Riyan & Vania

Riyan & Vania
42. RIP Arka Archana



...Author POV...


***


Malam ini adalah jadwal Arka untuk periksa kesehatan di rumah sakit. Awalnya Arka pergi sendiri. Entah Kenapa perasaan nya untuk pulang tidak enak. Akhirnya Arka meminta sopir untuk menjemput nya pulang. Itu lebih baik,  di banding dia naik motor dan melamun.


Di dalam mobil Arka hanya bisa merenungkan segalanya,  sembari memainkan ponsel kesayangan nya. Game saat ini tidak lagi semenyenangkan biasanya.


Arka sesekali juga melihat keluar jendela. Lampu-lampu sederhana menerangi jalan yang gelap.


Ucapan Vania dan Pak Riyan tumpang tindih di kepala gue. Mereka saling mencintai,  dan gak seharusnya gue ganggu mereka kan? . Mulai saat ini,  gue harus belajar ikhlas. Iya, ikhlas...


Tapi....


Sopir itu menyipitkan matanya,  ada kelakuan yang tidak beres dari mobil pribadi di depannya. Seolah sang pengendara nya senang mabuk? Atau mungkin ketiduran?


Mobil yang tak tentu arah itu melaju mendekar ke mobil Arka. Sopir Arka juga sudah gemetar ketakutan,  dia berusaha semampunya untuk menghindari kecelakaan itu.


BRAKKKK!!!!!


Dentuman keras terdengar dari dua mobil yang bertabrakan parah itu.


Samar-samar Arka bisa melihat orang ramai-ramai menghampirinya. Arka juga bisa melihat wajahnya yang sudah bercucuran darah dari pantulan jendela. Arka sudah menduga bahwa dia akan segera tiada. Jangan tanyakan lagi rasa sakit yang dialaminya.


Satu-satunya penyesalan dalam hidup gue yaitu gak ungkapin perasaan gue yang sebenarnya. Kalau gue dapat kesempatan hidup lagi, gue bakal ungkapin perasaan gue. Dan gak bakal ngejaga jarak, karna takut di tolak.


Cinta yah? Persetan sama penolakan atau di terima. Yang terpenting sudah bilang suka. Urusan di tolak,  biar saja...


Batin Arka dalam hati.


***


Entah kenapa,  Arka membuka matanya. Dia cukup terkejut mengetahui dia masih hidup. Arka tau di mana dia sekarang, dia di sebuah ruangan rumah sakit. Samar-samar Arka mendengar seseorang menangis di sebelahnya. Arka sadar, dia Sandy.


"Ka! Arka lo yang kuat yah. Gue... Gue udah hubungin Nyokap bokap lo,  bentar lagi mereka sampe. Lo tenang aja,  lo pasto bakal sembuh. Tenang aja Ar!" Ujar Sandy memberikan semangat pada sahabatnya yang sudah mendekati ajal ini.


"Ud.. ah ga bi.. Sa. Sandy, gu...e cuma mau lo satuin Vania sa...ma pak Riyan. Kar..na Mereka saling menyukai. Jang...an ada yang ganggu hubungan mereka. " tutur Arka terbata di tengah keadaan parahnya.


"Gak gak bisa! Arka lo ga bisa pergi gitu aja! Lo harus liat gue main volley! Arka lo harus buat Vania bahagia!! Gue bakal mundur!! " Sandy berteriak histeris saat dia tidak lagi mendengar nafas sahabatnya.


Orang tua Arka datang dengan terburu. Mereka menerobos pintu rumah sakit begitu saja. Tangis keduanya pecah saat melihat kondisi Arka yang seperti itu. Mereka menggenggam tangan dingin Arka.


"Makasih pah... Mah... Udah hadir dalam hidup Arka. Kalian orang tua ter... baik..." Arka berusaha semampunya mengucapkan itu.


Dokter langsung datang dan mengusir keluar orang-orang yang tidak berkepentingan di ruangan itu.


***


Mamah Arka menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan suaminya. Mata Sandy juga tak bosan mengeluarkan air mata sebanayak itu. Ini kali pertama Sandy bisa menangis sehebat itu. Dia... Dia tidak akan bisa Terim kalau sahabatnya itu tiada kan?


Satuin Vania sama pak Riyan. Karna mereka saling menyukai


Kata-kata Arka yang itu tiba-tiba terlintas di pikiran Sandy. Dia baru saja mengetahui fakta baru.


Bukan gue. Tapi lo yang bakal satuin mereka Ka. Lo tenang aja,  gue juga bakal mundur dari Vania.


***


Satu jam sudah berlalu,  dokter sudah keluar dari ruangan itu. Wajahnya terlihat lesu dan sendu. Orang tua Arka langsung menyerang dokter itu dengan segudang pertanyaan.


"Maafkan kami pak buk, kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa. Tapi,  Allah berkehendak lain. Arka sudah tuada karna kecelakaan. " tutur dokter itu. Pandangannya menunduk,  dia tak kuasa menatap mata orang tua yang baru saja kehilangan anak mereka satu-satunya.


Sandy berlutut lemas. Tatapannya kosong, dia tidak tau harus bagaimana. Air mata itu mengalir begitu saja dari pipinya. Semua orang di sana dapat melihat bagaimana Sandy begitu tidak rela kehilangan Arka.


"Enggak!!! Arka gak boleh mati!!! Pah,  Arka pah... Arka... " Mamah Arka berteriak histeris. Dia benar-benar tidak bisa untuk kehilangan putranya.


***


Di rumahnya, Riyan masih sibuk berkutat dengan laptop kesayangannya. Ini semua demi rapat saham besok.


"Tuan muda, ada yang ingin saya katakan. " seorang pelayan kepercayaan Riyan datang mendekat.


"Tunda itu semua. Kau tidak lihat aku sedang bekerja. " sahut Riyan sambil terus menekan tombol keyboard itu dengan cekatan.


"Maaf Tuan, tapi ini soal murid anda. Arka Archana, anak dari presdir Archana. "


Mendengar nama murid kesayangannya itu Riyan langsung menghentikan jarinya.


"Ada apa dengannya? "


"Maaf Tuan muda. Arka Archaba sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, sekitar dua jam yang lalu. "


Jantung Riyan mendadak berhenti rasanya, dia tidak percaya jika murid yang baru saja mabar bersamanya tadi siang. Malamnya sudah menemui Tuhan.


"Tidak mungkin dia tiada! Dia pasti bisa di selamatkan! Panggil dokter terbaik dari sudut dunia sekalipun! Arka tidak boleh tiada!!! " Riyan mengamuk. Matanya melotot menatap pelayannya.


"Maaf Tuan, tapi Arka sudah tiada. Dia sudah kehilangan nyawanya. "


"Arghhh!!!"


Brakkk!!!


Riyan melemparkan laptop kesayangan nya. Dia tidak peduli lagi soal laptop itu.


Hati pria dingin itu menjadi sesak, ada rasa sakit yang tidak bisa di jelaskan dengan Kata-kata. Tanpa Riyan sadari, dia sudah menjatuhkan bulir hangat itu.


***


Malam itu pukul sepuluh, namun ponsel Vania berbunyi dengan sangat cepat. Seolah dia di telpon berulang kali dengan jangka waktu yang cepat.


Si Sandy rese. Apaan nih anak?


Vania mengangkat telponnya yang ternyata adalah dari Sandy.


"Apa San--? "


"Vania!! Vania! Van... Nia... Arka udah meninggal. Dia kecelakaan. "