
***
"Pak? Serah deh bapak mau nyinyirin aku apa. Tapi, bapak ngapain duduk di sini? Bukannya kamar aku ini kacau, jelek, kucel, enggak eatetik?"
"seluruh rumah ini milik ku, sudut manapun di rumah ini milik ku, jadi mau kemanapun aku itu terserah ku aku bebas, karna aku pemilik rumah ini. Kau sa--"
"Iya aku tau aku emang cuman numpang di rumah ini, tapi bukan berarti bapak bisa keluar masuk kamar aku! "
Deg.
Riyan terdiam seketika, bukan begitu maksud Riyan. Dia sama sekali tak ingin menyinggung Vania yang menumpang. Hanya saja mulutnya sudah terlatih begitu.
"Buk-Bukan be--"
"Bukan apa pak? " Vania menatap lurus ke arah Riyan.
Shit! Sial!
"Terserah lah, aku tidak peduli. " Riyan bangikit berdiri, berjalan cepat keluar dari kamar Vania.
Tes tes
Setelah di rasa Riyan benar-benar telah pergi. Air mata Vania jatuh sendiri,
Aku tau. Aku sendirian di dunia ini. Hanya seorang diri, sebatang kara.
Vania melipat tangannya, menenggelamkan wajah mungilnya di sana. Moodnya untuk mengerjakan tugas sudah hilang.
***
Mentari telah naik, begitupun juga dengan Vania yang telah bangun. Gadis itu mulai memakai dasi miliknya, mengikat rambut panjangnya.
"Semoga hari ini jadi hari yang baik. " gumam gadis mungil itu, ia berjalan menyambar tas yang terletak di atas kasurnya.
Dia berjalan, namun ada yang aneh saat dia melewati pintu kamar Riyan. Pintu kamar manusia itu sedikit terbuka, Dari celah kecil itu Vania bisa melihat bahwa Riyan tengah kesusahan memakai dasinya.
Namun, mengingat kejadian kemarin malam yang cukup membangkitkan kesedihan. Vania sama sekali tak ingin berurusan dengan Riyan lagi.
Jalan aja ah, aku belum sarapan juga,
Vania melanjutkan langkah dengan kaki pendeknya.
"Hoi! Tunggu! " Teriak Riyan dari dalam. Sontak Vania menghentikan langkahnya.
Riyan keluar dari kamarnya, matanya langsung menangkap sosok mungil Vania di depannya. Pandangan Riyan jatuh pada dasi yang sudah terpasang manis di leher Vania.
"Hey! Om mesum! Apa yang kau lihat?! " bentak Vania, entah apa yang ada di dalam otak kecilnya itu. Dia mendadak menutupi tubuh bagian depannya dengan tas.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Jaga pula mulut mu itu, atau kau akan menyebabkan kesalahpahaman yang akan merusak nama ku." Sarkas Riyan, menatap datar sosok itu.
"Bukan kah kau sendiri yang merusak nama mu? Kau menatap dada seorang gadis muda dengan ekspresi mengerikan seperti itu. Siapa yang tidak takut? "
"Tcih! Jangan ke Ge-eran. Aku cuma melihat dasi mu, aku tidak bisa pakai dasi. Lagipula, siapa yang berselera dengan dada kecil seperti itu. "
"Tcih! Nyinyinyi alasan! "
Benar juga, selama yang ku tau. Om galak bin nyinyir emang ga pernah pasang dasi sendiri. Selalu tante Airin yang bantuin.
Batin Vania, dia hanya mengingat cerita Airin saja.
"Hey bocah! Kau bisa pasang dasi kan? Ayo pasangkan dasi ku! " titah Riyan layaknya dia bos besar.
"Ogah, rugi dong aku. "
"Pasangkan atau ku kurung kau di kamar?!"
Vania berdecak kesal. Dengan terpaksa dia mendekati Riyan dan mulai memakaikan dasinya.
Hmmmm aroma tubuhnya wangi sekali. Sabun apa yang di pakainya? Dia juga begitu pendek yah? Bulu matanya juga lentik,
Deg deg deg
Om galak!
