Andrian sekali lagi
" ke rumah ortu lo! " ucapku singkat dengan wajah tanpa ekspresi
" sayang kok anak kita ada di sana sih! kamu tau kan aku gak suka kalau Rian sama mereka! merekan kan yang sudah memisahkan kita dan membuat hidup kita berantakan! " ucap Selena dengan manja ke Andrian yang membuatku bergidik ngeri. Yang ada dalam pikiranku saat itu ternya ada perempuan yang seperti itu di bumi ini! yang gak tau malunya manja kesuami orang di depan istrinya lagi!
" Kenapa kamu memberiakan Rian kemereka! kamu tau kamu itu bukan orang tuanya! jadi jangan pernah memberikan Rian kemereka tanpa sepengetahuan atau pesetujuan kami! ingat itu! " ucap Andrian nada tinggi dan penuh penekanan, dengan melirik ke arah Selana seakan akan dia takut jika Selena ngambek. Sebegitu takut kah dia ke Selena sampia sampai menyakiti hatiku seperti ini. Dan sekarang aku mencoba m3nahan air mataku karenaka kata katanya itu. Memang benar aku buak orang yang melahirkan Rian tapi aku adalah bundanya Rian bunda yang membesarkan Rian. Sebelum sempat menjawab perkataan Andrian, Rian datang bersama dengan Tino.
" Unda! " teriak Rian setelah diturunkan Tino dari sepedah motor dan berlari ke arhku. Akupun berdiri dan menggendong Rian, sementara mereka melihatku dan Rian saja. Lihatkam siapa ibunya Rian! kalau memang mereka orang tua Rian kenapa waktu tadi Rian berteriak dan berlari ke arahku? kenapa buakan mereka.
" Kak Andrian, kak Difa kenapa kok di luar? " tanya Tino yang pura pura tidak tau padahal dia udah tau karena dia yang nasehatiku kalau si Selena itu licik, pasti tau setiap ada Selena pasti ada masalha
" Ayo Rian kita masuk, " ucapku yang masih mengendong Rian
" ayo Tino masuk! " ajakku ke Tino
" oh iya kak, " ucap Tino dan kemudian mengikutiku dari belakang
" emang tadi ada apa sih kak? " ucap Tino kepo dengan berbisik
" kepo amat kamu! nanti aja deh aku ceritain, " ucpaku ke Tino juga dengan berbisik. Sementara mereka tanpa berkata kata mengikuti aku dan Tino masuk dari belakang.
" Tino kenapa kamu bawa anak kakak! tanpa izin kekakak? " tanya Andrian yang berada di ruang tamu dengan nasa sedikit meninggi yang menggambarkan pkemarahannya.
" Ya mau gimana lagi kak! itu peritah mama sama papa jadi harus aku turutin, kalau enggak nanti aku jadi anak durhaka, terus masuk neraka lagi! lagipula mereka kan kakek dan neneknya Rian, " ucap Tino dengan nada santai, aku yang mencium bau bau pertengkaran segera membawa Rian ke atas.
" Rian ditutup ya telinganya? " ucapku ke Rian agar tidak mendengar pertengkaran mereka dan Rian hanya mengangguk patuh
" walaupun begitu kita ini orang tua Rian! " ucap Selena dengan nada tinggi yang terdengar sampai di atas
" kita? kita apanya! ortu Rian itu cuma kak Dina! ingat itu! " ucap Tino gak kalah kerasnya
" Rian, sekarang Rian masuk ya ke kamar bermain sendiri ya? bunda masih ada urusan, " ucapku ke Rian dengan lembut sambil mengelus kepalanya dan Rian menjawabnya dengan menganguk. Maafkan bunda ya Rian? bunda mau membantu om Tino kasian om Tino, nanti om Tino dimarahan habis habisan sama mereka karena membela bunda.
" Aku orang yang melahirkan Rian! " teriak Selena yang masih terdengar dari atas
" melahirkan apa? iya benar kamu yang melahirka terus kemudian dibuang? ibu macam apa kamu itu? " ucap Tino dengan nada mengejek. Sementara aku masih menuruni tangga dengan tergesah gesah.
" Liahatlah sayang adik kamu! menghina hina aku, " ucap Selena dengan manja ke Andrian, aku melihat ekspresi bingung diwajah Andrian, setelah melihatku menuruni tangga.
" Sayang, sayang! kok diem sih! belain aku dong! " ucap Selena manja dengan menggerakkan tangan Andrian
" iya sayang, " ucap Andrian singkat
" kak ngampain kamu nurutin wanita itu! " ucap Tino marah
" Tino! " teriak Andrian
" Tino sudah, ayo ikut kakak! " ucapku sambil menarik tangan Tino ke teras agar pertengkaran ini berakhir. Bukanya aku takut sama mereka, tapi aku malas mau marah marah, apalagi berhadapan dengan mereka berdua.