
***
Suara jam terdengar begitu jelas tatkala dua orang insan ini tengah melakukan rapat serius di ruang gelap.
"Tuan muda, sesuai laporan yang ada. Semua, segala bukti telah mengarah pada satu nama. Dan dia adalah--"
"Dion papa Rayden kan? Sudah ku duga dia dalangnya. Dia juga pelaku penabrakan orang tua Vania."
Pria itu, asisten Riyan diam saja.
"Haruskah dia saya seret ke hadapan anda Tuan?"
"Tcih. Tidak usah. Langsung laporkan saja ini ke polisi. Dan yah, aku mau besok beritanya tersebar luas di media manapun. Aku mau setiap channel Televisi mengabarkan hal ini."
***
Hari ini adalah hari minggu yang cerah, di mana Matahari telah naik dengan cahaya kuningnya. Ah apa jadinya Dunia ini tanpa matahari.
Vania yang baru saja mengulet manja merasa tidak asik. Biasanya di minggu pagi begini. Sudah ada satu orang dingin yang heboh menelponnya dan mengajaknya joging. Tapi, kenapa sekarang tak ada?
Vania melihat Notif HPnya. Ah semuanya hanya dari teman-temannya. Tidak ada pesan dari orang itu
Disha : Van, buruan buka Tivi deh. Liat berita. Di mana aja. Terserah, di semua channel ada soalnya.
Satu pesan dari sahabat dekatnya ini membuat rasa kepo gadis muda ini meronta-ronta. Vania menaikkan sebelah alisnya.
Apa? Apa sandy kecelakaan?
Jantung Vania berdegub tak karuan lagi. Mau bagaimama lagi, kehidupannya selalu saja terkait oleh hal-hal itu.
Vania turun ke bawah setengah berlari, membuka televisi tanpa mengatur channel.
Dion Prawira, pengusaha nomor enam di negara ini ternyata terlibat kasus dua kecelakaan. Dirinya yang kala itu tengah mabuk, menabrak sepasang suami istri keluarga Keyland beberapa tahun silam. Dan ya permirsa, Beliau juga adalah penyebab kecelakaan dan meninggalnya putra tunggal keluarga Archana. Menurut laporan, kecelakaan ini terjadi karna Dion Prawira yant mabuk saat mengendarai mobilnya.
begitulah bunyi suara nyaring sang reporter.
Vania terduduk seketika. Ucapan Rayden kala di taman itu terngiang jelas di kepalanya. Dia tidak menyangka bahwa ini benar-benar terjadi.
Vania yang sudah mulai bisa mengikhlaska kepergian orang tuanya dan Arka. Luka itu, yah luka itu harus terbuka lagi karna ulah orang ini.
Riyan datang ke hadapan Vania entah dari mana arahnya. Memeluk tubuh mungil yang gemetar itu.
"Cuma karna dia mabuk-mabukan om. Cuma karna orang gila itu mabuk-mabukan, aku harus kehilangan kedua orang tua ku, dan juga sahabat ku Arka. Cuma gara-gara dia mabuk."
Vania menumpah ruahkan tangisnya di bahu orang itu.
Vania benar-benar bersyukur, di kala dia terpuruk rapuh. Masih ada satu bahu yang bersedia mengangkat beban bersama-sama.
"Aku di sini. Jangan takut." Satu tangan Riyan mengelus lembut kepala gadis mungil itu. Tanpa Riyan sadari ia juga meneteskan air matanya. Ah, terlalu sakit untuk Riyan melihat gadis prioritasnya bersedih.
Tangis Vania semakin menjadi-jadi.
"Kita akan ke penjara sekarang. Menemui iblis tanpa hati itu. Kau siap?"
***
"Seandainya kamu gak mabuk-mabukan kala itu... cuma karna kamu mabuk. karna iblis seperti mu yang mengendarai motor sambil mabuk. aku harus kehilangan satu-satunya putra ku... "
Kaduanya datang ke penjara. Ternyata sudah ada kedua orang tua Arka di sana. Papa Arka hanya bisa menangis, dan mama Arka tengah mengamuk di hadapan iblis tanpa hati itu. Meskipun itu tanpa sengaja tetap saja, itu terjadi karna Dion yang mabuk.
