
***
Dan di sanalah dia, makhluk tak tau malu. Dia, Arka berdiri di depan kelas dengan satu kaki di angkay, dan kedua tangannya menyilang memegang telinganya.
Tentu saja, Arka mendapat hukuman itu dari om galak.
"Saya sudah mendengar kisah manis kalian, dan kekompakkan luar bisa kalian. Bagus juga sih. " om galak mengatakan itu santai, namun jujur aku merasa tertekan. Kali ini om galak hadir di depan ku dengan nuansa yang berbeda.
Tapi yang berada di depan ku tetaplah om galak. Aku ingin sekali menghampirinya, namun yah itu hanya ilusi belaka. Bahkan aku sendiri sulit sekali mempercayai bahwa manusia yang duduk elegan itu adalah om galak ku yang dulu.
Ah ralat, wajahnya saja yang sama. Sikapnya sangat berbeda jauh. Jujur, aku merasa bahagia melihatnya ternyata sehat-sehat saja. Namun, rasa sesak yang luar biasa juga muncul di hati ku, saat aku ingat fakta bahwa om galak tidak pernah mengenal yang namanya Vania.
Aku menutup mata ku, menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak bersedih, dan mengiikhlaskan segalanya. Ayo mulai hidup baru! Jalani hidup seperti Vania biasa sebelum bertemu dengab om galak! Jika dia tidak mengnal ku, maka dari itu. Kenapa aku tidak berpura-pura saja tidak mengenalnya?!
"Makasih pak atas pujiannya. " sahut ku. "Kekompakan kami memang patut di puji. " lanjut ku lagi. Sejak awal aku memang murid yang baik, dan juga nakal. Maksudku, nakal ku karna tertural oleh human-human yang ada di kelas ku.
"Gue kira lo ada masalah apa hari ini, akhirnya balik juga. " bisik Disha pelan di sebelah ku.
Meski begitu, tetap saja aku bergetar berbicara langsung dengan om galak.
"Kami ini kelas yang kompak pak, " tambah Sandy enteng.
"Hanya saja kekompakan kalian tidak di gunakan dalam hal kebaikan. " lanjut om galak, menatap satu per satu dari kami.
"Gunain kok pak, bapak gak tau aja udah berapa banyak kucing yang kita tolongin waktu itu. Waktu kita tertambat berjamaah." Tambah Disha, sangat santai sekali. Mereka benar-benar tidak gentar siapapun wali kelasnya.
Om galak menoleh ke kanan, menatap Arka yang tengah di hukum. Tampak Arka masih tegak menjalani hukumannya, tanpa goyang-goyang, tanpa wajah kesal, ataupun menuntut. Benar-benar bertanggung jawab. Aku bisa melihat om galak menyunggingkan senyumannya tipis. Mungkin tak ada dari teman-teman ku yang menyadarinya, tapi aku sadar betul ini.
"Terlambat berjamaah? Bagus, kalian memiliki kebiasaan buruk yang banyak. Sekarang, mari kita lihat apa saja kelebihan kalian itu. " Ujar Om galak menatap kami satu per satu.
Dia menoleh ke arah Arka. "Kau, bocah payah, apa kemampuan mu? "
Arka diam, dia menaikkan alisnya menatap om galak. "Oh bakat ku? Tidur dong. " sahut Arka enteng.
Om galak tersenyum, entah senyuman apa maksudnya itu.
"Kau, gadis paling pinggir di depan. " tunjuk om galak, pada Disha yang ada di sebelah ku.
"Bakat ku? Nonton puluhan episode anime per hari. " sahut Disha enteng. Tapi, aku rasa Disha memang jujur.
"Kau?? " om galak menunjuk ke arah ku.
Bentar, bakat ku apa?! Ah yah, mendesain. Tapi, jawaban itu terlalu normal. Sebentar, aku cari yang gak normal dulu.
