
***
Riyan maju ke hadapan Vania, masih dalam posisi berdiri. Riyan mengeluarkan sebuah kotak, yang berisikan cincin.
"Bocah rese, ikut lah pulang bersama ku? Di sini tidak ada penolakan, ataupun penundaan. Satu-satunya yang boleh kau katakan adalah. Kata "iya".
"Memang benar ini pemaksaan, karna aku gak bisa lagi kehilangan bocah rese kebanggaan ku." Riyan menyentuh bagian belakang kepala Vania, dia mendekatkan wajahnya ke wajah mungil gadis itu hingga hidung keduanya bisa bersentuhan.
Jantung Vania berdegub begitu kencang. Entah lah, rasa terkejutnya beriringan dengan kedekatannya pada Riyan.
"Jadi om galak udah ingat semuanya? Semuanya sejak kita pertama bertemu." Vania meyakinkan dirinya bahwa ini bukan lah halusinasi gadis itu belaka.
"Semuanya, tanpa ada yang terlewat. Menikah lah dengan ku Vania Keyland."
Vania diam. Dia tidak menjawab apapun. Jantung nya masih berpacu lebih cepat. Otaknya belum menerima bahwa ini nyata. Ini benar-benar mendadak dan sangat mengejutkan!
"Sudah ku katakan tidak ada penolakan di sini. Kau akan menikah dengan ku."
Entah apa yang merasuki Riyan, dia mengecup bibir ranum gadis mungil itu. Sedangkan Vania hanya bisa mengikuti keinginan Riyan.
"Sejak kapan? Sejak kapan om galak ingat semuanya?"
"Mungkin sebelum pertunangan kita di putuskan. "
Vania diam, dia tidak tau alasan Riyan untuk menyembunyikan fakta itu.
"Kau tidak ingin bertanya kenapa aku menyembunyikan fakta ini?"
Vania menggeleng. "Itu hak om galak. Vania yakin. Om galak punya satu alasan yang kuat."
Chupppp
Riyan mengecup pelan pipi gadis mungil itu. Membuat sang pemilik pipi merona malu.
"Benar, ada alasannya. Jadi Vania, mulai sekarang kau tidak sendiri. Kau bisa berbagi kesedihan mu kepadaku."
***
Keduanya keluar dari rumah sakit dan kembali ke mobil. Sungguh, mungkin beberapa hari lagi Riyan akan mengambil alih Rumah sakit ini. Pasalnya ini adalah tempat pertama kali Riyan bertemu Vania, dan sekaligus saksi bisu lamaran tidak romantisnya itu.
"Kita mau kemana om g--"
"Berhenti manggil om galak. Panggil Riyan aja kalau kita di luar sekolah."
Vania mengerti. Namun itu tentu sulit. Dia berusaha untuk mengatur mulutnya agar tidak keceplosan saat berbicara.
***
Rayden berjalan lunglai ke ruangan pribadi papah nya di rumah. Itu semua karna dia baru saja di panggil. Jika Rayden punya uang, mungkin dia tidak akan satu rumah lagi dengan orang ini meskipun dia adalah papahnya.
"Ada apa pah?" Rayden duduk di kursi depan papahnya.
"Tidak ada. Papa pikir sudah saatnya kamu untuk ikut mengurus kantor bersama."
Rayden menaikkan sebelah alisnya. "Rayden nolak pah. Udah yah. Rayden mau ke kamar. "
"Kau masih marah karna hal itu. Sudah papah bilang, papah tidak sengaja menabrak teman mu itu."
Rayden tidak perduli, dia tetap melanjutkan jalannya.
"Hemm. Jika kau bukan papah kandung ku. Mungkin aku sudah keluar dari rumah ini dan melaporkan mu." Rayden masuk ke dalam kamarnya.
Yah, Darah selalu lebih kental daripada air. Dalam hubungan apapun itu, seburuk apapun orang tua atau anak. Tetap saja, rasa sayang itu akan selalu ada.
***
Riyan mengantar Vania pulang, bahkan sampai mengantarkan gadis itu ke dalam. Jika Vania belum masuk, Riyan tidak akan pulang.
"Vania, siap-siap aja. Gak lama lagi kamu bakal pindah dari sini, dan balik ke rumah ku." Riyan menggumam mantap seraya memutar balikkan mobilnya.
Namun, sadar atau tidak sadar Riyan malah melewati tenpat tragedi kecelakaan Arka beberapa hari yang lalu. Semangat untuk mengungkap semuanya kembali. Lalu, Riyan juga tentu ingin mengulik ulang kasus kecelakaan orang tua Vania.
"Semoga kau tenang di alam sana Arka." Ujar Riyan saar dia meleewati tempat kejadian perkara.
***
Riyan duduk di meja kerjanya. Bukan mengurus kantor, melainkan kasus orang dekatnya. Mungkin dalam sebulan ini Riyan harus beralih profesi dari presdir hebat, ke detektif swasta.
"Tuan muda, ada berita bagus. Pelaku pemabuk yang menabrak Arka itu sudah mengaku, bahwa bukan dirinya pelakunya. Dan dia di bayar untuk ini." Ujar pelayan setia Riyan.
"Finally, sekarang sedikit demi sedikit kita akan menuju titik terang. Apakah ini sebuah konspirasi besar? Aku pasti bisa menguaknya. Dimana orang yang mengaku itu?"
"Di rumah sakit Tuan muda, dia sedang pura-pura sekarat. Dia mengaku juga itu karna hipnotis dari salah satu anggota kita yang bekerja sebagai suster di sana."
"Tidak masalah, kerja mu bagus. Besok kita akan menemuinya. Akan ku paksa dia buka mulut. Persiapkan semuanya."
Asisten itu mengangguk mantap.
"Ah dan yah, coba selidiki ulang kasus kecelakaan orang tua Nona Vania. Dan yah, bawa orang yang waktu itu bertabrakan dengan orang tua Vania."
"Baik tuan muda. Dalam waktu dekat anda akan menerima kabar baiknya."
***
Ini sudah kesekian kalinya Vania uring-uringan di kasurnya. Anak SMA, wajar kalau dia masih puber dan belum dewasa. Setidaknya ini adalah apresiasi nya terhadap kebahagiaannya hari ini.
"Huwaa!! Om galak udah ingat semuanya! Dia tadi ngelamar aku! Meski di rumah sakit juga gak papa!!" Vania berteriak heboh di kamarnya. Wajahnya sudah merah bagai udang rebus.
Kejadiannya sudah lama, namun jantung gadis ini belum normal. Dan sepertinya otaknya juga akan mengikutinya.
Plakkk
"ini beneran kan? Gak mimpi? Ayayaya aku akan mimpi indah malam ini."
***
Sudah pukul sebelas malam, namun Riyan tidak bisa tidur. Dia menatap langit kamarnya. Sembari tersenyum sendiri? Tunggu, apa dia ikutan gila seperti Vania?
Riyan mengingat betapa dekat jaraknya dengan gadis impiannya. Dan tak ada satu orang pun yang tau betapa bahagianya dia saat ini.
Akhirnya ciuman pertama itu bisa jatuh pada orang yang benar-benar Riyan cintai sejak dulu.
"Kenapa dua bulan itu lama sekali? Kapan dia akan lulus, kapan aku akan memeluknya bersama ku di sini."
***