Hati Vania semakin terkoyak melihat peristiwa itu. Seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya. Sungguh! jika Vania bisa dia tak ingin melihat itu.
Perhatian Vania teralih ke pria muda yang tengah duduk meneteskan air mata itu.
"Rayden?"
"Ya Van, gue di sini. Di sini untuk nemenin bokap gue di balik jeruji besi ini."
Dalam beberapa detik waktu seolah berhenti. Satu fakta lagi yang tak bisa Vania maklumi. Ternyata pelaku semua ini adalah papa Rayden?
Suasana di kantor polisi begitu emosional.
"Ini semua karna mu kan ******** sialan!! Karna mu yang mengulik seluruh kasus ini! Jika bukan karna mu! Aku harusnya tidak berada di sini! Ini semua salah mu! Kau! Riyan Adijaya! ******** kurang ajar! Kau lah yang harusnya di sini!!!" Teriak Dion penuh amarah dari balik potongan besi itu.
Mata kedua orang tua Arka langsung menatap Riyan terharu.
"Makasih nak, makasih... Kamu Udah nolongin kami berulang kali. Dan sekarang, kamu bantuin buat nangkap dia." tutur papa Arka dengan suara gemetar.
"Kami udah gak punya anak lagi. Nak... Jadi anak kami ya? Jadi anak kamii... " suara parau itu begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Wanita itu menyentuh pundak Riyan.
Untuk sekejap mata Riyan berbinar. Dia seolah melihat mamanya Arini di dalam tubuh Mama Arka.
Ahh, benar. Posisi orang tua ku dan Arka sama. Kami sama-sama anak tunggal. Mungkin, ini lah yang bakal mama rasain kalau kehilangan aku?
"Iya ma, mulai hari ini aku jadi anak mu."
Riyan tau betul dengan hal itu. Dia tak bisa menolak suara hati seorang ibu.
***
"Makasih... Om udah repot-repot ulik kasus mama dan papa Vania." Vania memeluk orang yang bersiap menjalankan mobilnya itu.
"Apapun untuk mu." Riyan mengecup lembut kening gadis kesayangannya.
Keduanya saling diam tanpa bicara. Namun pelukan itu mampu memberikan kehangatan dan ketenangan untuk keduanya.
***
Di minggu pagi yang sama pula di rumah orang yang gak hobi nonton Tivi. Main Hp kalo buat nge you tube sama nonton anime doang.
"Ini nyari pohon coklat di mana njirr? Gue gak tau dah. Asli arghhh. " gumam Sandy di atas motornya. Rambutnya acak karna tangannya yang kurang kerjaan.
"Lagian Disha gimana sih, ya kali coklat pohon. Parah sih, mana di suruh pap lagi."
Sandy menaiki motornya, berjalan tanpa arah. Cuma bisa celingukan kanan kiri nyari pohon coklat di mana.
Di daerah rumah Sandy itu benar-benar langka. Arghhh kepalanya hampir stress karna memikirkan itu saja.
Kepala Sandy memghadirkan sosok Disha yang selalu memberikan mimik wajah beraneka ragam. Dari yang diam aja dan cuek, sampai raut kesal karna ulahnya. Entah kenapa, hanya membayangkan mimik wajah gadis itu mampu menarik sudut bibir Sandy
***
~ Season 1 Selesai~
Tunggu Season dua nya yah. Nah berhubung di Season satu sedikit romantisnya sama banyakan sedih nya, sama konfliknya.
Di Season dua nya nanti konfliknya ringan doang, dan banyak romantisnya di usahain wkwk.
Jadi tunggu kisah pertunangan Vania dan Riyan yah. Dan Rayuan maut Sandy buat dapetin hati Disha. Bye bye~ sampai ketemu lagi~
Salam muach Author Rini IR
Yang Nanya kisah Arka ada di Novel Archana Arka yah~
See you semuanya~
Tetep pantengin Kisah Arfen dan Thifa yah~ OTW soalnya~