
" Ri Rian habis kecelakaan mas! " Ucapku di sisa sisa tangisanku
" kecelakaan! Sekarang kamu dimana? Kamu share lokasimu sekarang! Sekarang kamu tenang aku akan ke sana! " Ucap mas Rehan panik.
Setelah share lokasiku aku diam mematung di depan ruang tempat Rian dirawat. Tidak menunggu lama mas Rehan datang dan langsung memelukku untuk menenagkan aku. Hal itu membuatku menangis menjadi jadi di pelukan mas Rehan. Aku bersyukur ada mas Rehan, ada orang yang aku hadalkan apalagi disituaisi seperti ini aku sangat membutuhkan orang yang selalu disampingku. Tangisanku sudah meredah, karena tidak mendengar tangisanku mas Rehan melepaskan pelukannya.Tak lama setelah itu dokter keluar, aku pun alngsung menghampiri dokter itu dan menanyakan kondisi Rian.
" Dok! Bagaimana keadaan anak saya? " ucapku ke dokter itu dengan kawatir
" Siapa disini yang bergolongan darah B negatif? Kebetulan pasukan darah itu kurang di rumah sakit ini dan agak sulit menemukan pendonornya, " ucap dokter itu panjang lebar. Golongan darah B negatif? Aku golongan darahnya A negatif dan nas Rehan O positif.
" Bagaimana dengan golongan darah saya dok? " ucap mas Rehan mengajkan diri.
" Maaf pak, golongn darah bapak apa ya? " ucap dokter itu
" O positif pak! " ucap mas Rehan tegas
" Maaf pak kalau golongan darah B negatif hanya dapat menerima transfusi darah dari golongan darah B negatif dan O negatif, " ucap dokter itu menjelaskan
" mungkin kerabat bapak atau ibu, karena kita membutuhkanya cepat, kalau tidak nyawa anak ibu dan bapak tidak bisa terselamatkan, " ucap dokter itu kemudian pergi. Bagaimana ini? Aku harus mencari dimana pendonor darah untuk Rian? Kerabat? Aku tidak memiliki kerabat. Aku hanya memiliki sahabat yaitu Reta, tapi sayang golongan darah Reta sama dengan golongan darah mas Rehan.
" Kamu jangan kawatir! Secepatnya saya akan menemukan pendonor untuk Rian! " ucap mas Rehan meyakinkan aku dengan memegang bahuku dan aku membalas ucapan mas Rehan dengan anggukan kepala. Setelah mengatakan itu mas Rehan langsung pergi menelpon mencari bantuan untuk menemukan pendonor untuk Rian.
Darah B negatif? Siapa kira kira yang memiliki golongan darah itu? Apa mungkin Andrian atau Selena yang memiliki golongan darah itu? Karena mereka orang rua kandung Rian dan pastinya diantara keduanya memiliki golongan yang sama dengan Rian. Tapi masalahnya aku tidak tau kabar mereka berdua. Apa aku harus pergi ke kantor Andrian untuk menemui dia dan memintanya untuk mendonorkan darah untuk Rian?
" Aku sudah mentelpon rumah sakit rumah sakit lain dan semua kerabatku dan sayangnya mereka tidak memiliki golongan jenis itu! Tapi aku akan berusaha untuk menemukan secepantanya! " ucap mas Rehan dengan wajah menyesal dan lagi lagi dia meyakunkan aku.
Tidak ada cara lain selain menemui Andrian, karena Rian membutuhkan secepatnya donor darah itu. Semoga saja Andrian berada di kantornya.
" Mas Reha! " ucapku memanggil mas Rehan yang membat langkahnya terhenti dan berbalik ke arahku.
" Iya Difa, " ucap mas Rehan
" Tolong jaga Rian! Aku akan pergi menemui Andrian si kantornya, " ucapku yakin dengan keputusanku
" aku antarkan kamu ya? " tawaran mas Rehan
" nanti Rian tidak ada yang menjaga! Jangan kawatir mas aku tidak apa apa! " ucapku meyakinkan mas Rehan dan langsung pergi dengan mengendarai taksi.
