Riyan & Vania

Riyan & Vania
10. Waktunya Arka



***


"Aelah,  gue kan perhatian sama lo. By the way, entar sore lo lihatin gue latih tanding yah sama sekolah sebelah. "


Tanpa mereka berdua sadari. Ada satu orang di belakang mereka yang dadanya terasa nyut nyutan. Tampak Riyan tengah mengepalkan tangannya erat. Hawa panas menjalas di seluruh tubuhnya. Badannya seakan bergerak sendiri ingin menghantam manis satu manusia yang tengah mengobrol ringan dengan gadis mungil itu.


"Ga tau deh San. Liat entar sore aja. " sahut Vania datar. Wajar,  moodnya masih kacau karna satu mobil dengan pria itu,  pria yang nama dan kenangannya masih tersimpan hangat di hati Vania.


"Hey Bocah!!! Beraninya kalian berpacaran di sekolah. Kalian pikir ini tempat apa?! " Riyan datang dengan tergesa. Memisahkan jarak antara kedua orang itu. Hingga Riyan terlihat seolah orang ketiga yang memisahkan Sandy dan Vania.


"Irinya jomblo itu mengerikan. " Sindir Sandy enteng.


"Gak pacaran kok pak,  ada apa? Kenapa marah-malah? " Vania menatap enggan ke arah Riyan.


"Kembali ke kelas saya bilang! "


Sandy menarik tangan Vania,  berjalan segera meninggalkan Riyan yang tengah hatinya berkecamuk.


***


Vania POV


Bel sudah berbunyi , kami memasuki mata pelajaran ke empat.  Dan ini adalah pelajaran MTK di mana Riyan mengajar. Jangan minta aku memanggilnya pak,  sungguh aku tak mau.


"Dis,  lo duduk di sebelah Arka gih. Gue hari ini mau menyimak pelajaran. Kalau duduk dekat Arka gak akan bisa. " Tiba-tiba,  dia Sandy si cowok lambe turah datang ke depan meja ku. Mengatakan hal yang biasanya tak pernah ku dengar.


Apa kata anak ini? Belajar?! Aku jamin ini adalah satu muslihatnya.


"Nah iya,  lu ke belakang deh Dis,  gue mau lihat PR MTK juga. Sekalian. " tambah Arka enteng.


"Perasaan ku ga enak nih. Gak! Jangan begitu deh Van,  perasaan ku ga enak. Mending aku yang duduk sama Sandy. Kamu sama Arka. Aku yakin,  Sandy ada niat lain. " Usul Disha. Entah kenapa instingnya berbicara begitu.


"Terserah,  gue sih oh aja. Ya udah, Van sini duduk sebelah gue. Sekalin nyontek gue. " tambah Arka mengangkat tas ku dan memindahkannya di sebelahnya.


"Mana bisa gitu woi! Harusnya kan gue duduk di sebelah Vania. Lakik duduknya selalu dekat binik! " protes Sandy. Ucapan yang keluar dari mulutnya memang tidak ada yang pernah beres.


Dengan wajag kesal dan perasaan terpaksa, Sandy duduk di sebelah Disha.


Aku hanya bisa mengikuti alur, duduk di sebelah pria yang sulit di tebak kepribadiannya ini. Kadang dia ramah,  kadang usil,  kadang seperti iblis saat sedang berkelahi membabi buta. Dan kadang bisa lebih dingin dari es.


Sungguh,  duduk di sebelah Arka saja hawanya sudah begitu berbeda.


Ting!


Sepertinya aku mendapatkan notif di HP ku.


"Maaf Van,  aku sengaja suruh kamu duduk sama Arka. Soalnya aku masih ga berani. Wkwk :v"


Satu pesan itu muncul dari HP ku dan pengirimnya adalah,  Disha sahabat ku. Dia menumbalkan ku.


Wajar,  sejak perkelahian terarah satu bulan lalu. Mengakibatkan Chandra anak kelas sebelah harus di rawat di rumah sakit selama berminggu - minggu,  dan pelaku utamanya adalah manusia yang tengah asyik menyalin PR MTK di sebelah ku.


