
***
"Bukan menghina! Ini namanya Fakta!! Sahabat kamu itu udah berbuat mesum sama pak Riyan di ruang kosong sekolah kita!! Gue yakin, ini semua karna dia yang ngerayu pak Riyan, dengan dada datarnya itu!! " Tegas Siska lantang.
"Eh, mulut di jaga ya! Apa mau aku laporin ke guru! Kamu gak punya bukti apa-apa!! "
"Bukti? Gue punya kok. " Siska mengeluarkan Hpnya dengan percaya diri. Dia lalu menunjukkan sebuah Video dimana Vania keluar dari ruang kosong, dan tidak lama. Riyan juga keluar dari ruangan yang sama.
"Apa? Mau lapor ke guru, hayuk lah. " Siska tersenyum puas.
Vania diam mematung, seolah tak percaya bahwa dia baru saja tertimpa fitnah yang besar. Kejadian nya tidak seperti itu,kan?
"Itu fitnah! Aku gak pernah--" sangkal Vania.
"Diam lo wanita rendahan! Jadi lo mau menyangkal bukti ini?! Cih! Bukti di tangan gue udah jelas adanya. Nyata dan asli! Gak di reka edit! Lo yang udah merayu pak Riyan!! " Siska menggenggam erat tangan Vania. Matanya ia besarkan menatap gadis mungil itu.
"Ta-tapi gak gitu kejadiannya! Faktanya aku sama pak Riyan cuma ngobrol di dalam sana! "
"Bohong! Lo bohong Vania! Kalau memang cuma bicara. Kenapa lo keliatan ketakutan? Gelagat lo aneh?!?"
"Apa sih lo cewek narsis, penampilan Jamet juga. Masuk kelas orang sembarangan. Tebar fitnah sana sini seenak jidat. Pengen pansos lu?" Arka menarik tangan Siska menjauh dari Vania.
"Tau tuh, ngapain lo ganggu binik gue. Udah bosan idup lo? " lanjut Sandy menatap hina Siska.
"Heh! Bukan gue yang pansos! Tuh cewek lo tuh pansos! Pake rayu-rayu pak Riyan lagi! " Siska menunjukkan video di Hpnya.
Arka dan Sandy tau benar, bagaimana kejadian itu. Itu, terjadi di depan mata mereka kan?
"Fitnah! Itu Vania cuma ngobrol! Karna ada gue sama sandy juga di belakang Vania."
"Najis lo Ka. Lo bohong demi cewek murahan ini! Mending lo carik cewek baru, di banding cewek yang udah gak suci!"
Saat itu Arka sudah mengangkat tangannya bersiap untuk menampar wanita bermulut pedas itu. Namun, Arka berhenti mengingat Siska adalah wanita.
"Wah ada apa ini ramai-ramai. Saya dengar perempuan tidak suci, siapa? " Riyan dengan santainya masuk ke kelas Vania. Memecah kerumunan itu.
Sontak, Siska langsung menyembunyikan Hpnya.
Riyan menatap Vania yang sudah menteskan air mata, Arka yang sedang mengangkat tangan, dan semua wajah orang tegang di sana.
Namun, pusat kemarahan Riyan kali ini hanya di sebabkan oleh satu hal.
Siapa yang berani buat Bocah rese nangis?!
Riyan mengalihkan pandangannya pada Siska.
"Perlihatkan saya Video itu. " Ujar Riyan dingin. Mendadak suasana sudah tidak lagi bersahabat.
Siska dengan ragu-ragu memberikan HPnya pada Riyan.
Takkkk!!!
Riyan mencampakkan Hp itu ke lantai. Satu kakinya di angkat untuk memijak Hp itu.
"Dan kau... " Riyan memutar badannya, tepat bertatapan dengan Siska yang sudah di selimuti ketakutan. "Beraninya kamu memfitnah saya telah melakukan hubungan tidak senonoh di sekolah ini, pada gadis di bawah umur. Kamu tau siapa saya?"
"Bapak adalah Riyan Adijaya, pewaris tunggal perusahaan Adijaya yang terkenal. " sahut Siska gemetar.
"Lalu, kenapa berani menyebar Fitnah tentang saya. Dengarkan untuk kalian semua! Semua yang ada di dalam Video itu fitnah! Buat kamu, Siska! Hormat bendera selama Dua jam. Kalian semua bubar dan pergi!!"
***
Setengah jam telah berlalu sejak keributan tadi pagi. Sejak itu, tak ada satupun lagi yang berani membicarakan Vania, ataupun Riyan. Siska di luar sana menjalankan hukumannya. Dan Vania di dalam sini, tengah sibuk mengolah informasi di kepalanya.
Pak Riyan buat yang tadi? Itu demi Reputasi nya aja kan? Dia mana mungkin mikirin reputasi ku?
Batin Vania, sesekali dia mencuri pandang menatap Riyan yang tengah berkutat pada laptopnya.
Pak Riyan ini? Sebenarnya baik? Atau jahat sih? Apa hubungannya sama Vania?
Di belakang sana Arka juga tengah mengolah otaknya.
"Pelajari materi itu. Lima belas lagi, kita akan ulangan mendadak. " Ujar Riyan. Hanya dua kalimat tapi itu menggetarkan seisi kelas.
"Ulangan pak? Yakin? Bukannya minggu lalu udah?! " Protes Disha.
"Minggu lalu kamu makan kan? Hari ini makan juga kan? Apa bedanya dengan ulangan. "
"Mana bisa gitu pak! Masa ka--" ucapan Vania terpotong.
"Tentu saja bisa! Saya gurunya! Saya yang ngatur. Jangan berisik! "
"Pak pak! Wiu wiu wiu!! Pak Sandy berhenti bernapas. Tepat saat bapak bilang kita akan ulangan! " Teriak Arka, satu tangannya menggoyang badan Sandy.
"Pala mu Peang ka! Gue masih hidup! Jangan ngadi-ngadi lo! " Tiba-tiba Sandy membuka matanya dan bangkit.
"Berisik San! Pura-pura Meninggoy aja dulu, kali aja Ulangan di tunda. Dodol bet sih lu. "
"Oh iya yah! " Sandy kembali memasang pose seperti ikan sekarat di darat.
Vania dan Disha hanya mampu memasang wajah datar, saat teman-teman lainnya menahan tawa.
"Sandy berhenti bernapas mendadak? " ulang Riyan.
"Iya pak! " Arka mengangguk serius. "Makanya pak, ulangan mendadaknya kita hentikan juga. "
"Coba kasih pertolongan pertama dulu. Arka, kamu kasih Sandy napas buatan."
"Jangan pak!! Jangan Arka!! Vania aja pak! Sayangilah the First kiss ku. " Teriak Sandy.
"Dodol!! " teriak Arka geram. Terpaksa dia harus mengikuti Ulangan yang akan menguras otaknya itu.
***