Riyan & Vania

Riyan & Vania
45. Sandy x Disha?



***


Vania menatap wajah mungilnya di cermin,  setelah dari tadi ribut dengan air yang dingin. Tinggal memakai dasi maka Vania sudah benar-benar siap.


Dia melangkah kan kakinya keluar,  sembari menerka-nerka tujuan Riyan datang ke sini. Meski biasanya memang sering kan?


"Ayo duduk dan sarapan. " Riyan menarik tangan Vania agar jalannya lebih cepat.


Gadis mungil itu seakan tidak memiliki kekuatan untuk meronta,  dia hanya bisa mengikuti alurnya saja. Duduk dan sarapan seperti kata Riyan.


"Jangan terlalu bersedih,  itu tidak baik. Arka tidak akan bahagia jika kalian murung seperti ini. "


Vania meangguk patuh. Riyan hanya bisa menghela napas. Dengan lembut mengambilkan menu sarapan untuk Vania. Melihat Vania yang kekurangan gairah ini, Riyan menyuapinya dengan perlahan.


Vania tersadar seketika dari lamunanya. Dia terkejut, namun tetap membuka mulutnya sesuai arahan Riyan.


"Sealama ini Arka yang selalu temenin Vania kalau Vania sedih pak. "


"Kalau begitu sekarang ada aku. Dari dulu sampai sekarang kan sudah ada aku. Kau bisa berbagi kesedihan bersama ku."


"Apa maksud bapak?" Vania mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tak paham maksud pria dewasa di hadapannya ini.


"Sudah lah. Itu kita bisa bahas nanti. Sekarang ayo ke sekolah. Kau bisa terlambat nanti. "


***


Di sepanjang perjalanan Vania hanya bisa diam dan termenung. Dia nya yang biasa berisik, lalu mendadak diam benar-benar tak nyaman untuk keheningan keduanya di dalam mobil.


"Vania, kau tau? Kemarin aku baru saja mengulik ulang kasus kecelakaan orang tua mu." Riyan mulai membuka pembicaraan. Riyan rasa fakta yang di dapatkannya kemarin malam, harus dia jabarkan kepada Vania.


"Kenapa di ulik? Bukannya papah dan mamah meninggal karna kecelakaan? Kata polisi saat itu papah ngantuk, jadi dia gak bisa nyetir dengan baik. " Vania mengatur suaranya agar terdengar nomal dan baik-baik saja.


Enggak Yan, kau gak bisa bilang ini ke Vania sekarang. Selain karna dia masih berduka soal Arka. Informasi kemarin malam juga belum pasti. Dan ini hanya dugaan ku belaka.


Cicit Riyan dalam hati. Yah cukup dalam hati saja.


...Flashback...


Kemarin malam Riyan tengah sibuk mengulik kasus Arka yang di hubungkan dengan teori-teorinya. Dia mencoba memeriksa cctv di jalanan-jalanan sekitar. Namun, masih hanya sebatas teori dan belum jelas faktanya.


"ini pembunuhan perencanaan? Atau kecelakaan ketidaksengajaan? " Gumam Riyan menatap frustasi laptop nya.


Entah kenapa Riyan teringat satu kejadian yang membahas soal kecelakaan juga. Yah, kasusnya orang tua Vania.


Riyan mulai mencari kasus bertahun-tahun lalu itu. Pencarian itu membawa Riyan singgah di beberapa artikel. Menurutnya ada yang aneh. Malam itu adalah kejadian tragis itu, tapi pagi harinya sudah di beritakan penyebabnya karna ulah papah Vania sendiri yang menyetir dalam keadaan mengantuk.


Gimana mungkin polisi udah tau penyebab kejadiannya secepat itu? Hanya dalam waktu hitungan jam? Penyebab nya sudah di ketahui? Konspirasi kah?


Masalah kecelakaan Arka saja belum tuntas, Riyan di seret ke masalah beberapa tahun yang lalu.


