Riyan & Vania

Riyan & Vania
11. Kekanak-kanakan?



***


Sandy diam sebentar.


"Oh lo aja deh yang nemenin vania. Gue ada rapat club Volley. Baru ingat hehe. " Celetuk Sandy menampilkan cengiran tak berdosanya.


Sudah Vania duga. Sandy mana mungkin berani melawan Riyan. Wajar,  wajah Riyan sangat menyeramkan.


"Kuy Van,  sama gue. Gue temenin deh. " Arka merangkul Vania santai.


Entah kenapa badan Riyan tak suka melihat itu. Samar-samar terdengar suara Riyan berdecak kesal.


Dasar bocah-bocah sialan! Beraninya mereka bermain-main dengan ku!


Umpat Riyan dalam hati,  satu langkah sudah Riyan berjalan mendekati dititik mana Vania berdiri.


"Yang saya minta ikut adalah Vania,  bukan kamu. Kamu tidak perlu ikut." tegas Riyan,  menatap khas Arka dengan mata elangnya.


"Kan saya cuma nemenin Vania. Jaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Soalnya kasus om-om mesum udah banyak. " entah latar belakang apa bisa membuat mental dan mulut seorang Arka begitu berani.


"Tapi kan Ka,  kalo om-omnya kayak oppa-oppa korea. Aku mau deh nikah sekarang juga gak papa. Hehe. " Tiba-tiba dari sebelah kiri ada Shina yang mengeluarkan celetukan khas mulutnya.


"Arcana Arka? Keluarga Arcana? Heh! Jangan kau pikir kau bisa melawan ku hanya karna kau keturunan keluarga Arcana. " sindir Riyan sinis. "Bersikap lah sopan pada yang lebih tua. "


"Iyah,  Bapak emang udah tua. Baguslah sadar diri. " sahut Arka enteng.


"Bocah ingusan seperti kamu ini,  akan menerima balasannya nanti. Vania ikut aku,  kita akan membahas masalah kemarin malam." Riyan sengaja mengucapkan kata malam dengan nada plus senyum smirknya.


Riyan berbalik, sebelum dia berjalan keluar dari kelas itu. Riyan meninggalkan tatapan dari ekor matanya,  tentu saja maksudnya untuk mengejek Arka.


Vania juga dengan terburu mengikuti langkah Riyan. Sebelum pria itu mengatakan hal-hal yang tidak - tidak seperti tadi.


"Malam? Maksudnya apa? Apa jangan-jangan Vania sama Pak Riy--"


"Diem Dish! Wali kita yang baru bukan orang sembarangan. " Arka mulai menggumam serius.


"Btw,  lu beneran anak keluarga Arcana?!  Asli,  seriusan? Sumpah woi?! Gila! Arcana loh,  keluarga ter baik ke tiga di negara kita?! Ke Tiga!! " Celoteh Shina heboh.


Untunglah,  saat Bel berbunyi tadi semua murid langsung keluar. Wajar,  mereka kan mencari angin segar setelah di terpa badai parah.


"Berisik Shin! Awas aja sampai ada yang tau. Gue bogem satu-satu kalian! "


"Santai Ka,  pantesan aja kamu Suka hati mukulin anak orang sampe masuk rumah sakit. Bapaknya Sultan ternyata.  " tambah Disha cekikikan.


"Itu gua cuma mukulin orang yang salah. Yang gak salah gak bakal gue pukul. " sahut Arka enteng.


"Lu beneran anak keluarga Arcana bukan sih? Tapi kok lu sering ngutang gue, sama langganan hotspot? "


"Sekali lagi lo ngomong gitu San. Gue tendang nih. "


"Tapi,  ada apa yah sama pak Riyan dan Vania. Kayak ada secret gitu. Gue curiga deh. " Kini Sandy memasang wajah berfikir.


"Nah,  itu yang harus kita cari tau. Sejak adanya pak Riyan. Vania jadi sering melamun. " Sambung Disha. Yang di angguki oleh Shina.


Apa yah yang terjadi kemarin malam? antara pak Riyan sama Vania?


Arka mulai menerka-nerka keadaan yang sebenarnya.


***


Shit! Sial! Kenapa cuma gara-gara bocah rese ini aku jadi terlibat pertengkaran dengan bocah Arcana itu! Bukan aku takut dengan bocah Arcana itu. Lagipula, status keluarga ku masih lebih tinggi.


