Riyan & Vania

Riyan & Vania
27. Permulaan



***


Vania berjalan santai dari lorong menuju kelasnya. Namun,  keberuntungan tidak berpihak pada Vania. Di tengah jalan,  tangannya di tarik oleh seseorang.


Vania masuk secara paksa ke dalam ruangan itu,  ruangan itu juga kembali tertutup. Saat Vania sadar, itu adalah ruang perlengkapan kebersihan. Dia menatap pria di depannya. Pria itu lah yang memaksa Vania masuk.


"Ada apa Ketua Osis kita yang terhormat? Oh ya,  mana ada orang terhormat yang bawa-bawa paksa murid cewek kayak gini? Di seret keruangan yang sepi pula. " cibir Vania. Jangan salahkan dia,  hari ini Vania lagi Pms. Bawaaannya memang pengen marah-marah mulu.


"Mulut lo itu tajam juga ya, terserah. Di sini gue cuma mau bilang,  kal--" Rayden tiba-tiba menghentikan ucapan nya. Vania menaikkan sebelah alisnya.


"Lidahnya kenapa bos? Apa ga bisa ngomong lagi? Kena Adzab yah,  gara-gara seret anak orang."


"Tcih! Diam lah! Terserah! " Rayden membuka pintunya lalu berjalan keluar meninggalkan Vania sendirian.


Tcih! Sial!  Hampir saja! Hampir aja gue kasih tau dia soal kecelakaan papahnya. Syukur gue sadar!


Batin Rayden,  dia menghela napasnya karna masih bisa menahan dirinya  sendiri.


Vania beralan beberapa langkah keluar. Kaki Vania berhenti,  matanya lekat menatap punggung Rayden yang kian lama semakin menjauh.


"Ahh,  apa yah yang mau di bilang Rayden tadi? Rasanya buat penasaran? Kenapa Rayden mendadak diam yak? Arggh! Rayden bodoh!! " gumam Vania.


"Ha? Apa? Rayden bodoh? Tentu saja itu benar,  karna yang pintar cuma saya, kan? " seseorang berbicara dekat sekali di telinga Vania.


Sontak,  Vania langsung menjauh. Hembusan napas orang itu di telinga Vania,  membuat sang pemilik telinga merasa geli sendiri.


"Pak Riyan? Apa apaan bapak ini?! Sikap bapak barusan sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang guru! Bagaimana mungkin bapak bisa melakukan hal seperti tadi. Bisa aja kan ada murid lain yang liat?! " Ronta Vania,  dia menatap tajam Riyan.


"Oh gitu. " Riyan menarik tangan Vania masuk ke dalam ruangan itu lagi. Ini sudah kali kedua Vania di paksa masuk ke ruangan itu.


"Kalau gak bisa di luar karna takut kelihatan orang. Kenapa gak di sini aja? Sepi? Pintunya tertutup lagi? Ya kan? Bukan kah ini tempat yang bagus? " Riyan menatap Vania menyeringai.


Vania menelan salivanya susah. Atmosfer di sekitar nya tidak lagi bersahabat. Tak bisa di pungkiri. Vania merasa takut saat ini. Takut bahwa Riyan di luar kendali.


Riyan yang melihat Vania sudah bagai kelinci di depan senapan hanya bisa menahan tawanya.


"Udah lah,  lagian aku cuma bercanda. Udah,  kau segeralah keluar. Sapu tuh kelas. Jangan malu-maluin aku jadi wali kelas. " Riyan membuka kan pintu itu untuk Vania.


Vania menghela napas lega. Om galaknya itu ternyata masih dalam kendali.


"Emang bapak gak mau keluar juga? " Vania mulai mengatur nada suaranya,  tentu karna sekarang dia masih deg degan.


"Akan ada banyak sekali gosip, bila guru san murid berbeda jenis kelamin keluar dari ruangan sepi secara bersama. Kau keluar lebih dulu. Aku akan menyusul nanti. "


"Bapak itu ternyata pinter juga yah. Kalau gitu, aku ke kelas dulu ya pak. " Vania berjalan dengan santai ke luar.


Tanpa Vania sadari. Ada Arka dan Sandy yang memperhatikan nya dari jauh. Hampir saja mulut rese Sandy ingin memanggil nama Vania.


Namun,  itu terpaksa di hentikan saat mereka melihat ada Riyan. Wali kelas mereka,  keluar dari pintu yang sama dengan Vania. Hanya berbeda waktu saja.


Wajah Arka sudah mulai murung, dia mengepalkan tangannya kuat. Mencoba menahan rasa panas yang bergejolak di hatinya. Entah kenapa rasa itu ada,  tapi yang jelas itu tidak nyaman sekali untuk Arka.


"Woi Ka? Kenapa guru galak itu keluar dari ruangan yang sama. Kayak calon binik gue? " Sandy menggumam pelan.


"Gak tau gue. Kali aja mereka ada urusan. "


"Tapi gue kepo ka? "


"Ya udah tanya aja sama Vania kalo lo berani. "


"Dasar guru galak! Awas aja kalau dia sampai berani nyentuh calon mamah dari anak-anak gue. Gue jelas bakal patahin kakinya! Basahin tulang keringnya! " Sandy ngedumel dengan gayanya. Ekspresinya di buat semenyeramkan mungkin, tapi sama sekali ga seram.


"Hilih,  lu kalo ngomong mah ngehalu mulu. Gaya aja besar,  ya udah sono patahin tuh tulang pak galak. Konon mau basahin tulang kering nya. Lu aja takut ketemu dia. " Arka menepuk pundak Sandy, dan berjalan lebih dulu. Itu karna Arka tidak ingin Sandy melihat wajahnya yang sudah kayak udang repus.


"Woi,  tungguin ka!! " Sandy berlari menyusul Arka dengan cepat.


"yang tadi itu si Vania dari anak XII IPA lima kan? Ngapain dia di satu ruangan sama guru ganteng? Apa jangan-jangan. Mereka--?! Tcih! Pantas aja gayanya aneh banget waktu keluar!! " gumam seorang perempuan berseragam yang sama dengan Vania. Dia ternyata sedari tadi bersembunyi di balik tiang.


"Gak boleh di biarin nih! Si vania itu,  berani-beraninya mau rebut guru tampan dari kita. Oh! Gak semudah itu! Gue harus kasih tau para fans guru tampan nih. " wanita itu mengepalkan tangannya,  dia segera berlari membawa berita yang do yakininya akan menghebohkan seantero sekolah.


***


Rayden? Siapa itu Rayden? Kenapa sama Rayden? Apa Bocah rese suka sama Rayden! Oh gak! Ini sama sekali gak mungkin! Sulit di percaya!


Umpat Riyan dalam hati. Dia mengetik di keyboard nama Rayden.


"Anak orang kaya ternyata? Hah? Cukup bisa main-main? " gumam Riyan menyeringai.


***


Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Vania membereskan bukunya, bersiap untuk ke kantin. Entah kenapa, masih istirahat pertama. Dan Vania benar-benar sudah lapar.


"Mau ke kantin kan? Bareng gue ya? " tawar Arka.


***