
***
Setelah sampai di rumah sakit, Arka langsung di bawa ke ruang ICU. Tidak lama setelah itu, orang tua Arka datang.
Semuanya masih menunggu di depan ruangan itu, dengan hati dan jantung yang berdegub begitu kencang.
"Vania, Arka kenapa nak?" tanya mamah Arka lembut, pada gadis yang sudah setengah takut itu.
"Aku gak tau tante. Arka tadi main volley dan dia mendadak pingsan. " tutur Vania lembut.
"Ha? Cuma gara-gara main volley? Kenapa? Apa Arka sakit?" heran papah Arka.
Orang tua Arka belum tau ya kalau Arka punya penyakit? Arka sehebat apa? Sampai bisa nyembunyiin ini dari orang tuanya?
Vania mengguman dalam hati.
Suara pintu terbuka, seorang dokter yang keluar dari ruangan itu kini sudah menjadi pusat perhatian.
"orang tua anak ini?" Dokter itu menatap ke arah papah Arka.
"Iya saya dok."
"Bapak ini bagaimana, tubuh anak bapak sudah sangat lemah. Harusnya beristirahat saja. Untuk apa banyak bergerak. "
"Lemah? Lemah kenapa dok?!"
"Bapak dan ibu tidak tau? Anak bapak mengidap penyakit gagal ginjal telah lama. Dan menurut prediksi medis, dia tidak akan hidup lebih lama kalau tidak ada pendonor yang tepat. " tutur dokter itu.
Kedua orang tua Arka sama-sama shock. Mereka benar-benar tidak percaya bahwa anak tunggal mereka mengidap penyakit ginjal, dan berusia tak lama lagi.
Bukan hanya kedua orang tua Arka. Yang lainnya, bahkan Riyan juga kaget.
Mendengar berita itu mereka benar-benar sedih dan terpukul.
***
Karna memang jam itu masih jam sekolah, dan orang tua Arka sudah datang. Vania, Sandy, dan Disha kembali ke sekolah.
Saat di sekolah semuanya senyap. Sandy yang biasa rese juga diam. Entah dia merasa bersalah atau tidak.
"Apa kata-kata aku tadi ngaruh yah Van? " Tanya Disha.
Vania diam. Dia juga tidak tau, apakah berpengaruh atau tidak.
Tapi, tentu saja kemungkinan besarnya adalah berpengaruh.
***
Vania hanya diam di rumah nya. Hatinya benar-benar tidak tenang. Dia bolak balik mengecek notif HPnya. Namun sayang, tak ada informasi apapun.
Yang ada di dalam pikirannya hanya Arka dan Arka. Bagaimana keadaan Arka saat ini?
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Vania tidak perlu takut, ini genre romance bukan horor kan?
Vania berjalan pelan. Mengintip seseorang itu dari jendela.
"Tante Airin? Di sini? Kenapa? " gumam Vania. Tangan nya langsung memegang gagang pintu dan membukanya.
"Halo Vania, lama gak ketemu kamu makin cantik aja yah. " sapa Airin lembut. Dia langsung mengecup kening gadis muda yang membukakannya pintu itu.
"Ma-makasih tante. A-ada acara apa ta--?"
"Jadi gini nak. Tante tuh mau Arisan. Dan hari ini Riyan minta di anterin bekal. Lagi gak mau makan di luar. Vania bisa tolong anter ya? " tutur Airin jujur.
Vania diam sebentar. "oke deh tante, vania bakal anterin. " lanjutnya.
***
"Jadi ini kantor om galak? Besar bet. Wajar sih, ini kan perusahaan terbesar ke dua. Pusatnya lagi." Vania mendongak menatap betapa tingginya gedung itu.
"Heran aku tuh, udah jadi presdir sehebat ini ngapain cobak merambah jadi guru. Buat honor-honor yang lain kurang aja. " tambahnya melangkahkan kakinya masuk.
"Permisi kak, aku mau ketemu sama pak Riyan Adijaya, apa bisa? " tanya Vania pada resepsionis itu.
Resepsionis itu menatap Vania dari atas sampai bawah dengan Serius. Dia membandingkam pakaikan Vania yang sederhana dengan pakaiannya yang modis.
