
***
Satu minggu sudah berlalu. Orang tua Arka sudah bekerja sangat keras demi mendapatkan pendonor untuk Arka. Namun, mereka belum berhasil juga.
"Aku menemukan pendonor nya. " Ujar seseorang. Sontak, orang tua Arka memutar badan mereka secara bersamaan.
"Presdir Riyan? Gurunya Arka? " gumamnya.
"Kalian tenang saja, semua sudah ku atur. Arka akan segera sembuh." ujar Riyan lagi. Dia langsung berjalan pergi.
Aku melakukan ini hanya demi Vania. Vania akan merasa sangat terpukul saat dia kehilangan Arka, sahabatnya. Soal saingan? Ayolah, Arka hanya bocah. Tidak akan mungkin aku kalah darinya.
***
Satu Bulan sudah berlalu dengan cepat. Begitu cepatnya sampai Vania tidak sadar bahwa bulan depan adalah ulang tahunnya.
"Oh iya. Pak Riyan kan Presdir besar? Kenapa ga minta tolong dia aja buat bantu nyari pendonor. " Vania mengambil hpnya,
"..."
Dengan cepat Telpon itu sudah tersambung.
"Pak, Vania bisa minta tolong gak? " tutur Vania ragu.
"Asal bukan nyawa ku dan penaikan nilai. Aku rasa aku bisa bantu."
Vania menjauhkan Hpnya sebentar.
"Najid 4G minta naikin nilai. Pak, bapak kan Presdir besar. Bantu cariin Arka pendonor dong pak? "
Riyan terdiam di tempat nya. Tak dapat di pungkiri ia memang cemburu saat ini. Tangannya sudah di kepal erat-erat menahan emosi yang bergejolak.
Tanpa kau minta aku sudah carikan. Tapi, lebih sakit jika kau memintanya langsung.
"Kenapa aku harus membantu mu? "
"Karna Arka kan murid bapak. "
"Oh oke. Saya tidak janji. Matikan telponnya, dan tidur lah. Ini sudah malam. "
"Tapi aku ga bisa tidur, gabut. "
Hah~
Riyan menghela napasnya.
"... aku sibuk, aku matikan telponnya lebih dulu. Sampai jumpa besok."
Riyan langsung mematikan telponnya. Entah kenapa Vania merasa tidak nyaman akan hal itu. Kesal? Tentunya. Siapa yang tidak kesal saat di tinggal.
"Nyenyenye ngeselin bet sih. Emang dasar om galak + dingin! Dari dulu gak berubah. Tetep aja diktator, mau menang sendiri." kesal Vania, gadis mungil itu membaringkan badannya.
***
Sudah jam 10 malam, namun vania masih juga tidak bisa tidur.
Tok tok tok!
"ha? Siapa lagi malam-malam datang bertamu. " Vania dengan gontai melangkahkan kakinya.
"Lama banget bukain pintunya. Kenapa juga belum tidur? "
Vania kenal baik dengan suara itu. Suara yang tak bisa dia lupakan.
"Om galak?! "
"Iyah ini aku. Udah ayo masuk. Udah malam, oh ya aku juga bawa sate. Habis makan sate. Kamu langsung tidur. " Riyan dengan santai nya masuk ke dalam rumah orang itu, seolah itu adalah miliknya.
***
"Bapak ngapain di sini? " tanya Vania frontal duduk di kursi meja makan.
"Anterin kamu makanan, dan menginap di sini. " ujar Riyan sembari menyajikan satenya.
"Hah? Nginap di sini?! Bapak mau apa?!!! " gadis mungil itu menelan salivanya payah.
"Bodoh. Aku gak bakal lakuin apa-apa. Cuma mau nginap aja. Alasannya iseng doang. "
"iseng?!!! Ba--"
Riyan langsung menutup mulut Vania dengan memberikan nya suapan sate. Vania langsung diam dan memakan satenya.
