
***
"Kak Thifa? Kok malah kakak yang jempur Vania ke sekolah? Emang pak Riyan Kenapa? " Tanya Vania polos.
Saat ini dirinya dan Thifa tengah ada di dalam mobil yang Thifa kendarai.
"Riyan kecelakaan masuk rumah sakit. Nah ini kita mau ke sana. " sahut Thifa biasa.
"Hah?! Apa kak?! Kecelakaan?! Terus keadaan om Riyan sekarang gimana? Dia baik-baik aja kan kak?! Lukanya parah gak kak?! " pertanyaan beruntun itu keluar begitu saja mengikuti perasaan Vania.
"Shhhtttr, tenang dulu Van. Riyan gak papa kok, dia baik-baik aja. Kamu gak usah khawatir. Biar lebih pasti, kamu liat sendiri deh ntar di rumah sakit. "
Vania diam sebentar. Jantungnya saja hampir copot karna berita ini. Dia masih mencoba menenangkan dirinya. Kabar ini terlalu mengagetkan dan agak mendadak. Dia belum mempersiapkan mentalnya.
Syukurlah om galak bin Nyinyir baik-baik aja. Alhamdulillah kecelakaannya gak parah.
Itulah kalimat syukur yang saat ini bisa menghibur Vania. Dan membantu menenangkan batin dan jiwanya.
Wajar saja, itu adalah Vania. Vania yang hanya sebatang kara di dunia ini. Dahulu, kecelakaan juga yang merenggut nyawa kedua orang tercintanya. Kedua orang tuanya sekaligus. Dan, terakhir adalah kakek kesayangannya. Wajar sekali jika dia sedikit parno, kan?
"Udah tenang aja, kakak baru dapat kabar dari Arfen. Riyan baik-baik aja. Dia bahkan udah sadar sekarang. Makanya kita ke rumah sakit, ok. "
"Alhamdulillah kalo pak Riyan udah sadar. Tapi kak, aku gak mau ke rumah sakit. Aku mau di rumah aja. Maafin aku kak. Aku punya alasan. "
Thifa agak terkejut dengan pernyataan Vania kali ini. Tidak ingin ke rumag sakit? Tidak ingin melihat Riyan? Bukan kah dia begitu khawatir? Begitulah pertanyaan yang bisa mewakili ekspresi wajah Thifa saat ini.
Dia punya alasan katanya, biarin aja. Kakak gak bakal maksain kamu kok Thif. Pasti berat jadi kamu, di lupain oleh orang tercinta. Kakak gak akan pernah kebayang gimana rasanya, uhhhh jangan sampai Arfen Ngelupainnnn Thifaaaaa
Batin Thifa, dia menghela napasnya berat.
"ya udah, kita putar balik ke rumah aja. Yakin kan gak mau ikutan ke rumah sakit? " tanya Thifa memastikan.
"Iyah kak gak usah, aku di rumah aja. Lagian kan om Riyan udah baik-baik aja. "
***
"Vania itu, vania--" Raisa mulai gagu, dia sesekali melirik Arfen. Raisa sebenarnya juga bingung harus menjawab apa. Arfeb juga hanya bisa mengedikkan bahunya.
"Hah? Kak Vania itu kan pacar kak Riyan?! Iya gak sih?! " Ceplos Shiren begitu saja. Mulutnya dan kakak laki-lakinya memang sebelas dua belas kan?
Sesaat setelahnya Shiren menutup mulutnya, menyadari karna bibir mungilnya itu sudah mendatangkan satu masalah yang tidak lagi bisa di anggap remeh.
"Ha?! Apa?! Pacar? Shiren kau jangan bercanda. Mana mungkin aku bisa menyukai apalagi berpacaran dengan gadis se rese dia! Dia itu berisik, tidak ada anggun-anggunnya. " tolak paksa Riyan. Kepalanya mulai terasa agak sakit. Namun Riyan masih berusaha menahannya.
"Nah iya Yan, si Shiren itu kalo ngomong gak di pikir dulu. Gak usah di dengerin. Ngaco nih anak. " sahut Raisa cepat. Dia sudah mulai agak ragu. Bahkan Raisa tidak memilih kata-kata yang bagus. Raisa berharap sekali Riyan percaya pada kata-katanya.
