Riyan & Vania

Riyan & Vania
30. Jangan di paksakan Arka!



***


Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian hari itu. Sekarang,  hampir sudah tidak ada lagi yang menggosipi Riyan ataupun Vania. Sepertinya beban Vania sudah hilang.


Malam ini,  seperti  biasa Vania mengerjakan tugasnya. Hari-harinya di sekolah berjalan biasa saja,  kecuali satu hal. Terkadang, Vania harus di buat geram oleh perilaku Riyan. Video kala itu sama sekali tidak membuat Riyan jera untuk mengganggu Vania di sekolah.


Vania menutup bukunya.


Tring!


Ada satu pesan masuk dari seseorang, dengan nama 'Sandy Stress' di HP Vania.


"Van, lo tau gak apa yang buat gue takut? " begitulah isi pesannya.


"Kalah dalam main volley? Atau kamu cedera, terus gak bisa main volley? "


"Bukan, bukan itu Van. Yang gue takutin. Guenya stay, lonya go away."


"Skip lah San. Bucin, ogah. "


Vania mematikan HPnya. Sungguh, gombalan Sandy itu memang tidak pernah sampai ke hati Vania. Tapi, itu selalu menghibur dan membuat Vania tersenyum.


Sesaat kemudian HP Vania berdering lagi. Vania pikir itu Sandy, tapi kenyataannya itu Riyan. Ada rasa ragu untuk mengangkatnya.


Membuat Vania benar-benar tidak mengangkat Telpon itu. Dia mematikan ponselnya dan tidur.


***


Vania menarik satu gerakan terakhir supaya Dasinya terpasang dengan sempurna. Dia memasukkan HP ke tasnya. Namun, ada hal yang menyita perhatian Vania. 43 kali panggilan tak terjawab, dan itu semua ulah Riyan.


Entah kenapa, padahal hanya hal sesimpel itu, yaitu Riyan menyepam panggilan. Dan itu berhasil menembus tembok baja yang Vania bangun. Hatinya berdebar merdu, pipinya merona, Vania menahan senyum-senyuman yang tak jelas asalnya. Sepertinya Vania akan mengawali paginya ini dengan bahagia.


Namun, selain itu. Masih ada satu pesan masuk lagi.


"Penyebab Kecelakaan orang tua mu adalah dia pria mabuk itu. Dia bahkan lari dari tanggung jawabnya. Jika seandainya pria mabuk malam itu membawa orang tua mu ke rumah sakit lebih cepat. Mungkin, papah mu masih ada sampai sekarang. "


Satu pesan, berisi teks yang cukup panjang. Namun, maknanya lebih panjang lagi. Kaki Vania mendadak lemas saat itu juga. Dia jatuh terduduk di kasurnya.


Pesan itu mengingatkan Vania kembali akan kondisi kritis papah dan mamahnya.


Jadi kecelakaan itu? Di sebabkan orang mabuk? Dan orang itu gak mau bertanggung jawab? Siapa dia!! Dan siapa orang yang udah ngirimin pesan ini??


***


Sejak pagi mood Vania cukup buruk, dan saat jam pelajaran olahraga ini dia harus banyak bergerak. Padahal, saat mood buruk. Hal paling nikmat yang harus di lakukan adalah, diam tanpa mengerjakan apapun, atau lebih baik tidur aja.


Mungkin Keberuntungan ada di pihak Vania. Guru olahraga mereka tidak datang. Dan masalahnya adalah, yang harus menggantikannya adalah Riyan.


Tapi, Riyan sendiri masih belum datang. Memberikan waktu untuk mereka bermain-main.


Perhatian Vania tersita sepenuhnya saat Arka melangkah masuk ke lapangan Volley. Hal itu membuat Vania ingat kembali, bahwa Arka memiliki penyakit yang serius, dan Arka harus minim bergerak. Tapi, kenapa dia malah main?


"Liat mereka main Volley kuy." ajak Disha menarik tangan Vania.


Kedua tim itu bermain dengan serius. Tapi, Vania bisa tau jelas bahwa Arka sendiri mencoba melakukan minim pergerakan. Meskipun begitu, hati Vania merasa tidak tenang. Kegundahannya akan pesan itu, sudah terkikis akan kekhawatiran nya pada Arka yang saat ini bermain Volley.


"Hoy ka, setter emang tugas utamanya ngasih umpan ke spiker. Tapi, bukan berarti kau gak bisa melakukan smash. Perasaan, dari tadi kau bisa aja loh melakukan smash yang bagus. " komen Disha.


Smash? Maksudnya itu gerakan dimana Arka harus lompat dan memukul bola, kan? Apa Arka bisa?


Batin Vania.


"Berisik Dish, kita ada trik. Udah diem aja, masih ada gue yang smash. " Sahut Sandy. Arka hanya diam saja, seolah tuli akan komentar Disha.


Tuli? Sepertinya enggak. Komentar Disha itu malah berputar-putar di Kepala Arka bagai beban.


Enggak! Gue gak boleh nimbulin kecurigaan apapun. Gue harus main sebiasa mungkin. Jangan sampai mereka sadar, gue penyakitan.


Pusat tujuan Arka kali ini adalah melakukan lompatan setinggi mungkin, dan memukul bola seakurat mungkin. Dia sudah mengesampingkan masalah kesehatannya.


Arka menatap bola yang melambung itu. Kali ini tatapanya antara yakin dan pasrah. dua hal itu berpadu di mata Arka. Yakin akan memukul bola, dan pasrah akan kesehatannya.


Mundur sedikit, lari, dengan jarak segini gue bisa mencapai lompatan tertinggi gue.


Arka mulai melompat. Dan dia memukul akurat bola itu.


Buhmmm!!!


Tepat saat bola itu jatuh, Arka juga terjatuh. Namun jatuhnya bukan jatuh biasa, itu terasa sangat sakit, namun Arka menahannya.


"Nice Kill Arka!!!!! Yuhuyyy!!! " Sandy dan beberapa teman lainnya memeluk Arka bahagia.


"Wow! Smashan Arka tadi itu serasa cepat banget yah Van? " gumam Disha takjub.


Pandangan Vania kosong, dia menatap Arka.


Brukhh!!!


Arka terjatuh, pandangan nya buram tak jelas. Arka bisa merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.


Tidak, Arka sudah tidak bisa menahannya lagi. Pria itu jatuh pingsan di lapangan itu.


"Arkaa!!!! " teriak Vania, belari secepatnya menghampiri Arka.


***


Arka, Vania, Disha, dan Sandy sudah berada di dalam mobil Riyan yang langsung menuju rumah sakit.


"Napasnya gak teratur. Keringatnya banyak banget. Arka, lo kenapa? "


"Jika sakit, jangan paksakan untuk berolahraga. Masih ada hari esok untuk main. Kenapa memaksakannya saat dia sakit? Sandy, apa kau yang memaksanya?" Ujar Riyan. Tak dapat di pungkiri, Riyan juga sedikit panik.


Hari ini atau besok? Tetap aja Arka gak bisa main kan? Bahkan, dari hari ke hari, Arka seolah makin lemah. Dan hari ini? Aku harap aku masih bisa liat kamu besok Ka. Sangat berharap!


Batin Vania. Dia hanya bisa menatap sendu ke arah Arka yang tak sadarkan diri.


***