Riyan & Vania

Riyan & Vania
49. Ajakan Nikah?



***


"Apa maksud omongan Rayden tadi ya? Apa beneran orang yang nabrak papa yang mabuk? Tapi... Polisi bilang itu kan karna papa ngantuk. Tapi kalo papa? Vania yakin papah kalo ngantuk ga bakalan nyetir." Gumam Vania. Tangannya secara refleks menggonta ganti channel televisi.


Tok tok tok


Tiga ketukan di malam hari mendadak membuat Vania merinding ngeri. Namun,  rasa penasaran nya menghantarkannya sampai ke pintu.


Vania akhirnya bisa bernapas benar-benar lega setelah ia membuka pintu. Dan ada pria itu di sana. Pria pujaan hatinya yang seperti nya menenteng makanan.


"Kau sudah makan?" Riyan masuk merangkul Vania tanpa permisi.


"Udah sih. Kalo kamu gak ingetin aku juga bakal tetep makan kok. Ya kali makan gegara kamu doang. Laper yah makan." Sahut Vania tak berdosa.


"Bagus semakin bisa melawan yah? Cepat sajikan makanan ini. Dan kita akan nonton Tivi."


Vania menyiapkan makanan yang di bawa oleh Riyan,  mulai dari minuman? Kebab, bakso, hingga sate sudah tersaji di depan mereka.


"Ada apa? Apa ada masalah hari ini di sekolah?" Seolah mengerti pemikiran gadisnya, Riyan langsung bertanya hal itu. Entah indra apa yang orang ini punya.


"Kamu kok tau aku ada masalah? Dukun yah?"


Ctakkk


Riyan memukul jidat mungil gadis itu pelan. "Itu dosa... Gak bakal aku buat. Sekarang ceritakan apa masalah mu?"


Vania mengangguk mengerti. Saat ini,  di dunia ini hanya kepada Riyan lah Vania bisa bebas menceritakan apapun. Tanpa takut akan terkhianati,  atau mungkin ceritanya akan bocor.


"Tadi Rayden datang ke aku,  terus dia ngomong soal kecelakaan gitu. Dia bilang bisa aja kecelakaannya bukan papah penyebabnya,  tapi orang lain. Tapi bisa juga papah."


Cerita Vania bagai bersangkut paut oleh clue yang dia dan asistennya dapatkan. Riyan kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di mana satu bukti baru di dapatkan.


...Flashback...


"Tuan muda, orang yang waktu itu di claim menabrak orang tua nona Vania sudah menjelaskan semuanya. Dia sudah bercerita siapa pelakunya." Lapor Asisten Riyan. Riyan yang saat itu sedang mengerjakan tugasnya mendadak semangat.


"Apa katanya? Siapa orangnya?"


"Orang itu bilang ada seseorang yang membayarnya. Orang itu berpakaian serba hitam,  kulitnya hitam,  memakai kacamata hitam juga. Suaranya berat bagai iblis. Orang itu lah yang membayarnya."


Tampak Riyan bagai berpikir sebentar.


"Lalu bagaimana dengan kasus kecelakaan nya Arka?"


"Ini lah hal menariknya tuan muda. Pria yang di klaim sebagai penabrak Tuan muda Arka mengaku bahwa dia di bayar oleh orang yang sama. Orang berjas hitam,  berkulit hitam,  berkacamata hitam,  dan suara nya berat bagai monster."


Mungkin kah penabrak ini orang yang sama?


Riyan memutar otaknya, jika benar. Sengaja atau tidak! Riyan benar-benar akan menghajar habis orang itu.


"Lanjutkan penyelidikan. Jangan berhenti sampai kita menemukan titik terang."


...Flashback off...


Kenapa Rayden bisa tanya-tanya soal itu? Apalagi ke Vania dan semendetail itu? Mungkinkah ini ada hubungannya sama bocah songong itu?


