
***
Arka POV
Sebenarnya selama istirahat pertama aku terus mencari Vania. Pasalnya, sesaat setelah bel berbunyi anak itu dengan cepat keluar. Padahal, aku ingin mengajaknya makan di halaman belakang. Ughh... Dan sempat berfikir untuk menyatakan perasaan ku.
Sudah entah kali keberapa aku bolak balik di lorong-lorong sekolah. Mata ku terus mencari dimana keberadaan Vania.
Hingga akhirnya aku melihat gadis yang tengah ku csri, keluar dari ruangan itu. Ruangan pak Riyan. Dugaan utama ku adalah bahwa pak Riyan tentu menyulitkan Vania, entah kenapa aku merasa Pak Riyan dan Vania ada hubungan tertentu.
Aku menghampiri nya. Vania sangat terkejut, terlihat dia menyembunyikan suatu hal. Matanya ragu untuk menceritakan nya. Namun, aku meyakinkannya untuk berbagi segalanya dengan ku.
Vania menarik lengan ku membawanya ke suatu tempat. Pada saat itu, untuk pertama kalinya jantung ku berdegub begitu kencang. Aku seakan bisa mendengarnya. Kalian tidak akan tau. Seberapa bahagia aku saat itu. Sangat bahagia, seakan kesempatan akan terbuka untuk ku.
Akhirnya kami memutuskan untuk mengobrol di tempat yang sepi.
"Sebenernya, aku tuh udah di jodohin sama pak Riyan. Yah, setelah lulus aku bakal langsung tunangan sama dia. Jadi tadi itu mamahnya antar makanan buat aku. Yah di sana aku makan. " Tutur Vania lembut. Matanya tak berani menatap mataku. Dia tertunduk. Namun, aku bisa melihatnya tersenyum tipis. Pipinya memerah seolah merona?
Aku tidak tau bagaimana mendeskripsikan perasaan ku saat itu, yang jelas itu sangat menyakitkan untuk ku. Berita ini bagai petir di pagi hari yang langsung menyambar hati dan jantung ku bersamaan. Aku ingin sekali menolak mentah-mentag fakta ini.
"Terus lo sendiri Van? Lo terima kalo lo di jodohin sama om-om gitu? Gimana soal perasaan lo? " tanya ku, aku berharal Vania menolak ini. Tenggorokan ku terasa berat. Setiap kata yang keluar dari mulut ku, aku mengatur suaranya senormal mungkin. Tapi, tetap saja ada getaran sakit hati tetap terdengar di sana.
Gak papa di jodohin, asal mereka beda perasaan kan? Kalo Vania ga suka. Berarti gue masih ada kesempatan dong?
Batin ku, sebenarnya bukan ingin berharap. Hanya saja untuk menyemangati diri ku sendiri.
"Hemm, Kalo aku sih. Aku kayaknya udah suka sama Pak Riyan dari SMP. Cuman ada beberapa masalah. Dan aku kayaknya sekarang, masih suka dia. " tutur Vania jujur. Aku bisa melihat kejujuran di matanya.
"Ja--"
Tring! Tring!!
Baru saja Vania mau melanjutkan ceritanya. Namun tiba-tiba bel sekolah menghancurkan segalanya.
"Ya udah entar sambung lagi. Sekarang balik ke kelas kuy. " Ajak Vania menyeret lengan ku. Di tengah otak yang kacau itu. Aku hanya bisa mengikuti langkah Vania.
***
Guru bahasa indonesia itu menjelaskan materinya di depan sana. Namun, aku sama sekali tidak mengerti apapun. Otak ku hanya berkutat pada kisah yang baru Vania ceritakan. Aku... Aku... Rasanya aku ingin sekali memutar waktu.
"Buk, saya permisi keluar sebentar. " pinta ku mengangkat tangan. Aku juga tidak tau kenapa ingin keluar.
"Silahkan. " sahutnya.
Aku segera keluar dari kelas yang menyesakkan itu. Aku pikir udara di luar lebih enak. Ternyata, sama saja. Sangat menyesakkan. Dimana pun kau berada, selama hati mu masih tidak tenang. Tetap saja terasa sesak.
