
***
Di dalam lift hanya ada mereka berdua, Riyan & Vania. Tangan Riyan sendiri masih setia menggenggam erat pergelangan tangan gadis mungil itu.
Vania menatap Riyan sembunyi-sembunyi, kepalanya terus menghadirkan segala ucapan pembelaan barusan.
Entah kenapa, perasaan yang ingin Vania kunci dan buang jauh-jauh, malah semakin besar.
Gak! Gak boleh Vania! Jangan! Jangan sukain om galak lagi atau kamu bakal bener-bener sakit hati dan gak bisa move on!
Yakin Vania dalam hatinya.
"Apa yang mereka katakan?" ujar Riyan dengan suara dingin.
"Siapa? Karyawan bapak? Mereka gak bilang apa-apa." sahut Vania acuh tak acuh.
"Lain kali jangan pedulikan mereka. Langsung masuk aja keruangan aku. "
"Mana aku tau ruangan bapak yang mana. "
Riyan diam, ini ada benarnya kan. Ini kali pertama Vania datang ke kantor Riyan.
***
"Jadi, Setelah Tamat SMA kau mau kuliah di mana? " tanya Riyan sambil memakan makanannya.
"Vania gak tau pak. Masih belum mikir ke sana. " Vania menjawab acuh tak acuh.
"Apa ada perkembangan terbaru soal Arka? "
Vania mengedikkan bahunya tak tau.
"Mau keluar jalan-jalan?" Riyan mengelap mulutnya.
"Gak deh pak. Vania mau pulang lagi. Soalnya sore nanti mau jenguk Arka bareng Sandy sama Disha."
"Ya udah, duduk aja dulu. Nanti saya suruh Dirga antar kamu. "
Vania mengangguk. Dia duduk sembari bermain ponsel. Riyan juga kembali ke kursi kehormatan nya menatap Laptop kesayangannya.
***
Setengah jam sudah berlalu, Riyan sendiri masih fokus pada file-file itu. Namun, matanya terkadang nakal, sesekali ia memperhatikan Vania secara sembunyi-sembunyi.
"Pak, masih lama gak? " tanya nya tak sabaran.
"Bentar lagi, Dirga masih ada rapat. "
Vania memanyunkan mulutnya. Ugh... Itu membuat Riyan sedikit salah fokus. Vania meletakkan ponselnya di meja. Gadis mungil itu menyandarkan tubuh mungil nya.
Tidak butuh waktu lama untuk Vania yang suka gadang itu tertidur.
"Ck... Gak dulu gak sekarang sama aja. Tetep nyusahin." gumam Riyan, dia bangkit dari kursinya. Berusaha berjalan sepelan mungkin agar langkah kakinya tidak terdengar.
Riyan ikut duduk di sebelah Vania. Pria itu membuka jasnya dan memakaikan pada Vania. Wajah Riyan bertatapan dengan wajah manis gadis itu. Mata Riyan tak sengaja menatap bibir mungil nya. Untuk sekejap Riyan hampir kehilangan kendali. Dia mengalihkan pandangannya.
Presdir angkuh itu menatap jamnya, masih jam satu siang. Tapi entah kenapa hari ini dia begitu mengantuk. Tanpa Riyan sadari dia tertidur di atas paha gadisnya.
***
Dua jam berlalu, mereka benar-benar luar biasa. Bisa tidur selama itu.
"Pak, Rapatnya su--" Dirga langsung mengehntikan ucapannya saat dia sadar dua orang insan itu tengah tertidur pulas. Di banding menerima amukan Tuan mudanya yang tak terduga. Lebih baik Dirga keluar dari sana.
"uhm... "
"Pak Riyan? " gumamnya lagi saat mendapati pria dingin itu berbaring di pahanya. Jantungnya berdegub begitu kencang. Vania sama sekali tidak bisa mengontrolnya.
"Aku ketiduran. Pak Riyan juga. Eh udah jam berapa ini? Aku kan mau jenguk Arka." Mata Vania mencari letak jam dinding. Dia bisa bernapas lega setelah tau jam masih menunjukkan pukul tiga kurang.
Namun, jantungnya kembali berdegub saat Riyan menggumam pelan.
Tangan Vania ragu-ragu mengelus kepala yang ada di kakinya. Mata Vania tak lepas memandang wajah itu.
"Bangun kayak singa. Tidur kayak kucing. Siapa? Yah cowok lah. "
"Siapa? Aku kayak kucing? Artinya aku imut? " tiba-tiba Riyan menangkap tangan Vania yang sedari tadi mengelus kepalanya.
Ternyata Riyan sedari tadi sudah bangun, hanya masih menutup matanya.
"Jangan ngadi-ngadi. Aku bilang cowok, bukan iblis."
"Iblis mana setampan aku? " lagak Riyan percaya diri.
"Iblis kan bisa rubah-rubah bentuk. Kalo cuma perkara ganteng mah gampang. "
"Sudah lah, bocah seperti mu tidak akan paham. Ayo, aku akan mengantar mu ke rumah sakit. " Riyan bangun dari paha gadisnya. Melakukan beberapa gerakan peregangan otot leher.
"Makan banyak gih paha mu kekecilan. " komen Riyan. Vania hanya bisa diam dan menggelengkan kepalanya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 4. Sebuah mobil sudah terparkir di depan Rumah sakit bergengsi.
Mobil mewah yang berisikan Riyan, Vania, Sandy dan Disha. Juga sopir mereka Dirga.
Vania masuk ke dalam sana. Masih ada orang Tua Arka di dalam ruangan itu. Tapi, hanya ada mamahnya.
"Tante, gimana keadaan Arka? " tanya Vania duduk di sebelah Arka yang terbaring.
"Masih belum sadar juga. Dokter bilang, mesti segera cari pendonor yang cocok." tutur Mamah Arka dengan wajah sendu.
Vania tidak tau harus mengatakan apa lagi. Dia terlalu takut berbicara, mungkin saja perkataan nya nanti akan menyakiti mamah Arka.
Sandy dan Disha juga hanya bisa menatap Arka yang terbaring dengan di tempeli banyak alat medis.
Tanpa ada satu pun yang menyadarinya. Tiba-tiba Riyan sudah hilang dari sana. Entah kemana orang itu pergi.
"Semoga kita segera mendapat pendonornya, dan supaya Arka bisa cepat sembuh. "
***
Vania berbaring di rumahnya. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan untuknya. Terlalu banyak aktifitas.
Hari ini Vania sedang bingung bagaimana mengekspresikan hari ini. Bahagia dan sedih yang bersamaan?
"Dari sikap pak Riyan? Apa aku masih punya harapan? Lebih baik gak usah ngarep deh. Tapi, gimana mau gak ngarep kalau cowoknya yang ngasih harapan."
"Dah lah males." Vania menutup matanya.
***
Satu minggu sudah berlalu. Orang tua Arka sudah bekerja sangat keras demi mendapatkan pendonor untuk Arka. Namun, mereka belum berhasil juga.
"Aku menemukan pendonor nya. " Ujar seseorang. Sontak, orang tua Arka memutar badan mereka secara bersamaan.
"Presdir Riyan? Gurunya Arka? " gumamnya.
***