
Sesampainya di perumahan yang menjadi tempat tinggal aku dan Rian sekarang. Rumahnya berkelas dengan arsitektur modern dengan taman mini di depannya dan sebagai dinding dari rumah itu terbuat dari kaca yaitu di bagian ruang tamu, dapur dan tangga yang menuju ke atas. Cat di rumah ini berwarna jadi cocok untuk di tinggali anak kecil. Di rumah ini terdapat lima ruangan di lantai atas diantaranya tiga tempat tidur berserta kamar mandinya, satu tempat untuk Rian bermain yang seluruh ruangan itu di penuhi oleh mainan serta satu ruangan untuk bersantai dengan satu sofa panjang dan satu televisi besar. Dan enam ruangan di lantai bawah diantaranya satu ruangan tamu yang besar, satu kamar mandi untuk tamu, dapur, ruang makan, kamar untuk pembantu dan satu ruang kosong dan semua barang barang kami sudah tertata rapi disini. Rian sangat bahagia semenjak datang kesini dia berlarian kesana kemari.
" Rian jangan lari larian "
dan Rian menyenggolku membuat aku sulit menyeimbangkan diri sehingga terjatuh, maklum lah kan habis sakit jadi jatuh kalau disenggol sama anak tiga tahunan. Aku langsung menutup mataku takut jatuh ke lantai karena jatuh itu sakit. Aku sampai heran kenapa ya kalau jatuh selalu sakit dari jauh dari tangga, jatuh ke tanah sampai sampai jatuh cinta, sakit kalau ditinggalin apalagi pas lagi sayang sayangnya. Sebentar kok aku gak ngerasa sakit ya, saat aku membuka mata yang ada di hadapanku adalah sosok Andrian dan jantungku mulai merota ronta. Pantesan gak ngerasa sakit ternyata ada Andrian yang dengan sigap menangkapku dari belakang. Aku pun segera ke posisi berdiri kalau lama lama diposisi itu bisa jantungan aku.
" Anda tidak apapa? "
" iya, " ucapku dengan nada dingin
" unda maafin Ian, " ucap Rian menyesal dengan menundukkan kepalanya
" gak papa Rian lain kali jangan lari larian ya? nanti kalau Rian yang jatuh kan sakit! " ucapku menasehati Rian. Rian langsung memeluk kakiku dan aku mengelus rambutnya. Mana bisa aku marah pada anak semanis dan selucu Rian.
" Ini mbok Surti pembantu disini, ini Boby kepala keamanan, ini mas Tejo tukang kebun dan ini pak Joko supir, " ucap Andrian mengenalkan orang orang yang bekerja disini dan mereka berbaris dengan rapi. Setelah itu kami ke lantai atas. kamar kami sudah di tentukan kamar Andrian berada di dekat tangga tapi kamar kalau kesini, kamarku di sebelahnya kamar Andrian dan kamar Rian berada di tengah antara kamarku dan ruang bermain Rian. Dan sekarang Rian berada di ruang bermain bersama dengan Andrian sementara aku berada di kamar karena kata dokter harus beristirahat penuh, serasa sakit parah aku. Tadiny Rian memintaku untuk menemaninya bermain dan untungnya Rian anaknya nurut dan pengertian jadi aku jelasin sedikit udah ngerti dia. Tidak membutuhkan waktu lama aku pun segera menutup mataku. Aku pun terbangun karena kehausan dan sakit di kepalaku, saat aku melihat jam dinding yang ada dikamarku menunjukkan pukul dua belas malam. Aku pun segera mengambil obat didalam tasku dan menuju dapur untuk mengambil minum. Suasana disini gelap sekali hanya ada lampu jalan yang menerangi rumah ini. Aku berjalan dengan sempoyongan, sesampainya di dapur aku segera meminum obat itu dan kembali ke kamarku. Aku heran dengan obat ini kenapa gak mempan sih, gak sembuh malah pusing aku, apa mungkin salah minum obat ya? halah terserah aja deh besok aja minum obatnya yang penting sekarang aku tidur dulu aja udah ngantuk. Aku masuk ke kamarku dan langsung berbaring di ranjanngku. Waktu pagi hari saat bangun aku merasakan sesuatu yang berat di perutku. Apa sih ini aku pun mulai membuka mataku dan sosok Andrian yang berada di hadapanku. Aku hanya dia terpaku otakku memperoses apa yang sedang terjadi. Masak ini mimpi sih, aku aku mencubit pipiku, aww sakit, kalau bukain mimpi berarti nyata dong dan seketika aku pun menjerit aaaah. Jeritanku tadi membangunkan Adrian, dia melepaskan pelukannya di perutku dan langsung membungkam mulutku em em em. Aku memukuli tangan Andrian agar melepaskan bungkamnya karena aku sudah kehabisan napas.
