
***
Vania sendiri bingung, haruskah dia tetap bertahan. Ataukah pergi saja?
"Kenapa melihat koper terus? Takut di usir? " ucapan itu di lontarkan oleh orang tampan yang tengah berdiri menyandari di pintu. Menatap Vania yang terbaring lesu.
"Mau apa ke sini? Ini kamar aku. Pergi deh. " mood Vania benar-benar hancur saat melihat orang itu.
"Kamar kamu bagian dari rumah ku, artinya kamar ini milik ku. "
"Setiap hari ngancemnya rumah mulu. Gak bosen apa? Bapak maunya apa? Aku keluar daru rumah ini? Oke aku keluar sekarang! " Vania sudah muak. Cukup, hinaan Riyan ada batasnya. Vania mengambil koper di atas lemari itu.
Dia meletakkan kopernya di atas kasur, membuka nya di depan mata Riyan. Vania mengambil baju-bajunya lalu di masukkan kedalam koper itu. Riyan yang melihat itu, hanya menaikkan sebelah alisnya. Menurut Riyan, Vania tidak akan benar-benar pergi dari sana.
Namun sayang, perkiraan Riyan salah besar. Setelah Vania mengemasi seluruh barang-barangnya. Vania benar-benar menyeret kopernya, menenteng tasnya, dan menggendong punggung satu tasnya lagi.
Riyan teridam sebentar, dia sedikit khawatir bahwa Vania akan benar-benar pergi. Namun, Riyan masih yakin bahwa itu hanya ancaman Riyan. Karna dia tau benar bahwa Vania di dunia ini hanya tinggal seorang diri. Lalu, mau kemana lagi dia pergi.
Vania berhenti tepat di hadapan Riyan. Vania dengan seidkit berani menatap mata Riyan.
"Pikirkan alasan yang bakal bapak berikan sama Tente Airin, dan Om Agung. Sampai jumpa, sampaikan salam dan terima kasih ku sama Om dan Tante. Selamat tinggal. Makasih atas tumpangannya selama ini. " Vania melanjutkan jalannya.
Riyan hanya tersenyum miring. "Haha, sama-sama. Dan sampai jumpa, " Riyan menyahuti dengan enteng.
Nyesssssss
Rasa hati Vania, dia berhenti sebentar. Lalu melanjutkannnya lagi. Tapi bedanya, Vania tidak menangis kali ini, mungkin.
***
Dua jam sudah berlalu, Riyan merasa tidak tenang di tempatnya, saat dia belum melihat Vania pulang. Riyan duduk di sofa ruang tamu, sedari tadi. Dia menunggu Vania pulang, dan merangkai kata-kata yang cocok. Tapi faktanya. vania belum kembali juga sampai saat ini.
Ada perasaan gusar dan tak tenang menggantui hatinya. Dia sedikit khawatir pada Vania. Sedikit?
Shit! Sial! Kemana bocah itu, kenapa sampai sekarang dia belum pulang juga?! Kemana dia?!! Apa jangan-jangan?! Dia!!!
Riyan mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja. Setengah berlari dengan perasaan gusar.
Apa yang di perbuat si bodoh itu?! Ini udah malam! Dan dia masih kecil, dia perempuan polos! Gimana kalau terjadi sesuatu sama dia!! Gak gak! Dasar gadis bodoh! Kenapa pergii?!
Riyan menghidupkam mobilnya dan langsung menjalankan mobil kesayangan nya itu. Menyusuri jalanan yang agak sepi, di karenakan memang sudah larut malam.
Apa kata Riyan? Kenapa Vania pergi? Jika aku bisa, ingin sekali ku gedik palanya. Mulutnya itu, dia lah sumber kenapa Vania pergi dari rumah Riyan.
"Halo, kalian semua. Cari Nona Vania segera. Malam ini, dan harus kalian temukan segera mungkin! Aku tidak mau tau. Kalian harus menemukan Vania, secepatnya!! " Riyan menitahkan satu anak buah di telponnya.
