
***
"Maafkan saya tuan muda, jika anda bertanya soal status Nona muda dan kenapa bisa tinggal di sini. Saya rasa anda harus bertanya pada Tuan dan Nyonya besar. " sahut bibi itu menunduk.
"Bibi Yuli, bibi sudah bekerja di rumah kami selama puluhan tahun. Untuk itu aku menghargai bibi, tapi bukan berarti bibi bisa menjawab ku secara urakan. " kata Riyan dingin.
"Maafkan saya Tuan muda, saya hanya mengikuti perintah Nyonya Airin. "
"Tolong, tolong jangan marah sama bibi. Bibi Yuli gak tau apa-apa. Om kalu mau tau siapa aku, kenapa aku bisa di sini. Tanya aja sana sama Om Agung sama tante Airin. " Vania berjalan cepat untuk menghindari Riyan.
Namun dengan cepat Riyan menahan tangan Vania.
"Bibi pergi dulu aja. " kata Vania menatap tersenyum pada wanita paruh baya itu.
"Tapi Non, nanti no-"
"Udah gak papa bi, bibi pergi aja dulu. Vania baik-baik aja kok. Vania bisa urus ini sendiri. " Yakin Vania. Bibi Yuli menuruti kata-kata Vania. Beliau segera pergi meninggalkan Riyan dan Vania di sana.
Vania mendongak, agar bisa bertatapan langsung dengan mata Riyan.
"Om mau apa? Kan udah aku bilang. Aku di sini atas permintaan Om Agung sama Tante Airin. " Vania mulai membuka suaranya.
Riyan diam, entah tidak tau kenapa dia diam.
"Om? " panggil Vania saat tak mendapatkan respon apapun dari Riyan.
Tampak wajah Riyan tersentak halus.
"Kamu siapa? Dan kenapa bisa ada di sini? " tanya Riyan.
"Aku Vania Keyland, dan kenapa aku bisa di sini itu karena ... " Vania berhenti bicara sebentar.
Karena Om sendiri yang sering bawa aku kasini dan memperkenalkan aku sama Om Agung dan Tante Airin.
Lanjut Vania dalam hati. Yah cukup dalam hati, atau Riyan bisa berfikir bahwa Vania benar-benar tidak waras. Karna faktanya, memang hanya Vania sendiri yang mengingat itu.
"Ya, kenapa kau bisa di sini? " tanya Riyan ulang.
Apa ini saatnya? Aku coba bangkitin ingatan yang dulu? Jujur. Meskipun aku mengatakan aku kuat. Hanya saja jauh di dalam hatiku, aku berharap om galak kembali.
"Om galak, ini aku Vania. Om lupa, ini Vania si bocah rese. " kata Vania menatap mata Riyan penuh harap.
"Ha apa? Siapa kau? Aku tidak mengenal mu. Aku tidak pernah ingat dengan mu. Dan om? Beraninya kau memanggil ku om? Aku tidak setua itu!!! " Sarkas Riyan menatap dingin mata Vania.
Itu kali pertamanya Vania di tatap sedingin oleh Riyan, dan iti rasanya menyesakkan dada. Saat ini Vania mungil hanya mampu menahan air matanya yang kian menumpuk dan hampir jatuh.
Apa yang kau harapkan Vania? Om galak sudah kehilangan Ingatannya?! Jangan berharap apapun lagi! Sadarilah tempat mu di hatinya! Menjauh darinya dan jangan dekati dia! Atau kau hanya akan menyiksa dirimu! Dan berhentilah berharap pada orang yang bahkan tak mengingat mu!
Batin Vania, seakan ada bagian lain dalam dirinya yang mencoba menasihati hati kecilnya yang rapuh.
"Maaf, aku salah. Kamu gak kenal aku. Kita saling gak kenal. Aku di pungut oleh Om dan Tante Adijaya karna aku yatim piatu dan sebatang kara di dunia ini. Jadi mereka memungut ku sebagai keluarga. Aku sangat berterima kasih. Mereka sungguh orang yang sangat baik. " Ujar Vania, raut wajahnya sendu. Ini mengingatkannya kembali akan orang tua dan kakeknya yang sudah menemui Tuhan lebih dulu.