"Corat-coret. " sahut ku singkat. Tampak om galak mengernyitkan dahinya.
"Kau, yang di belakang? Mulut mu lemes sekali. Apa bakat mu? "
"Bapak gak lihat. Bakat saya adalah bakat alami, bakat yang di hadiahkan Tuhan pada saya. Bakat saya adalah wajah saya yang tampan ini, yah kan binik gue? " sahut Sandy enteng, memasang pose bergaya seolah di begitu tampan. Menepuk pundak ku meminta persetujuan.
Aku mengernyit heran ke arah Sandy, ah harusnya tidak heran. Sandy memang sering mengklaim aky sebagai miliknya. Tapi ...
Benar juga, kenapa om galak cemburu. Kami kan saling tidak mengenal.
***
Author POV
Sudah jam dua siang, seperti biasa Vania setelah pulang sekolah langsung mengunjungi cafe keluarganya itu. Cafe sederhana pengisi tabungan Vania di rekening.
Vania yang sekarang juga turut membantu membuat coffe dan sesekali membuat desain untuk memperbaharui cafenya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah saatnya Vania pulang, dan Cafe itu di percayakan pada anggota kakek Vania dulu, yang sudah seperti keluarga sendiri.
"Baru pulang Non? " sapa pak Satpam di posnya pada Vania, yang baru saja turun dari mobil taksi.
"Iyah pak, oh yah pak Om Agung sama Tante Airin di rumah? "
"Enggak Non, mereka baru aja pergi. Mau reunian katanya. Bu Airin berpesan, Nona muda jangan lupa makan yah. "
"Oh iyah pak. " Vania mengangguk mengerti, sembari terus berjalan masuk.
Namun, saat dia menoleh ke arah garasi mobil. Ada yang aneh, ada mobil biru tua yang tengah terparkir di sana. Vania ingat, pernah melihat mobil itu di sekolah. Tadi pagi!!
Vania segera berlari cepat menuju ke dalam rumah. Vania berhenti melangkah setelah matanya menangkap sosok itu. Sosok pria yang tengah duduk santai membaca majalah, di temani dengan secangkir kopi di mejanya.
Om galak?! Kenapa bisa ada di sini?! Eh tunggu, wajar! Ini kan memang rumahnya om galak!! Jadi dia pulang ke sini?
Batin Vania, kakinya kaku untuk melangkah lebih jauh lagi.
"Non, udah pulang? Non di minta buat makan dulu baru boleh ke kamar. "
Tiba-tiba ada perempuan setengah usia menghanpiri Vania. Vania sendiri kenal dengan orang itu, yah di adalah Asisten rumah ini.
Suara pembantu itu mengalihkan fokus Riyan, yang awalnya di majalah menjadi ke arah Vania. Riyan mengernyit heran, menatap aneh Vania.
Kayak kenal? Oh, dia murid ku kan? yang baru aku temui di sekolah tadi?
Batin Riyan menutup majalahnya, bangkit berdiri menghampiri Vania di tempatnya.
"Eh eh bi, udah gini aja. Makan malamnya Vania bibi bawa aja ke kamar yah? " kata Vania gagu, saat dia sadar Riyan akan mendekat.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Ini rumah keluarga Adijaya. Seingat ku, aku tidak memiliki sanak saudara seperti mu. " kata Riyan saat jaraknya dan Vania hanya tinggal satu meter.
"Maafkan saya tuan muda, jika anda bertanya soal status Nona muda dan kenapa bisa tinggal di sini. Saya rasa anda harus bertanya pada Tuan dan Nyonya besar. " sahut bibi itu menunduk.
"Bibi Yuli, bibi sudah bekerja di rumah kami selama puluhan tahun. Untuk itu aku menghargai bibi, tapi bukan berarti bibi bisa menjawab ku secara urakan. "
***
Maaf Author gak bisa Update kemarin TwT. Di tebusnya hari ini aja yak TwT salam manis Rini IR^^