Bayang-bayang negatif thingking menghampiri Riyan. Dia tiba-tiba merasa bersalah atas kepergian Vania. Niat Riyan hanya ingin bercanda, dia tidam tau Vania itu gadis yang nekat. Dia memikirkan kemungkinan terburuk, bahwa Vania kecelakaan, dilecehkan, arghhh.
"Jika sesutu terjadi pada Vania. Akan aku patah kan kaki orang yang melakukan itu. Arghhh!! Riyan bodoh! " Riyan mengumpat sektika, memukul stirnya.
Tenang, ayo tetap tenang. Berfikir lah yang baik. Bahwa Vania akan baik-baik saja.
***
Di tengah cahaya yang remang-remang, Vania mencoba mengerjapkan matanya di balik selimut itu. Namun, usahanya sia-sia, dia tidak bisa tidur. Padahal ini sudah jam sebelas malam.
***
Gadis kecil itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mengapresiasi sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya.
"What!! Sial!! Aku terlambat ke sekolah!!! " Teriak Vania mengibaskan selimutnya. Dia bangun tergesa, namun langkahnya terhenti saat dia sudah ada di depan kamar mandi.
"Buat apa? Buat apa mandi pagi-pagi di saat hari libur!!! Huh! Dasar Vania! Kenapa enggak sadar, ini hari minggu!! "
Vania berbalik, dia berbaring di kamarnya. Entah kenapa, dia merasa lebih nyaman di rumahnya ini, di banding rumah Riyan. Vania ingin sekali melanjutkan tidurnya, namun sayang perutnya tak bisa di ajak kompromi.
Makanan? Emang aku punya makanan di rumah ini? Ohh, warung depan ada ga yah? Ada kayaknya. Arghhh, berarti harus keluar, keluar harus mandi? Bentar, mandi di hari libur? Dah lah males.
Vania mencuci wajahnya, lalu berdandan sederhana dan keluar rumah dengan pakaian seadanya.
Sebenernya rumah Vania berada di kalangan rumah sederhana lainnya. Rumah biasa yang di sekitarnya banyak warung-warung. Tidak dengan Rumah Riyan yang berada di kawasan perumahan Elit. Rata-rata rumah orang kaya.
Vania membuka pagar sederhana itu, berjalan santai. Dia mencoba tenang saat masalah di pikirannya tengah kacau.
Keberuntungan tidak berada di pihak Vania. Tepat saat dia ingin makan di warung Bakso langganan masa kecilnya, berkumpul lah di sana pria-pria se usia Vania yang tengah makan.
Hal itu memaksa Vania dengan berat hati untuk memutar kakinya. Dia berjalan tanpa arah hanya untuk mencari sarapan.
"Dah lah, beli inteerrrmiiieee aja. "
***
Riyan tertidur di dalam mobilnya, di pinggir jalan. Riyan bahkan tidak tau jalan apa itu. Yang dia tau, dia mencari Vania kemarin semalaman.
Hah... Masih belum ketemu juga? Dimana anak itu sebenarnya? Apa dua baik-baik aja? Apa hubungi polisi aja.
Riyan kembali menghidupkan mobilnya, dan melanjutkan perjalanan mencari Vania.
Saat dalam perjalanan, ada yang aneh. Riyan seakan kenal dengan gadis yang rambutnya di kuncir satu di belakang. Berjalan santai.
Riyan menyipitkan matanya, dia tengah berusaha memastikan, bahwa orang itu adalah Vania. Benar-benar Vania si bocah Rese yang Riyan cari.
Vania mengernyitkan dahinya heran, saat ada satu mobil berhenti di sebelahnya. Setelah Vania ingat dan perhatikan dengan baik. Sepertinya gadis mungil itu mulai mengenali mobil siapa itu.
Vania lebih terkejut lagi saat melihat kaca mobil itu terbuka, dan menunjukkan wajah rese Riyan yang tidak ingin Vania lihat.
"Sudah cukup main-mainnya. Ayo masuk, ikut dengan ku. Kita pulang sekarang. " ujar Riyan enteng.
"Pulang? Pulang hanya untuk orang yang punya rumah. Rumah mana yang bapak maksud? "
***