Riyan & Vania

Riyan & Vania
16. Riyan POV



***


"Lo suka sama Vania,  Ka? " tiba-tiba Sandy bertanya seperti itu. Seasaat setelah dia meletakkan tasnya.


Arka tersentak halus. Dia agak terkejut dengan pertanyaan Sandy ini.


"Gak lah. Gua anggap Vania sahabat gua sendiri,  makanya gua lindungin dia. Karna dia saha--"


Entah kenapa,  ada rasa yang aneh saat Arka mengatakan 'sahabat' ini.


"Lo sendiri San? Lo suka sama Vania? Serius sukanya maksud gua. Lo kan ada sengklek-sengkleknya. Kali aja iseng doang kan? " Arka membalikkan pertanyaan ambigu Sandy.


"Ya suka lah. Kalo gak, ngapain gue manggil dia calon binik gue. " sahut Sandy enteng. Dia yakin sekali akan perasaannya.


"Ohh gitu, hmmm ...."


***


Riyan POV


Mata ku masih terpejam, namun aku merasakan badan ku lemas sekali, serasa remuk.


Sebelum mata ku terbuka, aku mulai mengingat satu hal. Yah, aku ingat bahwa terakhir kali aku mengendarai mobil dengan keadaan yang buruk, demi menemui dia.


"Vania!! " aku berteriak sekerasnya, namun itu tidak bisa. Karna mulut ku terhalangi alat aneh di mulut ku.


Aku perlahan membuka mata ku, tampak ruangan asing bagiku. Setelah beberapa saat aku baru sadar. Bahwa aku berada di rumah sakit.


Sekarang aku ingat. Aku kecelakaan, aku menabrak tembok pagar rumah ku sendiri.


Sial!! Sekarang bagaimana keadaan si bocah rese itu?!


Aku melihat kanan kiri, tak ada seorang pun di sisi ku. Aku menatap jam itu dengan seksama.


Pukul satu siang, gadis itu masih belum pulang. Aku, aku harus meminta pak Jun agar menjemputnya. Bagaimana keadaannya.


Aku tidak tau kenapa? Aku tau aku bodoh! Sangat bodoh! Aku begitu mengkhawatirkan bocah rese itu! Aku tidak tau mengapa! Tapi yang jelas, aku harus tau bahwa dia baik-baik saja!


Aku mengumpulkan segala tenaga ku. Melepas paksa seluruh alat rumah sakit. Baru aku sadari, ternyata luka di kepala ku cukup parah. Dan ada beberapa luka ringan di tangan dan kaki ku! Tapi aku tidak perduli! Hati ku hanya ingin tau, apakah Vania baik-baik saja?!


Ahh tidak~


Kalau di ingat-ingat lagi. Aku tau kenapa aku begitu mengkhawatirkan Vania. Yah~ itu karna papah dan mamah ingin aku menjaga bocah rese itu. Itu benar, aku begitu khawatir pada Vania, hanya karna perintah papah dan mamah. Karna aku orang yang bertanggung jawab. Tak ada alasan lain untuk aku mengkhawatirkan bocah se rese dia.


Uhhhh!!


Aku kehilangan keseimbangan sampai orang itu datang.


"Riyan! Woi!" Teriak seseorang dari arah pintu. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Namun yang pasti, dia mendekat ke arah ku.


"Lo stress yah? Gila nih anak! Ngapain lo bangkit?! Udah tau luka cedera parah gini! Masih aja ngeyel mau bangkit! Gak ganteng lagi ****** lo! Gak ada cewek yang mau deketin! " oceh orang itu. Dia memapahku membantu ku berdiri. Aku bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Dia adalah sahabat ter narsis yang ku punya. Arfenik Arkasa.


"Ngapain kau ke sini? "


"Diem deh Yan! Udah balik gih tiduran! Dokter! Dokter!! " Arfen berteriak sekencang-kencangnya. Samar-samar aku bisa melihat beberapa dokter berlarian ke arah kami.


Tanpa aku sadari, aku sudah di bius dengan suntikan. Pandangan ku sudah tidak jelas lagi.


