Riyan & Vania

Riyan & Vania
21. Takdir



***


Vania dengan canggung mulai memijat tangan kanan Riyan. Tampak wajah Vania agak merona,  namun Riyan sama sekali tak menyadarinya.


"Kenapa canggung sekali? Bukan kah kita berpacaran sebelum ini? Saat kita pacaran dulu,  sudah sampai tahap mana? Kita pernah pacaran kan? "


Vania terbelalak tak percaya, pasalnya ucapan itu keluar dari mulut Riyan. Ingin sekali Vania berteriak.


Riyan mengernyitkan dahinya heran melihat Vania.


"Om galak udah ingat semuanya? " tanya Vania,  dengan mata berbinar dan penuh harap.


"Ingat? Aku rasa tidak. Cuma,  Arfen dan Shiren bilang. Kita pernah pacaran sebelumnya. Apa benar? "


Vania diam,  dia juga kesulitan untuk menjawab hal ini. Faktanya,  Vania dan Riyan dari dulu memang tidak memiliki status hubungan yang jelas,  kan?


"Kita enggak pernah pacaran. " Vania menyahutinya dengan lesu.


"Lalu kenapa Riyan dan Shiren mengatakan kita pacaran? " Riyan mencoba mengulik lebih dalam,  sembari menahan rasa nyut-nyutan di kepalanya.


Lagi-lagi gadis mungil itu diam. Mulutnya mengatup rapat, dia hanya bisa menunduk malu. Tenggorokannya serasa kelu. Vania sendiri bingung harus menjawab apa.


"Mungkin karna kita dekat. "  sahut Vania,  hatinya berdebar begitu hebat. Wajahnya sudah merona panas. Harapan-dan harapan sudah hinggap di kepalanya. Harapan bahwa Riyan mengingat segalanya. Meskipun tidak ingat,  hati kecil Vania masih berharap membangun hubungan dari awal lagi.


"Sudah ku duga! Arfen dan Shiren hanya bercanda. Aku bisa menduganya, dulu kau dan aku itu dekat,  kan? Tapi kedekatan kita itu karna kau yang memaksa. Karna aku iba padamu,  makanya aku tetap di dekat mu. Masuk akal! Mana mungkin, aku benar-benar menyukai gadis bodoh seperti mu. Kau bukan tipe ku. Tipe ku adalah gadis elegan yang cerdas,  seda--"  Sahut Riyan enteng. Entah kenapa mulutnya tega sekali mengatakan hal yang semenyakitkan itu.


"Cukup!!! Cukup!!! Hentikan Riyan Adijaya!! Hentikan,  hiks...  Hentikan. Jangan katakan apapun lagi. Hentikan! Kau terlalu banyak bicara! " Potong Vania. Dia menatap kasar Riyan,  matanya ingin sekali mengeluarkan air mata. Namun Vania mencoba menahan bulir hangat itu. Ia tak ingin di anggap lemah,  apalagi di remehkan.


Tapi. Gadis seusianya tidak bisa menahan keperihan itu, akhirnya Vania benar-benar menangis di hadapan Riyan.


Riyan terkesiap kaget. Ada satu titik di hatinya yang merasakan sesak,  dan perih yang bersamaan. Menatap gadis yang pipinya merona awalnya ,  menjadi banjir dengan air mata. Entah rasa apa itu, kasihan? Atau perasaan bersalah? Riyan juga tidak pasti.


"Iyah! Aku emang bodoh! Aku emang payah! Gak cantik! Berisik! Gak elegan. Puas?!!! Jadi jangan bandingkan aku sama orang elegan! " Teriak Vania,  suaranya menggema di dalam ruangan itu. Teriakan sehebat itu,  di barengi oleh air mata yang jatuh dengan hebat juga.


Riyan diam, Vania juga diam. Hanya ada suara isakan tangis di ruangan yang hening itu. Riyan sendiri tak kuasa untuk mengatakan apapun. Dia takut, perkataan nya yang berikutnya membuat Vania lebih sedih lagi nanti.


"Eh-eh Van? Lo kenapa nangis gitu? " Suara seseorang yang baru saja membuka Pintu. Vania kenal suara gadis itu.


"Kak Raisa? " Gumam Vania. Dia langsung berlari secepat mungkin dari sana. Ingin Riyan menghentikannya, namun kondisi tubuhnya tidak mendukung.


