Single Perents

Single Perents
bagian 45



Setelah puas menasih di kamar mandi, aku pergi keluar mencari makanan kesukaan untuk mas Rehan yaitu empek empek. Untung saja penjual empek empek itu tidak jauh dari rumah sakit tenpat mas Rehan dirawat.Karena tempat ini tidak pernah sepi pengunjuk dan rasanya enak, jadi aku harus mengantri panjang untuk dapat membelinya. Dulu aku pernah dibawa ke sini sama mas Rehan saat pertama kali menjadi karyawan disana, karena waktu itu tidak ada yang mau merayakan pesta penyambutanku. Hanya mas Rehan yang mau merayakannya, dia selalu baik, memperhatikan diriku dan perasaanku.


Setelah selesai membelinya, aku langsung bergegas kembali ke rumah sakit, agar mas Rehan tidak menunggu terlalu lama. Aku melewati lorong rumah sakit dengan perasaan gembira. Mungkin ini adalah makanan terakhir yang aku belikan ke dia dan untuk itu aku memberikan yang terbaik untuk dia.


Saat aku membuka pintu kamar mas Rehan, aku terkejut, sampai menjatuhkan bukus makanan itu saat melihat banyak darah berceceran. Ranjang putih berubah berwarna merah dan dinding dinding banyak percikan darah, jejak kaki merah di lantai dan barang barang yang berantakan menandakan perlawanan. Setelah itu pandanganku jatuh ke seorang pria yang tergeletak tak berdaya di bawah ranjang rumah sakit. Dengan gemetar aku menghampiri pria itu dan membalik tubuhnya yang tengkurap. Setelah membaliknya, ternyata orang itu adalah mas Rehan! Seketika itu juga tubuhku langsung lemas dan terjatuh. Air mataku mengalir dengan deras dan langsung menekan pembuluh nadinya yang ada di tangan. Sayangnya aku tidak menemukan tanda tanda kehidupan disana.


" Ma ma mas Re Rehan! " ucapku gemetar dan tubuhku melemas, air mataku mengalir tidak kunjung berhenti. Jika kamu menyuruhku untuk menjauh darimu, maka katakan saja! Bukan dengan seperti ini mas Rehan! Setidaknya kamu memberikan perpisahan yang indah buat kita!Setidaknya kamu membiarkan aku melihatmu bahagia! Agar aku bisa merelakanmu dan menjalani hidupku tanpa dirimu! Jika seperti ini, bagaimana aku bisa menjalani hidupku tanpa dirimu!


Tiba tiba saja pintu ruangan ini terbuka dan memunculkan sosok laki laki yang aku kenal, Adi. Dia membuka pintu itu dengan ekspresi wajah panik, melihatku dan mas Rehan, setelah itu menutup kembali pintu itu. Mataku kembali menatap mas Rehan yang sudah tidak bernyawa dengan tatapan kosong. Sekali lagi pintu ruangan ini terbuka dan ternyata orang itu adalah Andrian yang sekarang sedang memelukku dan mengusap kepalaku untuk menenagka aku.Bukanya tenang, aku malah terisak dan menangis menjadi jadi jadi.


" Kalian cepat panggil dokter dan bersihakan jejakku dan jejak Difa! " ucap Andrian ke anak buahnya, setelah aku sudah tenang.


" Kamu hanya memegang tangannya saja? " ucap Andrian dan aku jawab dengan anggukan. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang sedang dia maksud, tapi aku hanya bisa menurutinya. Aku sudah tidak punya tenaga untuk menanyakannya.


" Ayo! " ucapnya sambil menggendongku ala bridal style, dengan spontan mengalungkan tanganku lehernya dan membawaku pergi dari sini. Sebelum pergia aku sempat melihat mas Rehan dan itu adalah terakhir kalinya aku melihat mas Rehan.


Aku heran, kenapa orang sebaik mas Rehan ada yang berbuat jahat padanya! Apa motifnya kenapa dia membunub mas Rehan? Yang aku tahu mas Rehan itu tidak punya musuh, kalau teman? Banyak.


