Riyan & Vania

Riyan & Vania
40. Curahan Hati Vania



***


Satu bulan berlalu sejak terakhir kali. Riyan sendiri masih belum memberitahu Vania bahwa ingatannya sudah kembali sepenuhnya. Bukan Riyan tak ingin. Hanya saja orang itu tak tau bagaimana caranya.


Hari ini seperti biasa Vania masuk dalam kelasnya. namun ada yang aneh. Vania menyadari semakin hari sikap Disha semakin aneh. Vani bisa merasakan hubungan mereka semakin renggang, Disha sendiri seolah menjaga jarak dengan Vania.


Bukan hanya mereka, Arka juga melakukan hal yang sama. Bukan Arka ingin menjauhi Vania. Hanya saja dia canggung. Arka ingin mengubah cara pandang Vania. Tentu saja pria itu tak ingin terjebak dalam friendzone. Uh! Itu sangat mengerikan.


"Dish, entar kantin bareng gue yah? " tawar Vania. Akhir-akhir ini Vania lebih sering ke kantin bersama Arka dan Sandy dan Shina. Sedangkan Disha seolah menolak.


"Gak deh, lagi gak mau ke kantin. " kilah Disha lembut. Memang nadanya terdengar sangat lembut, tapi makna katanya?


"Ya oke deh. " hanya itu yang bisa Vania katakan untuk mengekspresikan kepasrahannya.


Lagi lagi kayak gini. Sama aja kan? Kemarin-kemarin juga alasan Disha gini. Eh tau tau dia ntar ke kantin sama Lana. Hmmm ada apa ya sama Disha?


Batin Vania. Yah, gadis muda itu hanya mampu membatin dengan tatapan sendu ke arah Disha.


Disha juga sama seperti itu kan? Disha masih tetap berteman dengan Vania. Namun, dia hanya sedikit menjaga jarak.


Aku sadar Van, aku suka Sandy. Tapi Sandy nya suka kamu. Aku juga sadar Van, ini bukan salah kamu. Bukan salah kamu yang di sukain Sandy. Cuma... Cuma aku gak tau aja. Nyesek rasanya liat Sandy gombalin kamu.


Batin Disha. Disha juga sadar bahwa Vania akhir-akhir ini kesepian. Namun, Disha juga tidak sekuat itu untuk bersahabat dengan saingan cintanya.


***


Istirahat pertama bukannya ke kantin, Vania malah datang ke kantor khusus Riyan. Bukan ide Vania oke. Ini adalah permintaan Riyan sendiri.


"Ngapain pak?" Tanya Vania enteng setelah dia menutup kembali pintu yang di bukanya.


"Udah makan? " Riyan membalikan pertanyaan Vania dengan pertanyaan baru.


"Belum lah. Baru aja bel, vania langsung otw kesini. "


"Ya udah makan dulu. Aku gak suka liat kamu kurusan. Apalagi jari mu yang kecil itu. Aku takut tak ada cincin yang muat untuk mu. " sindir Riyan enteng. Memang hobi orang itu nyindir.


Vania hanya bisa menatap orang itu datar. Tanpa di minta memang Vania akan memakan makanan yang tersaji di meja itu, bahkan tanpa di tawarkan. Soalnya dia lapar.


"Pak, Vania ngerasa aneh deh sama Disha. Dia kayak ngejauh gitu dari Vania. " celetuk Vania polos. Tanpa sadar dia akhirnya mempercayai Riyan untuk berbagi cerita dengannya.


Wajar saja. Selama ini Vania kan memang tidak memiliki siapapun untuk di ajak curhat.


Riyan juga tersenyum tipis. Riyan sekarang benar-benar yakin bahwa dia sudah mendapatkan kepercayaan Vania yang begitu mahal harganya.


Akan ku jaga kepercayaan ini, semampu ku.


"Kau ada buat salah gak sama dia? Sadar atau gak sadar. Mulai dari sikap, perlakuan apapun. "


Vania menggeleng yakin. Dia memang tidak merasa melakukan hal yang salah.


"Atau mungkin kau gak kasih dia contekan lagi? " terka Riyan.


"Enggak lah pak. Mana mungkin! Vania sama Disha mah pinteran Disha tau. "


"Oh iya yak. Kamu kan beg*k. Tapi sebeg*k-beg*knya kamu, aku tetep pilih kamu. "


"Tcih!"


Mendengar Riyan mengumpat dengan mimik wajah kesal, itu bagaikan hiburan sendiri bagi Vania.


***


Setelah perutnya terisi dengan baik. Vania keluar dari ruangan singa itu. Tanpa Vania duga.


"Loh Van? Lo kok keluar dari ruangannya pak Riyan? Lo di apain sama dia? Di ganggu? Bilang aja ke gue Van. Gue bantu. " Celetuk Arka berhadapan dengan Vania. Ternyata, secara kebetulan Arka juga lewat sana.


Berhubung Vania takut kalo Riyan denger. Vania menarik tangan cowon jangkung itu menjauh dari ruangan singanya.


"Hemm, gimana yah Ka jelasinnya. " Vania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Cerita aja Van. Santai aja. Ini gue kok. Kalo lo cerita sama gue. Di jamin ga bakal ember kek Sandy deh. "


Vania berfikir sebentar. Yang Arka katakan memang ada benarnya. Lagipula Vania sangat percaya pada Arka. Dan Vania sendiri butuh teman di samping nya untuk mendengarkan kisahnya. Harusnya posisi itu di isi oleh Disha. Namun, Disha sekarang? Jangankan curhat. Mendekati nya saja sudah sulit.


"Sebenernya, aku tuh udah di jodohin sama pak Riyan. Yah, setelah lulus aku bakal langsung tunangan sama dia. Jadi tadi itu mamahnya antar makanan buat aku. Yah di sana aku makan. "


Nyesssss!!!


Mungkin itulah yang bisa mendeskripsikan perasaan Arka saat ini. Berita ini bagai petir di pagi hari yang langsung menyambar hati dan jantungnya. Arka ingin sekali menolak mentah-mentag fakta ini.


"Terus lo sendiri Van? Lo terima kalo lo di jodohin sama om-om gitu? Gimana soal perasaan lo? " tanya Arka. Dia mengatur suaranya senormal mungkin. Tapi, tetap saja ada getaran sakit hati di sana.


Gak papa di jodohin, asal mereka beda perasaan kan? Kalo Vania ga suka. Berarti gue masih ada kesempatan dong?


"Hemm, Kalo aku sih. Aku kayaknya udah suka sama Pak Riyan dari SMP. Cuman ada beberapa masalah. Dan aku kayaknya sekarang, masih suka dia. " tutur Vania jujur.


"Ja--"


Tring! Tring!!


Baru saja Vania mau melanjutkan ceritanya. Namun tiba-tiba bel sekolah menghancurkan segalanya.


"Ya udah entar sambung lagi. Sekarang balik ke kelas kuy. " Ajak Vania menyeret lengan Arka.


***


Malam itu pukul sepuluh malam, namun ponsel Vania berbunyi dengan sangat cepat. Seolah dia di telpon berulang kali dengan jangka waktu yang cepat.


Si Sandy rese. Apaan nih anak? spam sembarangan. ga tau apa nih hp ubi, sepupu kentang.


Vania mengangkat telponnya yang ternyata adalah dari Sandy.


"Apa San--? "


"Vania!! Vania! Van... Nia... Arka udah meninggal. Dia kecelakaan. "


***