Tanpa aku sadari, aku sudah berdiri di depan ruangan orang itu. Yah pak Riyan. Entah angin apa yang mendorong ku untuk masuk ke sana.
Saat aku membukanya langsung tanpa mengetuk. Aku bisa melihat dan merasakan sosok presdir besar darinya. Sepertinya dia sedang melangsungkan rapat online.
"Tunda rapatnya. " titah nya sarkas. Lalu mendadak dia menutup telponnya.
"Ada apa kamu datang ke ruangan saya? Mau ngajak saya mabar? Kau pikir saya se senggang itu? " tanya nya. Aku sedikit tersentak halus. Karna faktanya aku juga tidak tau, aku datang ke tempat nya untuk apa.
Tapi, ide Mabar. Aku rasa itu tidak buruk. Setidaknya mungkin bisa menghilangkan sedikit rada sakit ini.
"Iya pak. Arka mau ngajak bapak mabar. Sambil ngobrol. " sahut ku, dia mempersilahkan ku duduk di depannya.
Sebelum kami mengobrol, kami login terlebih dahulu. Dan saat ini, kami sedang bermain satu lawan satu.
"Apa yang mau kamu bicarakan sama saya? Soal kesehatan mu? " pak Riyan membuka pembicaraan nya.
"Bukan itu, Arka kesini mau ngomongin soal Vania."
"Oh, jadi kamu tau hubungan saya dengan Vania??" Pak Riyan menaikkan sebelah alisnya menatap ku.
"Yah, dari awal Arka memang curiga antara hubungannya Pak Riyan sama Vania. Lalu, hari ini Vania cerita semuanya. Setelah lulus kalian akan bertunangan. "
"Lalu permasalahannya apa? Kau takut tidak di undang? Tenang saja. Aku punya satu undangan spesial untuk mu nantinya. Jangan takut, dan datanglah." di dalam Game. Pak Riyan mengucapkan itu sembari menyerang ku.
"Bukan itu yang Arka takutkan. Arka Cuma takut bapak menyia-nyiakan cinta Vania. Karna cintanya berharga. Dan hanya bisa di menangkan oleh orang-orang tertentu. Arka ragu presdir hebat seperti bapak, akan setia pada Vania yang hidup sebatang kara. "
"Aku tau Arka. Kau menyukai Vania. Tapi tenang aja, selama Vania bersama ku. Dia akan baik-baik saja. Karna cinta ku padanya, lebih besar dari yang kau bayangkan. " tutur pak Riyan dengan segala tekanan yang dia punya.
Aku tersentak halus. Bagaimana mungkin orang ini bisa tau perasaan ku? Dia pembaca pikiran kah?
"Hanya pemenang sejati yang bisa memenangkan cinta Vania. Dan hanya akulah orangnya. " tutur Pak Riyan, sembari dia juga lah pemenang game yang kami mainkan.
"Kalo udah menang, maka harus di jaga dengan baik. Makasih atas permainan nya pak. Arka permisi. " Aku menunduk, menerima kedua kekalahan ku secara bersamaan. Dengan pasrah keluar dari ruangan orang itu.
***
Malam ini adalah jadwal ku untuk periksa kesehatan di rumah sakit. Awalnya aku pergi sendiri. Entah Kenapa perasaan ku untuk pulang tidak enak. Akhirnya aku meminta sopir untuk menjemput ku.
Di dalam mobil aku hanya bisa merenungkan segalanya, sembari memainkan ponsel ku. Game saat ini tidak lagi semenyenangkan biasanya.
Ucapan Vania dan Pak Riyan tumpang tindih di Kepala ku. Mereka saling mencintai, dan tak seharusnya aku mengganggu mereka. Mulai saat ini, aku harus belajar ikhlas.
Tapi....
BRAKKKK!!!!!
Dentuman keras terdengar dari dua mobil yang bertabrakan parah itu.
***
Arka 😭😭