Andrian menggendongku melewati lorong lorong rumah sakit dan setelah itu naik ke lift yang langsung menuju ke basement. Setelah pitu lift terbuka, kami langsung disambut mobil. Sopir itu membukakan pintu mobil itu untuk kami, Andrian meletakkan aku dengan perlahan di kursi mobil dan setelah itu dia masuk di arah yang berlawanan dengan dibukakan oleh satu anak buahnya yang dari tadi mengikutibkami. Mobil itu melaju dengan cepat meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan dari kamar mas Rehan sampai di mobil, Andrian tidak pernah sekalipun menurunkan aku.


Sepanjang perjalanan aku hanya menatap mobil dan sesekali menangis saat mengingat mas Rehan dan kenangan kenangan kami. Aku belum siap dengan kepergianya yang mendadak itu! Setelah sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil ini berhenti di depan rumah yang sangat asing bagiku. Ini bukan rumah Andrian yang aku tempati dulu. Setalah pintu mobil itu terbuka, Andrian kembali menggendoku masuk ke dalam rumah itu. Saat pitu itu dibuka oleh anak buahnya yang dari tadi mengikuti kami, tiba tiba saja aku mendengar teriakan Rian yang memanggilku.


" Bunda! " teriaknya sabil berlari ke arah kami dan diikuti dua baby sisternya yang berteriak untuk memeringati agar Rian tidak berlari.


" Tuan muda! Jangan berliri! Nanti bisa jatuh! " ucap salah satu baby sister itu dqn sama sekali tidak digubris Rian.


" bunda lagi gak enak badan! Jadi Rian bermain dulu sama bibi, ya? " ucap Andrian dengan lembut


" iya pa! " ucapnya setujuh dengan ucapan papanya itu


" tolong turunkan aku! " ucapku dengan nada lemas, tapi aku merasa jasian dengan Andrian yang sedari tadi menggendongku. Anehnya untuk saat ini, tanpa berdebat dia langsung menuritiku. Aku melangkah demi selangkah dan mulai goyang, kepalaku mulai pusing dan tatapan mataku mulai kabur. Setelah cukup bertahan untuk melangngkah, aku pun mulai melemas dan kesdaranku menghilang. Aku merasakan ada seseorang dengan segap menangkapku dari belakang dan aku yakini itu Andrian.


Saat membuka mata dengan perlahan, aku sudah berada ruangan yang serba putih dengan infus yang terpasang ditangan kiriku. Sepertinya aku berada di rumah sakit.


" Kamu sudah bangun? " tanya Andrian yang sekarang berada di samping kananku dan sekarang sedang memegang tanganku. Aku berusaha bangun dari tempat tidur dan dengan sigap dia langsung membantuku.


" Apakah kamu mau minum? " ucap Andrian menawariku dan aku menjawabnya dengan anggukan kepala. Dia mengambilkan minum itu dan membantuku meminumnya dengan perlahan.


" Apa kata dokter? " ucapku dengan suarah paruh, khas suara orang sakit


" gak ada! Cuma disuruh istirahat dan tekanan darahmu rendah, itu saja! Jadi sekarang kamu harus istirahat! " ucapnya dengan tersenyum , sambil membaringkanku kembail ke tempat tidurku.


" Bagaimana dengan mas Rehan! " ucapku yang tiba tiba teringat dirinya. Untuk saat ini aku sangat ingin mengetahu kabarnya, apakah dia sudah dimakamkan? Bagaimana dengan orang tuanya? Dia adalah anak satu satunya dan pastinya orang tuanya sangat terpukul. Bagaimana dengan pelakunya apakah sudah tertangkap?


" Polisi sedang memeriknya dan keluarganya tidak ingin dia diotopsi! " ucapnya Andrian dan sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku, karena saat mengatakanya dia tidak meanatap mataku, tidak seperti biasanya.


" Oh ya, Rian tadi ingin sekali ikut ke rumah sakit saat melihatmu pingsang! Dia sangat menghawatirkan kamu, sampai sampai dia menangis! Dia itu selalu pilih kasih, dia lebih menyayangimu daripada aku! " ucapnya tersenyum dan aku yakini untuk mengalihkan pembicaraan tadi, mungkin karena melihat mataku yang berkaca karkaca.