
***
Vania mengernyitkan dahinya heran, saat ada satu mobil berhenti di sebelahnya. Setelah Vania ingat dan perhatikan dengan baik. Sepertinya gadis mungil itu mulai mengenali mobil siapa itu.
Vania lebih terkejut lagi saat melihat kaca mobil itu terbuka, dan menunjukkan wajah rese Riyan yang tidak ingin Vania lihat.
"Sudah cukup main-mainnya. Ayo masuk, ikut dengan ku. Kita pulang sekarang. " ujar Riyan enteng.
"Pulang? Pulang hanya untuk orang yang punya rumah. Rumah mana yang bapak maksud? " Vania memutar bola matanya jengah.
"Jangan bercanda, sudah ayo masuk. Pulang ke rumah ku, " Riyan sudah membuka pintu mobilnya, dia turun dan berdiri di depan Vania.
"Biar bapak tau nih ya, Naruto pernah berkata : Dimana ada orang yang memikirkan mu, di situlah tempat mu untuk pulang. Sekarang bapak paham gak? " Vania semakin menatap tajam Riyan.
"Maka dari itu, ayo ikut pulang dengan ku, di rumah ku. " Riyan menarik tangan Vania, memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Maksud bapak, apa? "
"Apa otak mu itu benar-benar rusak. Kenapa hal seperti ini saja sulit kau pahami. Sudah ku bilang, pulang ke rumah ku. Karna aku memikirkan mu sepanjang malam, sejak kemarin. Dan maafkan aku, memang aku yang salah karna telah mengusir mu. " Riyan mendorong Vania masuk, untuk duduk di kursi depan, di sebelah supir. Vania hanya bisa melongo heran.
Riyan juga masuk, dan duduk di kursi kemudi. Tanpa aba-aba, Riyan langsung menjalankan mobilnya.
Tunggu, tunggu, apa maksudnya ini? Maksud pak Riyan itu? Dia mikirin aku karna merasa bersalah gitu?! Cih! Dia pikir aku bakal balik gitu ke rumah nya! Hoh! Tidak semudah itu ferguso!
Vania mulai memaksa otak sederhanya itu untuk berfikir.
"Dari kemarin malam, kau tidur di mana? Apa di jalanan? Maaf kan aku sekali lagi. " Riyan mulai membuka pembicaraan nya.
Vania mengernyitkan heran dahinya. Tidak biasanya orang angkuh ini mau berbicara lebih dulu.
"Enggak, aku tinggal di rumah ku. Maksud ku, rumah peninggalan orang tua ku. Dan satu lagi, aku gak mau balik ke rumah bapak. "
Riyan bisa menghela napas lega. Karna dia tau, bahwa Vania mungil tidak kedinginan karna tidur di jalanan.
"Kau sendirian di rumah itu, gak ada yang memikirkan mu. Makanya, kembali lah kerumah ku. " Riyan mengulang kata-katanya, dan permintaannya.
"Enggak, aku gak mau numpang lagi. " Sahut Vania tegas, dengan nada agak menyindir tentunya.
"Aku gak akan bahas soal kata numpang lagi. "
"Gak, aku bilang gak mau yah gak mau. Pokoknya, aku tuh gak mau balik ke rumau bapak titik. Jangan paksa aku, atau aku bakal lompat dari mobil ini!"
Riyan menghela napasnya, meskipun berat. Namun, Riyan harus menerima fakta bahwa Vania tidak akan satu rumah lagi dengannya. Riyan cukup menyesali perbuatan nya selama ini.
Kalau udah pergi, baru terasa. Dan inilah yang kurasakan. Haihhh, dasar! Sekarang aku udah terbiasa ganggu gadis ini. Kalau dia mendadak pergi dari rumah ku, itu cukup merepotkan. Tapi, arghh!!
Riyan menghela napas berat. Boneka sasaran gangguan nya sudah pergi.
"Kalau gitu, ngapain kamu pagi-pagi udah di jalanan aja?"
"Bapak sendiri, ngapain pagi-pagi udah jalan-jalan. Emang gak ke kantor? " tanya balik Vania.