Dimomen momen seperti inilah aku dan mas Rehan saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Berhubung jarak rumah sakit dan kantor Andrian tidak jauh jadi tidak memakan waktu lama. Setelah sampai dikantor Andrian, aku membayar taksi dan berlari masuk.
" Mbak saya mau bertemu dengan pak Andrian! " ucapku di mbak mbak resepsionis
" Tapi mabk ini sangat penting menyakut nyawa anaknya! " ucapku meyakinkan mbak Resepsionis
" tapi maaf bu, saya hanya mengikuti prosedur, " ucap mbak resepsionis. Aku tidak bisa memaksanya lagi, karena dia juga pekerja yang mengikuti aturan yang berlaku ditempat kerjanya.
" Kalau bigutu tolong beritahu saya dimana tempat meeting itu?Tolong mbak! Tolong beritahu saya! Ini menyakut dengan nyawa! " ucapku memohon
" di lantai lima bu, " ucap mbak resepsionis ragu ragu. Tanpa memedulikan apapun lagi aku langsung berlari ke lift. Aku memencet beberapa kali, tapi tetap saja lift itu tidak terbuka. Karena lama tidak terbuka, aku memutuskan untuk naik lewat tangga. Aku dengan cepat menaiki tangga ini, yang anehnya aku tidak merasakan capek sama sekali.
" Maaf mas dimana tepat meetingnya? " tanyaku ke salah satu karyawan itu
" mbak tinggal lurus setelah itu belok kanan dan ruanganya berada di paling ujung lorong, " ucap karyawan itu.
" terima kasih mas, " ucapku kemudan berlali menuju tempat itu. Banyak mata yang tertuj ke aeahku, tapi aku tidak meperdulikan tatapan mereka yang aku pedulikan saat ini keselamatan Rian. Tanpa membuang buang waktu aku langsung masuk begizu saja ke ruang meeting.
" Andrian! " ucapku yang melihat Andrian sedang duduk dan ada seseorang yang sedang mepresentasikan sesuatu yang tidak aku mengerti. Banyak orang yang menatapku di ruangan ini, bagaimana tidak menatap. Tiba tiba ada orang yang masuk begitu saja dan memanggil bosnya dengan namanya lansung.
" Difa? " ucap Andrian heran, beranhak dari tempat dudknya dan mengahampiriku.
" Andrian! Ri Rian, " ucapku yang tidak bisa menahan air mataku. Melihat air mataku Andrian langsung paham dan nembubarkan meetingnya.
" Pertemuan kali ini saya bubarkan dan di lanjut minggu depan! " ucap Andrian ke karyawanya. Setelah semuanya pergi barulah Andrian menanyakan apa yang terjadi.
" Ada apa dengan Rian? " ucap Andrian yang mulai kawatir
" Ri Rian mengalami kecelakan dan sekarang sangat membutuhkan donor darah, " ucapku dissela sela tangisanku. Andrian tidak mengatakan sepatah katapun dan langsung berjalan setengah berlari. Aku mengikutinya dari belakang dan diikuti dengan Adi juga. Kami menaiki lift yang khusus derektur jadi tidak menunggu waktu lama. Setelah lift terbuka dengan cepat kami menuju ke mobil yang ternyata sudah disediakan di pintu masuk.
Sesampainya di rumah sakit, tanpa diberitahu Andrian langsung pergi ke ruang IGD dan kebetulan dokter keluar dari ruang IGD.
" Dokter darah saya B negatif! " ucap Andrian tapa basa basi
" kalau bigitu bapak bisa mengikuti suster ini, " ucap dokter itu menunjuk susuter yang berada disampingnya.
" Mari pak! " ucap suster itu ramah, Andrian mengikuti susuter itu. Rasanya agak lega setelah menemukan pendonor untuk Rian.
" Difa, kamu tidak apa apa? " ucap mas Rehan yang melihatku agak pucat dan berantakan
" tidak apa apa mas, " ucapku dengan tersenyum, meyakinkan mas Rehan kalau aku tidak apa apa, mungkin cuma kecapean. Setelah itu suasana menjadi hening, hanya menunggu Andrian selesai donor darah. Adi juga dari tadi hanya diam tidak menanyakan apa apa, tidak seperti dulu. Seakan akan sekarang aku seperti orang asing baginya.