Yang tidak aku percaya adalah,  kenapa aku bersikap kekanak-kanakan hanya demi perempuan ini?! Gadis biasa-biasa saja dengan mulut yang super rese!


Batin Riyan menatap lurus Vania yang berdiri di depannya. Riyan menatap dingin Vania dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Di sebelah Vania yang berdiri  memang ada kursi. Tapi Riyan tak mengizinkan Vania duduk.


Hebat sih om galak. Baru beberapa hari kerja. Udah ada aja ruangan pribadi.


Batin Vania, dia menjalankan matanya menyapu setiap sudut ruangan, guna menghapuskan rasa gugup dan dinginnya saat ini.


Vania sudah mulai bosan berdiri. Sejak dia masuk,  Riyan tidak mengatakan apapun. Suasananya hening. Riyan hanya asyik mengetik di laptop.


"Bapak manggil aku emang ada masalah apa? " Vania membuka suaranya.


Benar! Kenapa? Kenapa aku memanggil gadis ini?! Apa salahnya?! Kenapa ku panggil?


Riyan bingung sendiri,  namun demi menutupi rasa bingungnya. Riyan memilih mengacuhkan ucapan Vania saja.


"Bapak manggil saya ke sini buat apa? Ini udah hampir setengah jam pak? Be--"


Ting! Ting!


Lonceng sekolah memotong ucapan Vania.


"Kamu kembali ke kelas. Pergilah cepat. Aku tidak ingin melihat mu. Itu merugikan mata dan waktu ku."  titah Riyan enteng,  tanpa merasa bersalah karna sudah meminta murid berdiri setengah jam di depannya.


"Kalau gitu kenapa manggil coba? Rese bener. Gak tau apa orang udah laper. Cacing meronta. " gumam Vania pelan,  namun karna ruangannya itu sepi. Riyan mampu mendengarnya.


"Diamlah, kembali ke kelas mu. Oh ya,  papah bilang kau harus pulang bersama ku. Ingat tunggu aku. " lanjut Riyan,  berbicara seolah acuh tak acuh.


"iyaaaaa. " Vania berbalik,  berjalan gontai ala lesu. Wajar, dia berdiri setengah jam tanpa melakukan kesalahan apapun.


***


Saat sudah tak melihat adanya punggung Vania lagi,  Riyan menghempas kasar tempat pulpennya.


Ada apa? Ada apa ini? Kenapa aku bersikap kekanak-kanakan?! Kenapa aku tidak asing dengan wanita itu?! Siapa dia?  Papah dan mamah merahasiakannya? Mungkinkah dia adik ku? Mungkin kah anak tiri papah ku? Atau anak tiri mamah ku?!


Shit! Sial!  Hanya karna bocah rese itu aku harus berpikir yang tidak-tidak tentang papah dan mamah. Gadis sialan!


***


Vania berjalan gontai di koridor sekolah. Ingatan kecilnya menghadirkan kenangan manis tentang kisah manis antara Riyan dan Vania dulu.


Yah itu dulu, hanya masa lalu~


Bruakk!!!


Mungkin karna berjalan dengan setengah sadar,  Vania menabrak seseorang. Vania merasa asing tak asing dengan wajah orang ini.


"Kau? Ketua OSIS? " gumam Vania saat dia sadar.


***


Note :


Makasih banget loh yang udah nungguin. Sankyuuu muach muach deh buat yang masih setia baca.


Oh iya kakak-kakak Readersku tercinta. Tadi aku baru-baru coba buat Cerpen loh>< itu cerpen pertama ku. Kuy lah kak luangin waktu 10 menit buat baca cerpen aku itu hehe.


Judulnya  : "Aku yang Selingkuhan? "


Kuy kak Baca^^


Sinopsis:


Plakkk!!!!!


Aku menampar kasar wanita berambut pirang ini. Dia melotot tajam ke arah ku.


"Kiy! Ini ga seperti yang kamu pikir! Aku bisa jelasin! " Suara yang familiar itu menyebut nama ku, tangan kekar pria itu memaksa bahu ku untuk berputar.


Aku menoleh ke arah pria itu, pria yang statusnya adalah pacar ku,  dan juga pacar wanita berambut pirang yang baru saja ku tampar manis. Aku tidak tau,  sebenarnya siapa yang berstatus selingkuhan.


KUY DI CHECK HEHE^^ ^\^


Bacanya di Noveltoon/ Mangatoon juga loh^^