
***
Suasana hening di ruang tamu keluarga Archana. Badan mereka bertempat terasa sangat lemas untuk di gerakkan. Malas dan lesu sudah merayapi masing-masing tubuh mereka. Tapi, itu tidak dengan Riyan. Saat ini otak Riyan tengah berputar. Memperkirakan siapa penyebab kecelakaan itu.
Kecelakaan ini mengingatkam Riyan akan kecelakaan orang tua Vania. Dimana penyebab kecelakaannya adalah orang yang mabuk, dan tak bisa mengendalikan dirinya.
Entah firasat apa, tapi Riyan merasa ini berkaitan. Otaknya sedang memutar konspirasi-konspirasi yang di rangkai.
Ada kemungkinan kecelakaan ini bukan hal yang tidak di sengaja, mungkin aja ini di sengaja. Mengingat Archana Grub sudah memasuki posisi Empat besar perusahaan terbaik di negara ini.
Satu-satunya pewaris keluarga Archana cuma Arka, dan bila Arka tiada ini akan menimbulkan stress pada presdir Archana? Hummm, artinya ini ulah orang dalam yang ingin menggantikan posisi presir archana dengan membuatnya stress dan kehilangan pewaris?
Atau ini adalah ulah presdir perusahaan lain, agar mereka bisa menduduki posisi empat besar? Atau memang pemikiran ku yang terlalu jauh sampai ke sana? Atau mungkin memang sebuah ketidak sengajaan?
Hah~
Sengaja atau tidak, akan ku cari pelakunya. Dan akan aku berikan hukuman pribadi sebelum aku menyeretnya ke hadapan hukum. Jika sampai ini adalah konspirasi untuk melenyapkan murid ku, pelakunya tidak akan kumaafkan, apalagi ku ampuni.
Teori-teori ini mendadak muncul di kepala Riyan. Membuat nya harus memikirkannya matang-matang.
***
"Benar Tuan, saya sudah membersihkan semua bukti yang mengarah pada anda. Saat ini, lebih baik anda fokus istirahat agar segera sembuh, dan kembali menjadi presdir lagi." sambung orang itu, yah dia Ronald yang baru datang. Ronald adalah asisten papah Rayden.
"Gini aja terus! Abis mabuk nabrak orang terus bersihin nama! Pah! Kita aja masih belum bisa nebus rasa bersalah sama keluarga keyland! Karna ulah papa yang mabuk-mabukan dulu, satu anak Keluarga Keyland jadi yatim piatu pah! Hidup sebatang kara! Dan sekarang, papah renggut anak tunggal dari orang tuanya. Arghhh!!!! Rayden gak perduli lagi! Pokoknya papah harus tanggung jawabin ulah papah ke kantor polisi! "
"Maafin papah Rayden. Papah gak sengaja. Gak akan papah ulangin lagi. Tolong jangan laporin ke polisi. "
"Gak! Gak bisa! Papah harus tanggung jawab atas semua ini!" Yakin Rayden. Dia tau kehilangan orang tuanya itu berat. Tapi, bukan berarti papahnya bisa bebas begitu saja setelah melakukan dosa itu.
"Diamlah bodoh!!! " Teriak papa Rayden. Rayden terdiam tak percaya, bagaimana mungkin orang yang terluka parah bisa berbicara selantang itu.
"Pa-papa?!"
"Benar Rayden, sebenarnya papah memang terluka tapi tidak parah. Papah pura-pura terluka biar kau iba pada papa, seperti beberapa tahun yang lalu. Arhh, tapi sepertinya tidak dengan tahun ini. Apa karna korbannya teman mu? " Ujar papah Rayden, Dion namanya.
Rayden ingin lari, namun dengan cepat tubuhnya di tahan oleh Renold, hingga Rayden tak kuasa untuk bergerak lagi.
"Diam lah Rayden, kecelakaan ini memang tidak di sengaja. Tapi, kita mendapatkan keuntungan bisnis dalam hal ini. Kau harusnya bahagia, karna sebentar lagi perusahaan kita akan menuju empat besar. " Gumam Dion tanpa hati.
"Papah stress! Papah gila! Di sana orang berduka karna kehilangan anaknya, di sini papah malah bahagia!!!" ronta Rayden. Dia benar-benar tidak habis pikir, untuk sekilas Rayden merasa pria ini bukan lah ayahnya, melainkan iblis yang benar-benar tidak memiliki hati.
***
Malam ini Vania hanya meringkuk lesu di atas kasurnya. Pikirannya kosong.
Kenapa? Kenapa ini harus terjadi sama Arka? Arka sejak kecil udah penyakitan, dia harus minim bergerak. Dia jarang main sama temen-temennya. Bahkan, saat dia udah dapet donor ginjal, kenapa malah meninggal karna kecelakaan? Kenapa sekejam itu sama Arka?
***
Riyan menatap laptopnya frustasi, dia diam dan masih mencoba mencerna keadaan yang ada.
Pagi ini Riyan datang lebih pagi ke rumah Vania. Tidak perlu mendobrak untuk masuk ke sana, entah dari mana Riyan punya kunci cadangan itu.
Dia berjalan masuk dengan oleh-oleh sarapan yang di bawanya khusus masakan Airin, untuk Vania.
Satu langkah sudah membawa Riyan masuk, namun keadaan rumah begitu kosong dan hening. Riyan sudah menduga bahwa Vania mungkin masih tidur.
Riyan berjalan ke arah kamar Vania, membuka pintu yang memang tidak terkunci itu. Pria dingin itu bisa melihat gadis mungilnya yang meringkuk seperti bayi.
Riyan mendekatinya, duduk di pinggir kasur, sembari sesekali menggeser anak rambut yang menutupi wajah Vania.
"Hey bocah, ayo bangun. Mandi dan sarapam, lalu kita harus berangkat ke sekolah. " Panggil Riyan menggoyangkan bahu Vania pelan.
Meski enggan sekali rasanya untuk membangunkan Vania dari tidurnya, Riyan terpaksa melakukan itu.
Samar-samar Vania mendengar seseorang menyebut namanya, dengan berat hati ia membuka matanya, mengerjapkan beberapa kali sembari mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.
"Om Galak?! Ngapain di sini?! " Kejut gadis itu. Malang sekali Vania, dia baru bangun dan harus di kejutkan seperti itu.
"Akan ku jelaskan nanti, sekarang mandi dan pakai seragam mu. Aku akan menyiapkan sarapannya. " Riyan bangkit dari duduknya, dengan gayanya berjalan keluar dari kamar itu.
"Bapak gak ngapa--"
"Aku juga punya selera, ingin melakukan suatu hal juga pilih-pilih. Aku baru datang, jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh. "
***
Vania menatap wajah mungilnya di cermin, setelah dari tadi ribut dengan air yang dingin. Tinggal memakai dasi maka Vania sudah benar-benar siap.
Dia melangkah kan kakinya keluar, sembari menerka-nerka tujuan Riyan datang ke sini. Meski biasanya memang sering kan?
"Ayo duduk dan sarapan. " Riyan menarik tangan Vania agar jalannya lebih cepat.
Gadis mungil itu seakan tidak memiliki kekuatan untuk meronta, dia hanya bisa mengikuti alurnya saja. Duduk dan sarapan seperti kata Riyan.
"Jangan terlalu bersedih, itu tidak baik. Arka tidak akan bahagia jika kalian murung seperti ini. "
***
Mohon maaf yah, Author juga gak mau Arka meninggoy, tapi ini demi kepentingan cerita. maap yah yang kecewa TwT