***
Plak!
Di kamarnya, Vania menampar pipinya sendiri. Seolah tak percaya bahwa apa yang di alaminya kali ini bukan lah mimpi.
"Aneh?! Ngapain om galak ke rumah?! "
***
Di kamar tamu Riyan membaringkan badannya. Dia sendiri juga tidak tau motif apa yang membawanya kemari. Yang dia tau adalah...
"Aku merindukan Vania, dan aku ingin bertemu dengannnya. Dan itu harus terjadi. "
"Ah bocah rese, bahkan setelah semuanya. Aku masih mencintai mu~ Tapi sayangnya aku tau perasaan mu sudah hilang. Dan mengembalikan perasaan mu lagi, itulah tugas ku sekarang. " Riyan menggenggam erat gelang putih itu, dengan huruf V kecil yang menghiasinya.
***
Vania mengulet manja sebentar, dia langsung membuka matanya saat mendengar kusak kusuk di dapur. Ah, Vania ingat. Khusus pagi ini dia tidak sendiri. Masih ada Riyan yang menenaminya kan?
Tak perlu waktu lama untuk Vania bersiap, seragam rapi dan dasi sudah menggantung manis di lehernya. Perlahan tapi pasti menuruni anak tangganya satu persatu.
"Bapak ngapain? " tanya Vania menatap pria yang sudah duduk di meja makan itu.
"Menunggu mu untuk sarapan. "
"Lah? Biasa mah Vania sarapannya beli roti di warung depan. Habis itu makan di jalan. "
"Hidup tidak sehat macam apa itu?! Kemari dan makan ini! Ini buatan koki yang terkrnal! "
Vania hanya bisa pasrah akan titah Riyan. Dia berjalan gontai ke meja makan.
"Berangkat sekolah bareng aku aja. " ujar Riyan enteng. Namun terdengar seperti perintah.
"Gak ah, gak mau jadi bahan gosipan. "
Riyan langsung menatap Vania dengan mata elangnya yang khas. Membuat Vania diam tak berkutik lagi.
"Iya iya berangkat bareng bapak. Dasar om galak! "
ada sudut bibir yang tertarik saat mendengar panggilan lama itu.
***
Pagi ini, di kelas Riyan menatap Vania mungil yang duduk termenung di kelasnya. Ada hati yang terluka karna itu, Riyan sadar bahwa Vania selalu memikirkan soal Arka. Tapi, apakah Vania pernah sedikit saja memikirkan soal Riyan?
Sungguh, itu fakta di depan mata yang menghadirkan luka. Riyan bukan guru profesional, dia tidak menerangkan apapun sedari tadi, karna hatinya sendiri tak tenang. Padahal, tadi pagi dia baru saja satu mobil dengan Vania kan?
Kenapa om galak dari tadi diam aja? Apa dia ada masalah? Perasaan dari tadi pagi baik-baik aja deh.
Vania mulai menatap ragu sosok tegap yang duduk di bangku gurunya itu.
Tapi, inikan masih pagi. Bel aja baru bunyi setengah jam yang lalu. Kenapa pak Riyan udah badmood aja? Masalah kantor yah?
Vania menggoyangkan pulpennya sembari terus menatap Riyan.
Tok tok tok!
Ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Vania. Gadis mungil itu mengalihkan pandangannya seketika.
"Arka?! " teriak Disha di sebelah Vania.
Bukan hanya Vania, Riyan dan yang lainnya juga terkejut. Yang mereka tau tentu Arka masih tanpa kabar. Ah tidak juga,
Wajar Arka kembali. Ini sudah satu bulan sejak terakhir kali pendonor yang ku bayar memberikan ginjalnya. Ah~selamat datang murid tengil ku, dan sepertinya persaingan di antara kita benar-benar akan di mulai.
Batin Riyan menatap Arka, dia tersenyum. Entah senyuman jenis apa itu.