Kenapa di sembunyiin kalau bisa di bongkar. Gue rasa sekarang memang waktunya. Kasihan juga liat Vania lama-lama.
Batin Arfen, dia melihat kondisi Riyan baik-baik saja.
"Iyah Yan. Lo dulu abis patah hati sama Raisa, lo kenal tuh bocah Vania namanya. Dulu tuh dia masih SMP kelas tiga masa kita SMA kelas tiga. Lama kelamaan ko suka sama dia. Tapi gua gak pasti, kalian jadian atau enggak. " celetuk Arfen enteng, menatao santai ke arah Riyan yang sudah memegangi kepalanya.
Sakit di kepala Riyan semakin hebat, rasanya benar-benar seperti di tusuk jutaan jarum kecil sekaligus.
"Arfen! Apa sih yang lo omongin! Gila lo! Jangan percaya sama kata-kata Arfen yan, dia cuma iseng doang. Lo tau kan Arfen sama Shiren. Ada gendeng-gendengnya. Dia cuman bercanda doang. " Raisa semakin khawatir. Apalagi dia melihat Riyan seakan menahan rasa sakit yang sangat hebat.
Arfen setelah melihat keadaan Riyan yang begitu memilukan hati. Riyan benar-benar merasakan kesakitan hebat di kepalanya. Dan Arfen, benar-benar merasa bersalah karna menjelaskannya.
"Keluar!!! Aku bilang kalian semua keluar!! Jangan ada di sini!!! " Teriak Riyan kasar.
Arfen, Raisa, dan Shiren hanya bisa mengikuti perimintaan sederhana Riyan saja. Mereka keluar dari ruangan itu.
***
"Apa sih yang lo pikirin fen? Waktu lo ngejelasin semua itu? Lo gak khawatir apa, kalau sesuatu kejadian sama Riyan?! " sarkas Raisa. Dia memang benar-benar khawatir saat ini.
"Sorry. Iya kali ini gue yang salah. Gue akuin itu. Harusnya gue gak jelasin. " Arfen menatap lurus Raisa. Kali ini Arfen sadar, perbuatan nya salah, mungkin?
"Maafin Shiren kak. Ini semua berawal dari mulut Shiren yang gak ada remnya. " Shiren menunduk sedih.
"yang penting jangan di ulangi, masalahnya. Apa Riyan ingat Vania enggak yah? "
***
Vania melambaikan tangannya pada Thifa yang sudah berjalan pulang. Vania berbalik, tampak tembok rumahnya agak retak. Menurut cerita Thifa, Vania yakin. Ini adalah lokasinya. Lokasi Riyan kecelakaan.
Vania menarik napasnya panjang. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Tak dapat di pungkiri saat ini dia memang sangat mengkhawatirkan Riyan. Namun, Vania sama sekali tak berniat menjenguknya.
Semoga om galak baik-baik aja.
Vania kembali melangkahkan kakinya masuk.
Vania melempar tasnya di atas kasur. Dia langsung berjalan menuju balkon rumah orang itu.
Bukannya aku gak punya hati karna gak mau jenguk. Cuman, aku takut sesuatu hal yang gak terduga terjadi.
Sejak awal emang aku harus pergi, memaksa seseorang untuk mengingat kembali aku, itu adalah sebuah kesalahan. Dia akan ingat, jika dia ingin.
Sungguh! Berapa lama lagi untuk ku tamat sekolah. Aku benar-benar ingin pergi jauh dari sini. Bahkan jika bisa, menyusul papah dan mamah lebih baik~
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mungil gadis itu. Vania bisa merasakan, panas sekaligus sejuk yang datang menerpanya secara bersamaan.
***
Hai hai haiii^^
Ketemu lagi sama Author yang punya hidung minimalis awokwok
Nah, Author mau nanya nih. Kita butuh Visual cast gak?
Kalo butuh. Kita bakal up, tapi author masih nyaru fotonya wkwk. Kalo ada saran jadi siapa2 komen aja yah~
Nah jangan lupa untuk selalu like, komen, dan Vote yah. Berikan Komenan yang membangun^^
Pai pai
Btw, hari ini up lagi? >\<