Riyan & Vania

Riyan & Vania
39. Cinta yang Rumit



***


Pagi ini Arka datang lebih awal dari biasanya. dia memilih kursi paling ujung. Bukan untuk apa-apa, melainkan mencatat. Bocah ini harus mengejar catatannya yang tertinggal.


Arka melihat bangku Vania di sana. Tanpa Arka sadari, dia mulai membayangkan dirinya dan Vania duduk di bangku itu. Senyuman tipis karna khayalan iti perlahan memudar,  seiring berjalan Ny waktu, dan banyaknya murid-murid lain yang mulai masuk.


Namun, Mata Arka sendiri belum mendapati tubuh mungil Vania.


"Dish, Vania mana? " Tanya Arka pada Disha yang baru saja masuk kelas.


"Salam kek, pagi kek,  baru juga masuk udah di tanyain Vania. Yah mana aku tau. Kami kan gak serumah. " Sahut Disha enteng.


Hari ini ada yang beda dari Disha. Mata Disha kelihatan sembab. Dia habis menangis? Arka memutuskan untuk diam dan tidak bertanya lagi. Dia tau,  kondisi hati Disha sedang buruk.


Disha duduk di bangkunya. Kepalanya sedang memutar kejadian kemarin malam dengan seksama. Dimana,  Sandy menelponnya dan bercerita segala perasaan nya dengan Vania. Sandy bercerita semuanya pada Disha.


Namun anehnya, entah kenapa setiap kata dari Sandy yang menyangkut Vania sangat menyesakkan bagi Disha. Disha sendiri heran,  bagaimana itu mungkin terjadi?! Tidak mungkin kan Disha yang waras suka pada Sandy yang miring.


Namun, lagi-lagi faktanya adalah hal sebaliknya. Ketika Disha sadar tadi pagi, bahwa dia benar-benar menyukai Sandy. Ada dua pilihannya. Memperjuangkan,  atau melepaskan?


Fakta yang membuat hati Disha semakin hancur adalah,  bahwa Sandy orang yang di sukainya, ternyata begitu menyukai Vania, sahabatnya sendiri.


Jika kelas ini sepi,  mungkin Disha sudah meneteskan air matanya. Disha dengan segala upaya menahannya. Namun, nyesssss


Jantung Disha berdebar hebat secara , ada rasa bahagia saat dia melihat sosok Sandy masuk dari pintu dengan segala gayanya. Namun, sakit juga rasanya saat mengingat kata-kata Sandy kemarin.


Gue suka Vania Dish,  bantuin gue ya buat jadian sama dia.


Tanpa Disha sadari, api yang membara sudah menyala di hatinya.


"Lan? Kamu bisa ga duduk di sini sehari aja. Aku mau duduk di sana. Soalnya aku kurang jelas liat di papan. " tutur Disha lembut pada Teman sebelah beda mejanya.


"E-eh! Ya udah gak papa kok. Mata aku masih bagus,  masih bisa liat darimana aja. " sahutnya tulus.


Gadis itu,  Lana namanya berpindah tempat duduk dengan Disha.


"Makasih ya lan. "


Lana mengangguk pasti.


***


"Bapak dari mana aja sih, liat nih. Udah jelas Vania bakal terlambat karna bapak! " ketus gadis mungil itu memanyunkan mulutnya.


Semenjak berangkat dari rumahnya sampai sekarang,  Vania selalu mengoceh dan Riyan selalu diam dan mendengarkan dengan baik?


Eh tidak juga. Soalnya di telinganya yang sebelah sana ada headset bluetooth.


"Bapak tau ini udah jam berapa?! Nanti Vania bisa terlambat tau! "


"Kalaupun terlambat memang kenapa? Kamu kan berangkatnya sama aku,  kamu juga tunangan aku. Tenang,  terlambat ataupun bolos. Masih ada aku di sini. Terserah kau mau lakukan keributan, atau scandal seperti apapun. Aku akan tetap di samping mu,  membela mu. Mengerti? Jadi jangan takut hanya karna kau akan terlambat. " akhirnya Riyan berbicara dari bungkamnya yang panjang.