"Ga usah takut gitu Van,  gue gak nyakitin cewek. " bisik Arka seakan tau isi dalam otak ku.


Aku menoleh ke kanan,  menatap Arka datar.


"Sorry,  aku lebih takut air masuk dalam telinga ku. Sungguh, rasanya itu ga enak. " sahut ku datar.


Satu langkah kaki membuat satu kelas hening. Semuanya yang mengobrol mendadak diam,  saat pria itu masuk. Yah,  dia Riyan Adijaya. Wali kelas kami saat ini.


Tunggu! Kenapa mereka semua mendadak diam? Mereka takut pada Riyan? Manusia yang berbicara hanyalah sepasang insan di depan ku. Sandy dan Disha,  samar-samar aku mendengar kata 'Shoyo' terselip di pembicaraan mereka. Ku yakin mereka sedang membahas Haikyuu.


"Aneh? Kenapa orang-orang ini mendadak diam? Suasana juga serasa berat, kan Van? " tiba-tiba bisikan itu terdengar berat di telinga ku. Itulah Arka. Wajar dia menyadarinya.


Study Wisata? Bercanda?!


"Satu sekolah pak? Apa perwakilan aja? " tanya Disha santai.


"Hanya spesial untuk kelas kita. Saya sudah meminta izin pada kepala sekolah. "


"Berapa lama pak? Kalau sehari gak mantap. "


"Empat hari. "


Hanya Disha yang bertanya. Aku benar-benar heran. Kenapa para murid yang lainnya diam. Wajah mereka tegang ketakutan.


"Hey kalian! Siapa yang izinkan kalian berpindah tempat! " Tanpa aku sadari ternyata sudah ada Riyan yang menatap ku sinis. Tentu menatap Arka di sebelah ku lebih sinis lagi.


"Apa mau pintar butuh izin pak? " sahut Arka enteng. Aku benar-benar salut akan keberaniannya.


"Maaf pak, bukan maksud gak sopan. Cuman, Aku duduk di sebelah Arka mau bantuin di belajar. " tentu saja aku ikut membantu Arka, daripada aku yang kena batunya.


***


Author POV


Urat-urat kekesalan sudah muncul dari kening Riyan. Entah kenapa hatinya berkecamuk panas panas melihat itu. Namun, Riyan juga tak bisa melakukan apa-apa.


"Terserah kalian. Aku tak peduli. " Riyan membalikkan badannya, menuliskan materi di papan.


***


Bel istirahat kedua sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Riyan sudah siap beranjak dari kursinya. Tampak wajah para murid baru mulai tenang, tidak setegang sebelumnya.


Riyan menatap tajam ke arah Vania.


"Vania Keyland, ikuti aku. " Titah Riyan dengan suara beratnya.


Vania tersentak halus, sudah jelas. Dari suaranya saja firasat Vania sudah tak enak.


Habis nih aku. Kena lagi kan.


Batin gadis mungil itu, berjalan gontai mendekati Riyan yang sudah berdiri.


Tiba-tiba Arka juga ikut berdiri, dan berjalan di sebelah Vania.


"Saya tidak meminta kamu untuk ikut. " sindir Riyan.


"Sebagai teman semeja yang baik dan bertanggung jawab, saya yah ikut lah pak. Kali aja bapak mau marah-marahin Vania, kan bisa saya gantiin. " sahut Arka enteng.


"Woi Ka! Rese lu! Masa lu ambil jatah gue. Harusnya kam gue yang jadi keren di depan Vania. Gue kan calon suaminya. " sambung Sandy ke pedean.


"Oh ya udah, sana temenin Vania. Jagain dia. Awas aja kalau sampai dia di hukum. " Arka menghentikan langkahnya.


Sandy diam sebentar.


"Oh lo aja deh yang nemenin vania. Gue ada rapat clun Volley. Baru ingat hehe. "


Sudah Vania duga. Sandy mana mungkin berani melawan Riyan. Wajar, wajah Riyan sangat menyeramkan.


"Kuy Van, sama gue. Gue temenin deh. "


***


Note : maapkeun aku yang jarang post hiks.