"Riyan! Om galak! Huy!" Vania menggoyangkan lengan kekar pria itu. Mencoba menariknya dari lamunannya sendiri.


"Dari dulu sampai sekarang kau itu tidak berubah, selain bodoh kau tetap berisik. " Riyan menatap datar gadisnya.


"lagian kamu kenapa bengong? Ada masalah kah?"


"Tidak ada,"


Seketika semuanya kembali hening,  hanya ada suara Tivi yang meramaikan ruangan itu.


Riyan tidak lagi fokus akan Televisi itu,  dia yang menyandar tenang itu menatap Vania. Sesekali tangan nakal Riyan menjaili rambut gadis itu.


"Om... Udah yah jangan ngadi-ngadi. Vania masih nonton Tivi. Jangan ganggu."


"Hey Vania, habis kamu tamat sekolah kita langsung nikah yah?" Ajak Riyan begitu saja,  tanpa ada kejutan ataupun sisi romantis.


Uhuk!


Vania hampir saja tersedak ludahnya sendiri. "Bukannya tamat sekolah. Kita tunangan dulu?" herannya.


"Awal niatnya dulu sih gitu. Sekarang beda cerita. Tamat sekolah kita langsung nikah aja." kekeuh Riyan. Entahlah,


"..."


"Aku gak mau kita terjebak dalam hubungan tidak jelas begini terlalu lama. Cepat menikah lebih baik kan? Lagi pula dengan begitu kau akan pindah rumah ke rumah ku. Tidak akan kesepian. Ada mama, papa, dan aku. Di banding kamu sendirian di rumah sepi ini." Berbagai macam rayuan telah pria angkuh ini lancarkan. Niatnya untuk menikah memang kelihatan benar-benar sudah mantap.


"Soal kuliah Vania?"


"Kamu tetap akan kuliah. Namun statusnya bukan gadis lagi. Semua biaya aku yang tanggung. Aku tidak akan mengekang mu."


Vania diam,  dia tampak berpikir. Benar adanya bahwa dia sangat kesepian. Tapi, menikah muda? Apa Vania siap?


"Vania masih muda,  kalo Vania labil gimana? Ngambekkan gimana?"


Ctaakkk


Riyan menimpuk pelan jidat gadisnya.


"Yah gak gimana-gimana. Vania is Vania. Mau labil atau ngambekkan, atau masalah lainnya. Kita bisa ceritakan baik-baik."


Tiba-tiba Vania memeluk Riyan dengan erat.


"Ga tau. Vania gak tau udah siap nikah belum. Tunggu Vania masih mau mikir." suara lembutnya bergetar dari balik wajahnya yang bersandar di dada bidang calon suaminya.


Hah~


Gagal yah? Dia masih belum siap? apa aku yang kurang meyakinkan?


Riyan membalas pelukan gadisnya, mana mungkin dia mengabaikannya saja kan?


"Tidak masalah,  pikirkan saja baik-baik. Jangan terburu-buru. Masih ada satu atau dua bulan lagi sampai kau benar-benar tamat sekolah. Aku menunggu mu. "


***


Vania menatap langit-langit kamarnya. Ajakan Riyan untuk menikah masih menggema di telinga Vania. Bahkan, harum tubuh orang itu belum hilang dari penciuman Vania.


Apa yang Riyan katakan memang benar. Hanya saja,  Vania yang masih berusia 18 tahun tidak kah terlalu mudah?


Itulah yang di pikirkan gadis itu sekarang. Ah! Vania tau dia harus meminta saran dari siapa.


Vania :


Dish... Kalo kamu online,  jawab dong.


^^^Disha: ^^^


^^^Ada apa Van? Ada masalah kah? ^^^


Vania :


:)


^^^Disha:^^^


^^^What happend? Cerita sekarang! Aku gadang gak papa deh. ^^^


Vania :


Menurut kamu gimana kalau kita nikah usia 18 tahun? Itu kemudaan gak?


***