***


Apakah bocah rese itu udah ada yang jemput?! Siapapun! Tolong jemput dia.


Aku merasakan badan ku kaku dan tak lagi bebas. Itu karena seluruh tubuhku sudah di kelilingi oleh alat rumah sakit.


"Masih hidup yan? Alhamdullilah dong. " suara itu. Aku begitu familiar dengan suara itu. Aku menoleh ke sebelah kiri. Aku bisa melihat Arfen, Raisa, dan bocah yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke empat belas tahun, bulan lalu. Shiren, adiknya Arfen. Dan suara itu, adalah suaranya Raisa.


Aku hanya menatap nya datar. Raisa masih sama, masih cantik dan dingin, juga mulut pedas dan ketusnya tidak hilang. Hanya saja, dia sudah memiliki kekasih katanya. Memaksa ku untuk mundur sejak beberapa tahun silam. Selama aku di Jerman.


"Muka lo jelek yan. " itu adalah bentuk apresiasi Arfen terhadap ku yang sudah terbaring lemas begini.


"Udah kak, jangan dengerin omongan orang ini. Kak Riyan masih ganteng kok, apalagi kalo bayarin aku makan es krim. Makin ganteng~" tambah gadis kecil itu, Shiren. Tidak heran, dia dan Arfen berasal dari gen yang sama. Malah makin aneh kalau Shiren itu pendiam.


Berisik!


Batin ku, aku sedang tidak bisa berbicara, karna alat rumah sakit ini.


Oh ya! Vania! Siapa yang jemput.


Aku membuka paksa alat ini, arghh entah apa namanya!


"Woi, jangan di buka! " teriak Arfen.


"Diam aja dulu. Fen, tolong jemput Vania. Vania masih di sekolah. " Ujar ku langsung.


"Tenang aja kak, kak Vania udah di jemput sama calon kakak ipar Shiren. " sahut gadis kecil ini. Aku tau yang di maksud kakak ipar, adalah Lathifa kan?


Shiren mendadak tersenyum. Argh!!! Kepala ku lagi-lagi pusing.


"Om Galak! " Dua kata itu terus terbayang di kepala ku. Beserta dengan wajah gadis yang masih tidak bisa ku kenali.


***


Author POV


"Fen, Raisa, aku minta kalian jelasin soal masa SMA ku. Aku sama sekali gak bisa mengingatnya. " lirih Riyan dengan suara yang seadanya.


"Kita gak bisa kasih tau lo. " sahut Arfen singkat, nada santai khas miliknya.


"Masa SMA kita bahagia. Sayang banget lo lupa. Gue ketemu Nando masa SMA. Dan masa SMA lo tertembak peluru asli karna gue. " sahut Raisa enteng.


Satu penjelasan ringan itu membawa getaran hebat pada tubuh Riyan. Kepalanya semakin lama semakin sakit. Namun dia tentu tak ingin menyerah. Riyan masih memaksa dirinya untuk mengingat segalanya.


"Lalu siapa itu Vania? Kenapa mendadak waktu aku pulang di ada di rumah ku? Dan tinggal bareng aku? Apa dia adik angkat ku? Atau adik tiri ku? " tanya Riyan lagi. Tak perduli sehebat apa sakit kepala yang menghujamnya. Dia masih ingin tau kebenarannya. Apapun resikonya.


"Vania itu, vania--" Raisa mulai gagu, dia sesekali melirik Arfen. Raisa sebenarnya juga bingung harus menjawab apa.


"Hah? Kak Vania itu kan pacar kak Riyan?! Iya gak sih?! " Ceplos Shiren begitu saja. Mulutnya dan kakak laki-lakinya memang sebelas dua belas kan?


Sesaat setelahnya Shiren menutup mulutnya, menyadari karna bibir mungilnya itu sudah mendatangkan satu masalah yang tidak lagi bisa di anggap remeh.


***


Arghhh mana nih yang minta up lagi.


Mwehehe aku dah kabulin loh


Jangan lupa like, komen, dan Votenya yah^^ selalu berikan dukungan buat authornya. ^^