Sudah lah lupakan Vania. Apa yang kau harapkan. Ayolah~ kau sudah memutuskan untuk memulai hidup baru, jadi tolong jangab terganggu hanya karna dia. Lagipula setelah Tamat SMA kau juga akan ke Jerman kan. Sudahlah.
Batin Vania meyakinkan dirinya sendiri, berjalan menaiki anak tangga satu per satu.
"Ukhhhhhh!!!! " Tiba-tiba dari belakang Vania mendengar seseorang berteriak. Gadis mungil itu berbalik, tampak Riyan tengah meringis kesakitan mencengkram erat sofa, satu tangannya memegangi kepalanya.
"Tuan muda! Tuan muda anda kenapa?!!! " tiba-tiba bibi Yuli dari arah dapur langsung datang. Pak Sam kepala pelayan juga ikut menghampiri.
Vania juga dengan perlahan semakin mendekat, dia benar-benar bisa melihat Riyan yang kesakitan. Sangat kesakitan, itu kali pertama Vania melihat Riyan kesakitan. Ada rasa menusuk yang menombak hancur hatinya saat ini. Seakan Vania bisa merasakan yang Riyan rasakan.
***
Saat ini semua orang sudah berkumpul di kemar Riyan. Agung dan Airin juga di panggil oleh pak Sam untuk pulang. Agung juga langsung menelpon dokter terbaik kenalannya.
"Bagaimana dokter Fan? Apa anak ku baik-baik saja? " tanya Agung setelah dokter itu selesai memeriksa Riyan.
"Tuan muda Riyan baik-baik saja, hanya saja ada sesutu yang memicu ingatannya kembali. Dan masalahnya, Tuan muda juga seperti nya berusaha keras. Namun, dia masih belum mampu mengingatnya. Maka dari itu, tolong jangan lakukan apapun yang dapat memicu ingatannya kembali. " jawab dokter itu serius.
Vania yang ada di sana langsung merasa bersalah seketika. Wajar, dia memang sengaja ingin memicu kembalinya ingatan Riyan. Tapi, Vania benar-benar tidak tau bahwa ini akam berakibat sefatal ini. Jika Vania tau, vania tidak akan mungkin, melakukannya kan?
Hanya demi keegoisan ku semata. Aku membahayakan nyawa om galak. Aku bahkan membuat om galak kesakitan. Yah! Ini semua akulah penyebabnya! Aku yang terlalu egois ingin om galak mengingatku kembali.
Batin Vania, hatinya kacau. Dia menyesal. Sangat menyesal.
"Maaf Om, tante, maafin Vania. Ini semua karna ulah Vania. " lirih Vania dengan wajah tertunduk.
"Bukan, bukan begitu nak. Kamu gak salah kok. Udah tenang aja. Kamu jangan berpikiran apa-apa lagi yah. Kamu anak kami juga, jangan salahin diri sendiri. " Airin langsung memeluk Vania mungil itu.
Entah kenapa, meski sesaknya tidak berkurang. Namun, pelukan hangat Airin itu mampu menenangkan hati Vania.
"Sudah tenang saja. Kamu jangan terlalu khawatir. Berikan dia obat ini, besok pagi, mungkin dia sudah baik-baik saja seperti biasa. Tapi, tolong jangan lakukan apapun yang beresiko untuknya. " pesan dokter itu.
Agung mengangguk, Airin paham dan Vania juga mengerti. Mengerti bahwa selamanya Riyan tidak akan mengingatnya.
***
Vania duduk sendirian di teras rumah itu, menyapa manis angin dingin yang menerpa jaket yang di pakainya.
Vania tidak bisa tidur, padahal itu sudah pukul sebelas malam. Mungkin karna Vania memang benar-benar merasa bersalah.
"Bintangnya indah yah? Om juga suka liat bintang. Vania, om udah anggap kamu sebagai anak om sendiri. Jadi tolong, jangan merasa tidak enakan. Apalagi merasa bersalah pada keluarga sendiri. "
***
Redaers: Auhtor up lagi!
Author : Up? Kuy Gaskeunn!!
Jadi kalian komen aja yah, aku emang gak bisa jawab satu-satu. Tapi, aku baca semua loh semuanya aku baca TwT jadi kalian sering2 aja komen^^