***


Vania membuka pintu itu, pintu yang selalu dia rindukan kehangatannya. Yah, saat ini Vania berada di rumahnya. Rumahnya sendiri, yang di wariskan oleh kedua orang tuanya.


Selama Vania tinggal di rumah keluarga Adijaya. Rumah ini selalu kosong, hanya ada beberapa tukang bersih-bersih rumah yang datang lalu pulang setelah selesai.


Rumah di mana dia bisa selalu tersenyum, yah tapi itu dulu. Kini semuanya hanya bisa menjadi cerita manis saja.


Vania melangkah lesu menuju kamarnya. Nuansa dan bayangan-bayangan keluarga kecil yang hangat terus terlihat seiring dia berjalan ke kamarnya.


Vania hanya gadis berusia tujuh belas tahun. Kenapa dia harus mengalami semua ini? Dia jadi anak yatim piatu, dia juga kehilangan kakeknya. Satu-satunya keluarga yang dia punya. Dan, Vania juga bernasib tragis akan cinta. Sungguh, siapapun saat ini. Tidak akan ada yang mengerti perasaan dia.


Kata-kata Riyan yang tanpa hati itu seolah terus bergema di telinga Vania. Bergema mengulang seakan mengejek harapan gadis mungil itu yang telah pupus. Harapannya hancur sehancur-hancurnya.


Ingin marah pada siapa? Aku gak berhak. Ingin curhat ke siapa? Aku gak punya siapa-siapa. Me and my self, only me, yes just me.


"Apa gunanya harta tanpa ada seseorang yang bersama ku untuk menikmatinya? " gumam Vania, dia membuka pintu kamar orang tuanya.


Vania menatap foto lima orang yang tergantung, sedikit mencolok dari dinding yang berwarna putih itu. Vania bisa melihat, dirinya dalam gendongan ibunya, ayahnya yang juga berdiri di sana. Ada Kakek dan nenek yang tersenyum hangat.


Seolah foto itu mampu menyapu sedikit badai bergejolak du hati Vania.


"Indahnya keluarga Keyland, tapi kenapa semuanya harus berakhir tragis? Kenapa kecelakaan itu ada? Kalau aja kecelakaan itu gak ada, papah dan mamah masih di sini, dan aku juga gak bakal ketemu Riyan Adijaya. "


***


Ctak! Ctak! Tak!


Tampak jari-jari cekatan dalam mengetik tombol-tombol keyboard.


"Jadi bener, Vania Keyland itu adalah putri tunggal keluarga Keyland? Keluarga Keyland, dimana suami istri itu meninggal karna ulah papah. " gumam seseorang di depan layar laptopnya. Sambil sesekali meminum kopi di sebelahnya.


Ruangannya gelap, hanya cahaya laptop yang menyinari ruangan itu. Tampak wajah Vania berseragam terpampang jelas di laptop itu, dengan beberapa data-data personal di sebelah fotonya.


"Tapi, di sini di katakan bahwa tuan dan nyonya Keyland meninggal karna kecelakaan biasa. Tidak ada yang mencurigakan? "


"Hmmm, ini pasti ulah tidak bertanggung jawab papah. Dia pasti menutup mulut orang-orang bersangkutan dengan kekuasaan dan uangnya. Cih! Menggelikan! "


"Padahal sudah jelas-jelas, kecelakaan malam itu, semuanya karna ulah papah. Ulah papah yang menyetir mabuk-mabukan, mengakibatkan kecelakaan hebat. "


Pria di balik kursi itu terus menggumam sembari membolak balikkan data-data Vania yang bisa di lihatnya.


"Kasihan sekali, dia jadi hanya tinggal seorang diri. Papah benar-benar eanggak punya perasaan. Andai waktu itu pak tua itu gak mabuk, mungkin kecelakaan ini gak bakal terjadi. "


***


"Kaluar!!! " Bentak Riyan kasar pada Raisa. Padahal Raisa sendiri tidak melakukan apapun kan?


"Kenapa Yan? Kenapa Vania nangis? Lo buat apa sama dia? Lo bentak dia? Lo kasar sama dia? " tanya Raisa beruntun.


"Diam! Keluar! Raisa keluar aku bilang!!!! "


Raisa terdiam, gadis elegan itu memilih untuk keluar dari ruangan itu.


***


Maaf yah aku gak up dua hari kemarin. Sudah ku bilang, aku tertimpa tugas awokwok.


Makasih buat yaang ngsihh aku semangat di komenan. Aku baca juga lohhh^^ Makasih kak^^