Riyan & Vania

Riyan & Vania
13. Di mobil?



***


Vania sudah duduk manis di mobil milik Riyan,  hanya tinggal menunggu Riyan datang dan menyetir lalu pulang.


Vania menyandarkan tubuhnya di kursi mobil itu. Angin dari kipas mini itu menerba wajahnya, mengahdirkan rasa kantuk yang selalu mengganggunya saat materi sejarah tadi.


Tanpa Vania sadari, dia sudah tertidur di mobilnya Riyan.


***


Mobil Riyan dan Vania sudah keluar dari Gerbang sekolah,  mengikuti lalu lalang mobil lainnya di jalan lintas. Satu tangan Riyan yang tidak di gunakan untuk menyetir,  ia manfaatkan untuk menyapu lembut wajah Vania. Riyan bahkan sesekali menggeser anak rambut Vania yang berteebangan.


"Ehmmmm... "  Vania mengerang lembut. Sontak Riyan menarik tangannya dari wajah mulus Vania. Ada yang aneh,  Riyan tersadar akan satu hal.


Kenapa? Kenapa aku? Aku arghhh sial!!!


Hanya batin Riyan yang mampu mengumpat.


Aku,  aku kecelakaan setahun setelah aku berada di Jerman. Hanya ini informasi yang ku tau, sisanya aku tak mengetahui apapun lagi. Dan,  kenapa dengan gadis ini?!! Bukan gadis ini yang menarik. Hanya Raisa, Raisa! Ayolah Riyan kenapa kau malah penasaran dengan gadis rese ini!!


Riyan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan sebentar. Memijat kepalanya frustasi. Semakin di pikirkan ini semakin sulit.


Setelah merasa agak tenang,  Riyan kembali melanjutkan perjalanannya.


"Hmmmmm" Vania mengerjapkan matanya beberapa kali. Guna memperjelas pandangannya,  dan juga merefleks apaa yang terjadi saat ini.


Vania sadar, dia ada di dalam mobil Riyan,  dan bersama dengan Riyan.


"Cuci wajah mu itu. Sungguh,  kau semakin jelek saja sehabis bangun tidur. " Belum ada lima menit sejak Vania bangun. Dia harus di suguhkan dengan nyinyiran pedas ala Riyan.


Jelek katanya? Terserah lah. Memang dia makhluk yang paling tampan gitu? . Setidaknya aku masih punya wajah dan hidung,  walau hidungku minimalis.  Aku tetap bersyukur.


Batin Vania,  dia baru bangun tidur. Malas sekali rasanya untuk berbicara,  apalagi berdebat dengan lawan yang tidak normal dan tak manusiawi.  Jadi Vania memilih untuk bungkam.


Namun,  aneh sekali rasanya. Saat Riyan mengatakan Vania jelek,  namun Riyan sendiri tak menatap Vania. Tanpa Vania sadari, mungkin karna masih terpengaruh rasa kantuk,  wajah Riyan sedikit merona,  mungkinkah? Tidak mungkin! Mana mungkin Riyan bisa tersapu hanya karna sosok Vania.


***


"Eh,  Kenapa kita berhenti di sini? Kita mau ngapain pak? " tanya Vania saat dirinya sadar bukannya kembali ke rumah. Riyan malah mengajak Vania ke sebuah Restoran mewah.


"Mau ganti ban. " sahut Riyan enteng,  mematikan mesin mobilnya.


"Emang ban kita bocor yah pak? Tapi pak,  di sini itu kawasan Restaurant, gak ada bengkel, atau tukang tambal ban pak. Bapak salah tempat kali. Puter balik aja pak, " saran Vania polos,  dan jujur dari hatinya yang paling dalam.


"Bukan mau nempel ban. Mau nempel kepala kamu tuh bocor alus. " jawab Riyan ketus, dia membuka mobilnya.


Urat-urat kekesalan sudah muncul dari kening Vania. Tentu dia kesal, bagaimana tidak? Dia hanya memberi tahu fakta bahwa ini memang kawasan Restaurant, kan? Kenapa Riyan sampai marah.


"Hey! Turun, kamu mau makan gak sih? "


Makan? Oh jadi om galak ngajak aku ke sini untuk makan toh? Lah, kenapa ga bilang dari tadi coba.