...Flashback selesai...


"Kenapa bapak ulik lagi?"


Riyan diam, dia yang memulai pembahasan ini. Namun, dia sendiri yang tak bisa mengakhirinya.


***


Sandy berjalan sendiri masuk dari Gerbang. Ini hal yang jarang sekali terjadi. Manusia jenis ini biasanya terlambat, dan datangnya lompat dari pagar seolah itu adalah rintangan Ninja warior.


Tapi sekarang, ah mungkin dia tobat? Tatapan Sandy langsung tertuju dua insan yang baru saja turun dari mobil mewah itu. Yah satunya guru legend miliknya, dan satu lagi teman gadisnya, Vania.


Sontak melihat pemandangan yang jarang di lihat ini, Sandy mundur beberapa langkah membungkuk sembunyi di balik semak-semak ini.


Wow, kayaknya misi amanah dari Arka bisa berjalan lancar nih. Menjodohkan mereka berdua. Tenang aja ka, selama masih ada Sandy yang ganteng. Semuanya bakal aman terkendali.


Sandy melihat Disha yang Baru saja datang dari gerbang. Entah kenapa, otak buntuhnya mendadak mendapat ide cemerlang. Dia melambaikan tangannya ke arah Disha. Dia berharap Disha melihatnya. Benar saja, mungkin ada ikatan batin. Disha menatap aneh pria sedeng itu.


"Sini" mulut Sandy seolah berkata itu, apalagi dengan isyarat tangan uang memanggil.


Jantung Disha berdegub begitu kencang, semakin kencang sesuai langkah nya yang semakin dekat dengan Sandy.


"Lama amat sih jalannya." Sandy menarik lengan gadis itu, mengawalnya bersembunyi bersama di semak-semak. Please, ini hanya sembunyi. Otak kalian jangan traveling.


Wajah Disha sudah merona malu, untungnya Sandy bodoh dan tak menyadari itu. Untuk pertama kalinya, Disha bisa sedekat ini dengan Sandy.


"Dish, lo mau gak nolongin gue? "


Disha menggeleng mantap, bahkan saat Disha sendiri belum mendengar permintaan Sandy. "Gak minat. "


Lo mau minta gue bantuin, buat lo jadian sama Vania kan?


Lanjut Disha dalam hati.


"Ailah, dengerin dulu kek. "


"Ogah San, enggak. Kamu stress, aku takut itu nular. "


"Mana ada penyakit stress bisa nular. Gimana sih lo. Dengerin dulu kali, gue mau lo bantuin gue jodohin pak Riyan sama Vania noh. " Sandy mengarahkan jarinya ke arah dua insan yang masih berbincang kecil di dekat mobil itu.


Disha mengekor arah tunjuk Sandy. Disha benar-benar terkejut, dia tidak menyangka nya. Sejak kapan Vania sedekat itu sama pak Riyan?


"Gak mau aku kalau gak dapat imbalan. " Disha memantapkan niatnya.


"Itungan banget sih lo jadi temen. Kan lo ini sahabatnya Vania, bantuin kek biar sahabat lo seneng. "


"Lagian San, bukannya kau sendiri suka Vania? ngapain jodohin Vania sama orang lain coba? Emang ya, kau itu stress. "


***


{Cuplikan chap berikutnya :}


Riyan membawa Vania ke suatu tempat, ah sebuah Rumah Sakit mewah dan berkelas. Bentar ngapain Riyan bawa Vania ke rumah sakit? Pasangan stress mana yang kencannya di rumah sakit?


"Gini ya Van, aku mau cerita. Dulu waktu aku SMA kelas Tiga seperti kamu, aku pernah masuk ruangan ini. Karna tertembak untuk menyelamatkan Raisa. Tapi, semasa aku di rawat, ada satu orang bocah SMP yang berisiknya gak tanggung, beneran bocah rese yang selalu gangguin aku selama satu bulan. "


***