" Jangan teriak nanti Rian bangun! " ucap Andrian setelah itu melepaskan bungkamnya
hush hush hush dan aku pun langsung ke posisi duduk.
" Lo mau bunuh gue! trus ngapain lo di kamar gue! jangan jangan…" ucapku dengan ketus
" yang harusnya bertanya seperti itu saya, ngapain anda di kamar saya? " ucapnya yang sudah di posisi duduk dan kami saling berhadapan. Tunggu dulu kamarnya dia ini kan kamarku ngaco deh dia.
" Jangan ngaco deh lo! jelas jelas ini kamar gue! "
" coba anda lihat di sekeliling Anda! "
" Ya ini semua salah lo! coba kalau setiap kamar ada yang bedain dan juga besok besok lampunya diganti dengan lampu otomatis, supaya gue gak salah kamar lagi! " ucapku memerah yang kemudian pergi dari kamar Andrian dengan meninggalkan Andrian yang masih terpaku di tempat tidur. uh akhirnya gak malu aku, siapa suruh ngelawan cewek. Kok bisa sih aku tapi gak papa ambil aja hikmahnya sekarang kan kepalaku gak sakit lagi. Aku pergi ke lantai bawah membantu mbok Surti menyiapkan sarapan dan soal Rian kan ada Andrian yang bangunin nanti.
Saat di dalam mobil Andrian mengawali percakapannya. Oh iya tadi pas mau berangkat ceritanya sih aku mau naik motor berhubung motorku masih di apartemenku jadi aku dan Rian sekarang diantarkan Andrian sekalian mau ngurusin perpindahan sekolah Rian.
" Saya gak suka anda bekerja di restoran itu, keluar dari restoran itu dan saya akan memberikan pekerjaan di perusahaan saya! "
aku akui tawaran Andrian cukup menggiurkan tapi aku sudah terbiasa dan nyaman dengan lingkungan disana, aku gak suka di lingkungan perkantoran disana penuh persaingan dan jatuh menjatuhkan.
" Gak perlu gue suka kerja disana, buang jauh jauh deh tawar lo! lagi pula lo bukan siapa siapa gue! jadi jangan ikut campur hidup gue! " ucapku dengan ketus
maafin aku Andrian, aku banyak salah deh sama dia dari mulai ketemu sampai sekarang aku bicaranya ketus sama Adrian, padahal dia udah banyak nolong aku dan gak ada terima kasihnya lagi.
Saat didepan restoran aku melihat pak Andrian keluar dari mobilnya dengan wajah yang penuh memar dan berjalan dengan sempoyongan. Aku pun segera menghampiri dia.
" Pak Rehan kok bisa kayak gini sih, " ucapku kwatir karena aku sudah menganggap pak Rehan seperti kakak aku sendiri.
" Apa jangan jangan semua ini karena Andrian, bapak sudah ke rumah sakit? "
" bukan Andrian tapi bodyguardnya, aku sudah ke rumah sakit kemarin "
gak ku sangka si Andrian bisa sampek kayak gitu gara gara masalah sepele, sungguh keterlaluan Andrian.
" Kalau begitu tuntun aja pak, bapak kan pengacara! "
" justru itu waktu kejadian gak ada kamera CCTV, saksi mata dan semua bukti sudah dibersihkan sama dia, jadi sulit buat nuntut dia! "