
***
"Iyah ini gue. Lo mau buku ini kan? Buku yang bagus. Selera pelajaran lo lumayan lah di banding anak-anak lainnya. " Rayden mengangguk congkak.
"Terus? " Vania memutar bola matanya jengah. Sungguh! Vania memang tidak pernah suka akan Rayden.
"Gua bakal kasih lo buku ini kalo lo pura-pura jadian sama gue? Gimana?"
Vania menaikkan sebelah alisnya.
Syarat macam apa ini! Mana buku itu penting banget lagi. Arghhh! Rayden sialan! Ketua Osis kurang kerjaan! Kan banyak sih cewek yang ngejar-ngejar dia! Kenapa harus aku sih! Kayak niat banget!
Umpat Vania dalam hati.
"Gak deh ga minat. Masih banyak buku lain. " sahut Vania enteng, dia berbalik kembali ke meja dimana Riyan berada.
"tcih! " umpat Rayden seketika. Matanya tajam menatap punggung Vania. Ini kali pertamanya ada seseorang yang berani meninggalkan Rayden.
"Pak, ayo pulang. " ajak Vania menarik lengan Riyan.
Riyan melihat Vania. Tak ada satu pun buku yang di pegangnya.
"Sudah ku duga, ke perpustakaan hanya modus kamu untuk alasan karna mengintip aku, ya kan? Kamu tidak ada alasan lain tadi. " tebak Riyan sesuai fakta yang ada di otaknya.
"Jangan ngadi - ngadi deh pak. Vania emang tadi mau ke perpus. " tutur gadis itu jujur.
"Terus kenapa pulang saat kamu belum mendapat satu buku pun? Dan kamu dari tadi hanya berbolak-balik di daerah lemari itu saja. "
Sial! Bagaimana bisa aku di permainkan oleh gadis ini! Tcih! Yang paling bodohnya adalah, aku tidak bisa memarahinya!!
"..."
Melihat Vania yang bungkam, Riyan mengalihkan pandangan nya ke rak sana. Tepat sekali ada Rayden yang berdiri menyandar dengan mata tajamnya, tangannya memang memegang sebuah buku.
"Kau ingin meminjam buku itu? " Riyan menaikkan sebelah alisnya menatap gadis yang tingginya hanya sebahu.
"Udah gak minat. " ketusnya.
Riyan mengerti, kenapa Vania tidak jadi meminjam buku itu.
"Oke. Ayo pulang. " kali ini Riyan lah yang menarik tangan Vania.
"Dasar bocah rese! Taunya merepotkan orang aja! " lanjut Riyan. Hanya sebuah gumam-an. Namun Vania bisa mendengar itu samar-samar.
Apa om galak tadi bilang bocah rese? Ingatannya udah balik? Gak gak mungkin! Kalo ingatannya udah balik kenapa dia gak ngaku.
Batin Vania, dia mulai berfikir keras.
***
Di rumahnya Arka dengan segala kesetressannya mencatat semua pelajaran yang sudah tertinggal selama satu bulan penuh itu.
Tangan nya memang bergerak cekatan. Namun pikiran nya hanya bertaut pada wajah Vania. Membayangkan kenangan dirinya dan Vania selama itu. Ingatan itu selalu membuat Arka terkesan.
Bukan sekali dua kali, ini sudah kesekian kalinya Arka menulis nama Vania di bukunya.
"Vania... Jadi gini rasanya orang jatuh cinta. Berdebar sekali! Gue takut, tapi juga menyenangkan. Jangankan wajah, melihat nama nya aja. Jantung udah gak karuan. Pantas, oranh sering stress karna cinta. " gumam Arka. Memang tipis tapi ada senyum yang terukir indah di sana.
***
"Makasih yah pak, " Vania turun dari mobil Riyan.
"Oh yah, nanti malam mamah sama papah undang kamu makan malam di rumah. Nanti malam jangan lupa siap-siap. Aku yang jemput. " Riyan langsung menutup jendela mobilnya. Memundurkan mobilnya.
"Oh yah, nelpon Arka ga yah? Nanyain kabar dia. Eh ga usah deh. Ntar malah ganggu. "
***
Setelah satu jam bersiap-siap dan pusing memikirkan baju. Akhirnya Vania siap dengan dress hitamnya. Sangat sederhana, dengan rambut yang di urai. Vania keluar dari pintu rumahnya, berfikir untuk menunggu Riyan di luar.
"Eeh!! " Kejutnya saat mendapati mobil kesayangan bos muda itu sudah terparkir di depan rumahnya.
"Loh, bapak udah sejak kapan di sini? "
"Dari tadi. Kamu terlalu lama. Buang-buang waktu. Ayo masuk. " Riyan masuk ke dalam mobilnya di ikuti Vania.
Yaa~ Mana aku tau pak Riyan ada di sini. Arghh! Dia pasti mikir aku tipe cewek yang kalo dandan lama! Argh!!!
Suara batim Vania menjerit. Yah hanya batin nya. Gadis mungil itu lesu. Dia sudah tidak bersemangat untuk naik mobil.
"Emang apa yang mau di omongin om sama tante? " ujar Vania membuka pembicaraan. Emang gitu, kalau gak perempuan yang chatt duluan. Gak bakal chattan. Eh salah! Maksudnya ngomong!
"Mana aku tau. Tanya aja sendiri nanti. "
Riyan memijat keningnya. Wajar! Saat ini dia sudah mabuk akan kecantikan dan keimutan gadis di sebelahnya. Sebenarnya, kalau di mata orang lain Vania itu terlihat biasa saja. Namun, di mata Riyan saat ini. Vania itu bagaikan bidadari yang turun dengan cahaya ilahi di belakang nya.
Riyan sedari tadi menelan Salivanya payah, mempertahankan konsentrasi menyetir nya agar tidak buyar. Ternyata benar cinta itu membutakan.
Karna cinta,
Orang biasa saja bisa jadi sangat cantik atau tampan.
Yang miskin bisa terlihat kaya.
Fisik ataupun materi tidak lagi berharga jika sudah berhadapan dengan cinta yang tulus.
Bocah rese! Arghh!!! Imut sekali! Haruskah aku karungin dan bawa dia ke pulau pribadi! Rasanya aku benar-benar ingin menyeretnya ke KUA langsung!
Riyan mengelus dadanya. Mencoba bertahan dan bertahap.
Vania hanya bisa mengernyit heran melihat kelakuan orang di sebelahnya yang sudah persis seperti orang stress. Terkadang, Vania juga menahan tawa dan senyum nya karna tingkah orang ini.
Percayalah, di balik wajah psikopat dan sikap dingin seseorang. Akan ada jiwa kebobrokan yang tidak perlu di pertanyakan lagi. Hanya saja, jarang sekali kebobrokan itu terlihat.
Batin Vania dalam hati. Hari ini, Vania berhasil mengetahui sifat Riyan yang lainnya.
***
Riyan turun dari mobilnya, dia berjalan cepat. Vania juga turun dari mobil Riyan. Ternyata sudah ada papah dan mamah Riyan yang menanti mereka di pintu depan.
Riyan menyalam kedua tangan milik orang berjasa itu. Di ikuti Vania di belakang Riyan. Namun, ada yang aneh dari tingkah lakunya. Riyan berjalan cepat.
"Heh Riyan, ka--"
"Sabar pah, Riyan mau dinginin kepala dulu. " Dia melanjutkan jalannya.
Vania dan Airin hanya bisa diam, ini cukup aneh dan membingungkan.
"Udah nak. Vania ayo masuk. Tante udah buat banyak makanan spesial malam ini. "
"Iyaa tante. "
***