"Emang kamu ada keperluan apa? "
"Aku cuma mau anter bekal yang mamah pak Riyan titipin. "
"Pembantu yah? Dari pakaiannya kayak nya sih iya. Kasihan, masih muda putus sekolah malah jadi pembantu. "
"Sshhhtt Del diem aja, kali aja ini emang pembantu." sambung gadis di sebelahnya.
"Terserah deh, nih aku nitip bekal. Entar kalian kasih aja. " Vania meletakkan bekal itu di atas.
"Bekal? Enggak ada pelet cinta nya nih? " ledek wanita itu, Dela namanya. Vania bisa tau Karna ada papan namanya.
"Kenapa kau ngobrol sama orang yang gak jelas. Kenapa gak langsung masuk ke ruangan saya?! " tiba-tiba sudah ada Riyan yang menarik Vania dalam pelukannya.
Sontak, Vania mencoba meronta. Namun sayang, perbedaan tenaga terlihat jelas di sana. Vania tak mampu melawan Riyan.
"P-presdir!! "
Semua karyawan dan karyawati mendadak kaku dan diam. Mereka menunduk takut, terutama wanita itu, Dela.
"Ini makan buatan kamu? " Riyan mengambil bag berisi bekal itu.
"Bukan, itu Tante Airin yang buat. Tante katanya mau Arisan, jadi nitip makanan nya ke aku biar di anter ke bapak. " jelas Vania singkat.
"Terus kenapa ngobrol sama mereka? Kenapa gak langsung telpon aku? Aku bisa jemput kamu di gerbang. Gak perlu ngomong sama mereka. " Riyan menarik tangan Vania menuju lift khusus untuknya itu.
***
"Kalian berdua di pecat. Pekerjaan kalian bagus, sangat terampil. kesalahan kalian, tidak menghargai orang. Kesalahan terbesar adalah mencari perkara dengan nona muda. " ujar Dirga, asisten Riyan.
Pemecatan ini tentu adalah perintah langsung dari orang paling berkuasa di perusahaan itu kan?
"Ka-kami minta maaf! Kami tidak akan mengulangi nya lagi! Kami benar-benar tidak tau kalau dia sepupu dari presdir Riyan!!! " bela Dela.
"Sepupu katamu? Dia adalah calon Nyonya Adijaya! Untuk itu, jangan sekali-sekali kalian mencari perkara dengannya! Atau kalian akan berurusan dengan Presdir Riyan langsung. "
Semua mata karyawan itu menunduk, meski Dirga tidak semenyeramkan Riyan. Tetap saja mereka takut.
***
Di dalam lift hanya ada mereka berdua, Riyan & Vania. Tangan Riyan sendiri masih setia menggenggam erat pergelangan tangan gadis mungil itu.
Vania menatap Riyan sembunyi-sembunyi, kepalanya terus menghadirkan segala ucapan pembelaan barusan.
Entah kenapa, perasaan yang ingin Vania kunci dan buang jauh-jauh, malah semakin besar.
Gak! Gak boleh Vania! Jangan! Jangan sukain om galak lagi atau kamu bakal bener-bener sakit hati dan gak bisa move on!
Yakin Vania dalam hatinya.
***
"Gimana ini pah? Mamah sama sekali gak tau Arka punya penyakit. Gimana? Dimana kita nyari pendonornya pah? Dan umur Arka ud--"
Papah Arka menutup mulut istrinya lembut. Dia sama sekali tidak ingin mendengar itu. Arka satu-satunya anak mereka.
"Papah bakal usahain nyari. Pendonor yang tepat buat Arka. Mamah tenang aja, pasti ketemu kok. "
"Tapi kenapa pah? Kenapa Arka nyembunyiin ini semua dari kita? Kenapa? "
Untuk sekarang, mamah Arka hanya bisa menangis sambil terus berdoa anaknya baik-baik saja.
***
Assalamualaikum
Makasih yang udah tetep stay dan nunggu ini. Makasih banget. Dan maaf banget aku ga bisa up kemarin2 itu karna yah yah yah. ^~^