"Karna aku cari kamu keliling sepanjang malam. " Riyan menyahutinya dengan wajah datar.
Deg, entah kenapa, ada getaran kecil yang kembali menyambar hati Vania.
"Kemarin di usir. Sekarang pengen bawa pulang. Manusia itu plin plan yah. "
"Sudahlah diam, sekarang di mana rumah mu? Biar aku yang antar. "
"Gak deh pak, Vania mau nyari makan dulu. Laper soalnya."
"Mau makan apa? Odading mang oleh? Biar jadi ironmen? " tawar Riyan serius, tanpa ada wajah bercanda.
"Gak sekarang deh pak, nanti-nanti aja. Belinya mesti antri. Beli, beli apa aja deh. Penting makanan pinggir jalan. Menghemat uang jajan soalnya. "
***
Dua jam telah berlalu, akhirnya Vania tiba di rumahnya, dengan mobil Riyan.
"Ini rumah kamu? Kamu tinggal sendirian di sini? Gak takut? " Riyan memastikan lagi, mungkin aja Vania berubah pikiran.
"Masih takut liat bapak. Udah lah, aku ga mau liat bapak lagi. Makasih udah anterin aku. Mending bapak pergi, jangan ke sini lagi. " Vania turun dari mobil Riyan.
"Jangan ke sini lagi. Itu adalah tantangan buat aku datang lagi. Siap-siap, aku bakal datang lagi. " Riyan melambaikan tangannya pada Vania. Langsung melajukan lagi mobilnya.
***
Ada apa ini? Ini hanya hal sederhana di mana kami makan bersama? Tapi kenapa? Kenapa terasa bahagia? Hanya makanan pinggir jalan biasa, tapi kenapa jadi luar biasa saat bersamanya? Vania?
Riyan melihat ke arah kiri, di kursi yang baru saja di tinggali Vania. Masih terlintas bayangan wajah Vania di kepala Riyan.
Aku tau, sejak awal ada yang aneh antara aku dan dia. Tapi aku gak tau apa itu. Apa benar? Mungkin kah Vania emang kekasih ku? Tapi, Vania sendiri bahkan tidak mengakuinya?
Kenapa susah banget buat ingat aja? Cih!!!
***
Di sisi lain, Vania masih duduk di sofa melihat tayangan televisi. Masih teringat jelas di benak Vania, bagaimana wajah Riyan.
Kenapa? Kenapa datang lagi coba? Padahal aku udah niat buat lupain dia? Kenapa ini serumit sinetron?! Dan kenapa? Kenapa dia buat rasa ini tumbuh lagi, waktu dia bilang nyari aku semalaman. Apa bener? Atau cuma karang-karangannya dia doang?
Vania memindah channel Tivi nya. Lalu melanjutkan lamunannya.
Dia mau mainin perasaan aku lagi? Humph! Gak akan bisa! Gak bakal aku biarin kamu seenaknya mainin perasaan aku!!
Vania menekan tombol remote itu lagi. Vania melihat tayangan Makan-makan asli yang buat ngiler.
Oh iya! Di rumah ini kan gak ada bahan makanan! Kan tadi aku keluar!! Kenapa ga beli sembako di indoapril sih! Arghhh!! Ini semua gara-gara pak Riyan!!!
Tring! Tring!
Di tengah ke frustasian gadis mungil itu, hp nya berbunyi. Vania melihat, ada pesan WA dari Arka.
Arka:
Van? Hari ini si Sandy ada latih tanding nih, bawa nama sekolah kita. Lo gak mau ikut lihat? Ada Disha sama Shina juga.
Mayan nih. Buat hapus bosan.
Vania:
Oke, aku ikut ka. Mulai nya kapan?
Arka:
Satu jam lagi. Gue jemput lo yah. Lo dimana? Shareloc aja.
Syukur udah pindah rumah. Shareloc jadi lebih mudah. Lumayan nih, sekalin keluar beli bahan makanan.
***
Vania dengan kaos hitam polos, berlapis cardigan lengan pendek, berwarna moca.
Gadis mungil itu menatap dirinya sendiri di cermin.
Ini benaran? Aku udah kelas 12? Pendek bet, dah lah syukuri aja.
***