
***
Riyan menyalam kedua tangan milik orang berjasa itu. Di ikuti Vania di belakang Riyan. Namun, ada yang aneh dari tingkah lakunya. Riyan berjalan cepat.
"Heh Riyan, ka--"
"Sabar pah, Riyan mau dinginin kepala dulu. " Dia melanjutkan jalannya.
Vania dan Airin hanya bisa diam, ini cukup aneh dan membingungkan.
"Udah nak. Vania ayo masuk. Tante udah buat banyak makanan spesial malam ini. "
"Iyaa tante. "
"Wah, Makasih loh Vania. Mau dandan cantik-cantik cuma karna mau datang ke sini. Tante terharu. "
"E-eh ga gitu Tante. Ya kan emang ini---"
"Udah udah ga usah di jelasin. Ayo ayo masuk. Senengnya Tante liat yang imut-imut gini. "
***
Riyan menggelengkan kepalanya pelan. Menatap wajahnya di depan cermin. Sungguh! Apa ini? Wajah Riyan merah.
Sial!!!! Kenapa jadi gini? Sabar Riyan sabar. Vania masih SMA. Terlalu dini untuk kau ajak nikah.
Riyan sekali lagi membasuh wajahnya. Dia merapikan paiakannya.
Huh~
***
Di meja makan sudah berkumpul sepasang suami istri, dan tentu Vania mungil juga di sana.
Mamah Riyan menyambut hangat Vania. Dia dengan lembut menghidangkan makanannya, sambil bercerita bagaimana proses ia memasak ini semua.
Vania hanya bisa membalasnya dengan senyum hangat yang ia punya.
"Ayo di makan nak. " tawar Agung ramah. Vania mengangguk gagu, tak pudar senyum selalu ia tampilkan.
"Riyan duduk di sini. " Tutur Airin pada putra semata wayangnya. Ibu setengah usia itu menunjuk kursi tepat di sebelah Vania.
"Iyah mah. " sahut Riyan santai. Sebelum ia benar-benar duduk, sesekali Riyan melayangkan tatapan aneh pada Vania. Membuat yang di tatap tidak nyaman.
Tanpa mamah minta juga Riyan bakal duduk di sini.
Lanjutnya dalam hati.
"Jadi di makan malam ini. Ada yang papah sama mamah mau omongin. " Tutur Agung. Kelihatan serius.
Vania juga mendadak tegang. Wajar aja sih. Emang suasananya.
"Apa pah? "
"Jadi mamah sama papah udah putuskan buat Ngadain pertunangan kalian. Kami jodohin kalian Tanpa penolakan. " lanjut Airin enteng.
"Uhuk!!! "
Vania tersedak parah. Untungnya ada Riyan yang sigap langsung memberinya minum.
"Apa Tante? Di jodohin? Gak salah?! " ulang gadis mungil itu. Jaga-jaga kalau pendengaran nya bermasalah.
"Eng-gak. Kita emang mau jodohin kalian. Karna, Om sama Tante juga udah anggap Vania kaya anak sendiri. Jadi bagus-bagus aja dong kalo di jadiin mantu. " sahut Agung enteng.
Vania diam sebentar. Ia menelan salivanya payah.
"Riyan menurut kamu gimana? "
Mana mungkin om galak mau tunangan sama aku. Ya kali dia se--
Cicit Vania dalam hati.
"Oke, Riyan setuju. " sahutnya Tegas.
Jantung Vania mendadak berdebar kencang. Bukan karna dia habis lari. Hanya saja, jawaban orang di sebelahnya ini jauh dari ekspetasi.
"Oke sudah di putuskan, tepat setelah Vania lulus sekolah. Kita akan adakan acara pertunangan. " Ujar Airin senang. Itu semua tampak dari mimik wajahnya dan suaranya yang lantang dan bergetar.
Eeh! Tapi kan Vania belum jawab mau atau gak. Ta-tapi, kenapa om galak mau di jodohin sama aku?
Meski senang, Vania juga harus berfikir logis. Di balik ini semua tentu ada siasat yang Riyan pikirkan.
Pucuk di cinta bulan pun tiba. Tunangan aja dulu, nikahnya belakangan.
Tanpa satu orangpun sadari, ada senyuman tipis di wajah pria angkuh ini.
Tunggu-tunggu. Om galak nerima pertunangan ini apa karna dia emang suka aku? Argh! Jangan ge-er Van! Mana mungkin!
"Vania lulus berapa lama lagi? "
"Kira-kira tiga bulan deh tante. "
"Wah bentar lagi. Ya udah, kamu gak perlu khawatirin. Biar tante sama om yang urusin segalanya. Riyan juga fokus ngantor aja. "
Vania mengangguk mengerti. Meski otaknya berputar, yang penting mulutnya senyum aja. Maka dia sudah terlihat baik-baik saja.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Vania juga sudah bersiap untuk pulang. Tentu di antar calon tunangannya kan?
Hanya perlu setengah jam untuk mereka sampai di depan rumah Vania.
"Nih buku, belajar yang rajin. " Ujar Riyan memberikan buku yang sama yang Vania mau pinjam dari Rayden.
"Loh? Kok bapak tau Vania mau buku ini?! "
"Bukan urusan mu, ini udah malam. Jangan telat ke sekolah besok."
"Kadang baik kadang galak. Maunya ini orang apa sih. " gumam Vania pelan, sembari keluar dari mobil mewah itu.
"Mau nya aku itu... Kamu... "
Blush!!!
Vania tidak lagi bisa menyembunyikan wajah meronanya. Perkataan Riyan yang serius atau candaan belaka ini benar-benar berdampak besar bagi seluruh tubuh Vania. Terutama hatinya yang bergetar hebat.
Tanpa ada kata-kata sambungan, Riyan menyalakan mobilnya, meninggalkan Vania dengan segudang pertanyaan di kepalanya.
***
Vania membantingkan tubuh mungilnya di kasur sederhana itu. Tangannya masih setia menggenggam erat buku itu.
Kata-kata Riyan itu terus mengulang di kepala Vania. Di ikuti detakan jantung yang tak beraturan. Tak bisa Vania pungkiri, saat ini hatinya terasa berdebar hebat. Namun, ada rasa yang tidak bisa di jelaskan. Dia bahagia, juga bingung.
Yang tadi itu aku salah denger atau gimana sih? Apa jangan-jangan. pertunangan ini emang pak Riyan inginkan, biar bisa tunangan sama aku? Gitu?
Arghhh!! Aku ga tau lagi!! Dia juga repot-repot cariin aku buku ini. Mana ada perlakukan Guru seistimewa itu sama muridnya!!!
Aku pengen seneng dan berteriak bahagia!! Cuma aku takut kalau ini cuma candaan! Aku takut... Takut sekali.
***
"Siapa Guru baru itu sebenernya? Ada hubungan apa dia sama Vania? Kayaknya mereka deket banget? " Gumam seseorang sembari membolak balikan pulpennya.
Yah, dia adalah Rayden yang tengah berkutat hebat dengan bukunya. Sebagai ketua OSIS yang baik. Mana boleh dia dapat nilai rendah.
"Awalnya sih gue niatnya buat nebus rasa bersalah aja ke Vania. Mana gue tau bahwa ujung-ujungnya gue bakal suka. Heh! Untuk dapetin Vania, saingan terberat yah Arka! Arka kan? "
***
Allo, makasih yah yang masih stay di sini dan tetap ikutin alurnya huwaa makasih banget ^^
Mulai chapter ini kayaknya bakal lebih seru loh.