Satu suara, dua kata, suara anak-anak yang terus terngiang di kepala Riyan selama Vania memakaikannya dasi. Riyan masih mencoba untuk tetap menahannya. Rasanya kepapanya berat sekali. Pusing hebat itu masih Riyan tahan.
"Oke, udah. Aku mau sarapan dulu. " Vania mundur, dia melanjutkan jalannya ke lantai bawah.
Riyan sendiri langsung kembali masuk ke kamarnya. Kali ini dia tidak meminum obat yang di anjurkan dokter. Riyan langsung melemparkan kasar tubuhnya di kasur. Suara anak kecil itu masih terus terngiang di kepala Riyan.
***
"Nona vania udah selesai sarapan? Kalau udah biar bapak aja yang antar sini. " Suara lembut bapak setengah usia itu menghampiri Vania yang tengah asyik sarapan seorang diri.
"Eh, bapak? Bukannya biasanya pak Riyan? " heran Vania.
"Tuan muda sedang ada urusan penting sebentar. Jadi dia meminta saya untuk mengantar anda. "
"Humm, oke degh pak. Bentar yah, aku habisin sarapan dulu. "
Bapak itu mengangguk dan tersenyum ramah, sembari terus menunggu Vania.
***
Vania yang duduk di bangku belakang, layaknya nona muda biasanya. Gadis mungil itu menatap keluar jendela, dengan lamunan yang masih sama.
Yah wajar sih, om galak gak mau anterin. Dia kan nganterin aku nunggu di perintah sama om Agung.
Mendadak mobil yang Vania kendarai berhenti.
"Sebentar Nona, saya periksa lebih dulu. " pak Jun, nama pelayan itu. Pak Jun segera keluar dan memeriksanya.
Vania bisa melihat, pak Jun tengah mengotak atik mesin mobil ini.
"Maaf nona muda, mobilnya mogok. Kayanya bapak juga harus manggil montir. Nona muda, mau saya pesankan taksi? "
"Hemm, enggak usah deh pak. Lagian sekolahnya udah dekat juga. Vania jalan kaki aja udah sampai, vania dari gang encot sebelah kiri itu. Kayaknya ga bakal telat deh. " saran Vania, dia sama sekali tak ingin merepotkan siapapun lagi.
"Begitu kah non? Apa enggak lebih baik naik taksi? "
"Enggak usah pak, jalanan udah dekat juga. "
Vania keluar dari mobil, berpamitan dengan pak Jun, lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.
Kaki Vania berbelok ke kiri, mengarahkannya pada gang tua dab sempit di area itu. Itu memang adalah jalan potong yang bagus untuk ke sekolah.
Satu langkah lagi, dan wuh!!
Vania memundurkan kakinya, dia segera sembunyi di balik pohon beringin yang tua. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berpacu lebih cepar dari biasanya.
Tawuran? Pagi-pagi begini? Arghh sial! Aku lupa, gang ini kan memang gang tawuran! Tapi, mana aku tau mereka akan tawuran pagi-pagi sekali! Gimana nih!!
Vania menarik napasnya, harus gadis mungil itu akui. Dia memang ketakutan saat ini. Syukurlah pohon yang Vania singgahi itu besar. Dan mampu menutupi tubuh mungilnya.
***
Setelah kepalanya terasa mendingan, Riyan turun dan memakan sarapannya.
Pak Jun masuk dari pintu utama.
"Kau sudah kembali? Apa gadis itu tidak terlambat ke sekolah? " pertanyaan Riyan itu menyambut datangnya pak Jun.
"Maaf Tuan muda, saya memang mengantarkan Nona Vania ke sekolah. Tapi tidak sampai gerbangnya. Di tengah jalan mobil kami mogok. Dan Nona bilang akan melanjutkan perjalanan nya jalan kaki saja. Dia akan memotong jalannya, melalui sebuah gang kecil."
Gang kecil? Satu-satunya gang sempit dan kecil di dekat SMA Merah Putih adalah Gang Encot?!!!
Seketika gambaran ingatan orang-orang tawuran hinggap di otak Riyan.
***
Yang dari bangun subuh nungguin Novel ini, mana tadi :v wkwkwk