Batin Vania, gadis mungil dengan senyuman hangatnya itu turun dari mobil. Mengikuti langkah jenjang Riyan.


Batin Vania, langkah pendeknya mencoba mengikuti arah kemana Riyan pergi.


***


Terangnya matahari telah berganti dengan anggunnya sang bulan. Putih dengan cahayanya yang seadanya, namun mampu memberikan kehangatan di malam yang dingin.


Vania menikmati semilir angin yang menyapanya dari balkon kamarnya. Angin sepoi-sepoi, di temani dengan coffe yang hangat. Membantu Vania menenangkan pikirannya, menyelesaikan tugas MTK yang di berikan Riyan pada kelasnya.


Tinggal dua soal lagi. Dan otak ku tak mampu mengerjakannya lagi. Beuh! Baiklah, cara terakhir adalah brenleyyy, aku datangggg.


Vania bangkit berdiri, mengambil laptopnya. Ia mulai mencari jawaban dari dua soal tersisa. Biasanya, paling bagus itu ada di brenleyyy.


Nah iya, ini soalnya sama! Wah ada! Tapi, kenapa langsung jawabannya? Jalannya di mana? Mana mungkin aku jawab MTK tanpa jalan. Ya kali terbang, hiksss... Arghhh


"Itulah kenapa kalau guru mu menjelaskan di depan, kau harus mendengarkannya. Ini lah akibatnya. " tiba-tiba suara itu lebih mengacaukan konsentrasi Vania. Vania menoleh ke asal suara.


"Pak Riyan?! Ngapain ke sini? Ngapain ke kamar aku? Bapak kok bisa masuk ke kamar aku?! " Kaget gadis mungil itu. Gadis polos mana yang tak kaget saat ada pria asing yang masuk dalam kamarnya.


"Karna kamar kamu gak di kunci. Aku cuma mau sampaikan pesan dari papah dan mamah. Mereka ada urusan di Singapura selama seminggu. Dan, aku di minta liat keadaan kamu. " begitulah penjelasan singkat yang mampu Riyan berikan.


Vania diam sebentar, ia masih melongo. Sabar, otaknya masih proses bekerja.


"Jangan ke ge-eran kamu. Kamu pikir aku juga mau masuk ke kamar kamu ini? Sudah berantakan, kucel, tatanannya tidak rapi. Tidak ada unsur estetiknya. Kau itu seorang gadis, bagaimana mungkin kamar mu se kacau ini? " sindir Riyan panjang lebar. Entah apa yang terjadi, sejak pulang sekolah, Riyan jadi sering ngobrol dengan Vania.


"Mana sempat keburu telat~" sahut Vania enteng. "Kalau gak ada hal penting lainnya, silahkan bapak bisa keluar. Pintu kamar saya masih ke buka. "


Tch! Sial! Gadis ini!


"Mengusir ku dari kamar mu? Agar kau bisa puas menyalin tugas itu? Huh! Trik mu murahan! " bukannya pergi, Riyan malah mencari bahan sindiran lagi untuk menghina Vania.


"Emang trik bapak mahalan yak? " Vania menutup laptopnya. Menatap jengah ke arah Riyan.


Orang tua ini, selain galak mulutnya itu terlalu berbakat nyindirin orang. Om galak bin nyinyir! Fiks, nama baru buat dia!


Vania menyipitkan matanya menatap datar Riyan yang masih berdiri di sana.


"Oh, sepertinya kau tidak memanfaatkan wifi rumah ini dengan baik? Kan? " Riyan berjalan, duduk di kursi sebrang meja bundar Vania.


"Pak? Serah deh bapak mau nyinyirin aku apa. Tapi, bapak ngapain duduk di sini? Bukannya kamar saya ini kacau, jelek, kucel, enggak eatetik?"


"seluruh rumah ini milik ku, sudut manapun di rumah ini milik ku, jadi mau kemanapun aku itu terserah ku aku bebas, karna aku pemilik rumah ini. Kau sa--"


"Iya aku tau aku emang cuman numpang di rumah ini, tapi bukan berarti bapak bisa keluar masuk kamar aku! "


***


Hwaaa, Komennya menurun jauh banget yah :v


Btw, sankyuu yang udah kasih aku like, komen, dan Vote^^


Selalu komen dan voteyah^^ aku usahain bakal sering up kok^^