"Tunangan mu ini bukan sembarang orang. Aku punya kekuasaan. " lanjut Riyan enteng.


Vania diam, dia tengah mengatur napasnya. Jantungnya tak lagi berada pada irama yang biasa. Hati Vania berdebar hebat.


Vania masih bungkam. Dia berusaha keras mengatur napasnya senormal mungkin. Ini semua karna kata 'tunangan' dari orang sebelahnya ini.


"Enggak perduli bapak sehebat apa,  mempunyai kekuasaaan seperti apa. Hidup disiplin dan patuh akan peraturan itu penting. Jadi,  Vania gak mau jadi orang yang sepele akan satu hal. Karna punya bapak sebagai Calon tunangan Vania. "


Riyan menarik sudut bibirnya bahagia. Namun, vania tidak menyadarinya.


Memang cocok jadi Nyonya Adijaya. Heh...


"Baiklah, terserah mu saja. Lain kali sebut aja tunangan. Jangan pake calon. "


***


Vania masuk ke dalam kelasnya. Berkat doa yang terus dia ucapkan,  maka Vania tidak terlambat, dan datang tepat waktu.


Jika pagi ini dia terlambat. Fix,  wajahnya akan banjir oleh muncratan hujan dari bibir pak Eky.


Vania menatap heran gadis yang duduk di mejanya, dia menggeser sedikit pandangannya. Ada Disha yang tengah melamun di meja sebelah.


"Loh Dish? Kita pindah meja? " tanya Vania heran, menghampiri sahabatnya itu.


"Gak Van, ga gitu. Kamu tetep di sana. Nah, hari ini aku mau di sini. Soalnya kayaknya pandangan ku kurang jelas dari sana. " kilah Disha pelan.


Vania mengangguk mengerti, tanpa curiga, dia duduk di sana. Tepat di sebelah Lana kursi biasanya.


"Vaniottt! Bagi contekan Biologi dong. Gak siap nih gue. Buruan minta. " teriak Sandy dari belakang. Dia langsung melesat di depan muka Vania.


"Sabar kek San. Baru juga datang. " Vania segera mengambil Bukunya.


Tidak tau kenapa, Disha panas melihat itu. Disha menatap mata Sandy serius. Dan Disha tau, tau dengan sangat jelas bahwa ini trik dari Sandy. Sandy memang sengaja tidak mengerjakan tugas, agar dia bisa berbicara pada Vania.


***


Setelah kembali duduk di tempatnya, dengan oleh-oleh buku Vania. Ada yang aneh dari Sandy.


"Kenapa gak berdebar kayak biasanya? Terserah lah." guman Sandy, ia dengan santainya melanjutkan tulisannya.


Ada kemungkinan gak Vania bakal suka gua?


Batin Arka, rasa takut akan tertolak membuat Arka ragu menyapa Vania.


Vania sendiri masih berdebar hebat. Itu karna kata tunangan yang selalu saja menggema di telinganya. Fakta bahwa Riyan menyetujui pertunangan ini saja sudah membuatnya terkejut. Apalagi, panggilan tunangan tadi?! Ah! Tidak ada satupun yang mengerti betapa bahagianya gadis itu sekarang.


***


Riyan di tempatnya hanya diam. Pikirannya tidak bisa fokus pada hal lain kecuali Vania. Dia bahkan sampai menunda rapatnya karna itu.


Argh sial! Aku memang seorang bos besar. Tapi rasanya, aku di perbudak oleh cinta! Argh! Bodohnya aku, meski sudah sadar namun gak bisa lepas.


Erghhh... Apa aku kasih tau Vania kalau aku udah ingat semuanya?


***