
***
"Mana ada penyakit stress bisa nular. Gimana sih lo. Dengerin dulu kali, gue mau lo bantuin gue jodohin pak Riyan sama Vania noh. " Sandy mengarahkan jarinya ke arah dua insan yang masih berbincang kecil di dekat mobil itu.
Disha mengekor arah tunjuk Sandy. Disha benar-benar terkejut, dia tidak menyangka nya. Sejak kapan Vania sedekat itu sama pak Riyan?
"Gak mau aku, kalau gak dapat imbalan. " Disha memantapkan niatnya.
"Itungan banget sih lo jadi temen. Kan lo ini sahabatnya Vania, bantuin kek biar sahabat lo seneng. "
"Lagian San, bukannya kau sendiri suka Vania? ngapain jodohin Vania sama orang lain coba? Emang ya, kau itu stress. "
"Otw move on Dish, Sesuai Amanah Almarhum Arka. Gue harus bisa jodohin mereka berdua. Gue ikhlas kok, yang penting Vania senang, pak Riyan happy, Arka tenang di alam sana. " Jawab Sandy yakin. Seyakin bahwa dia akan berhasil kali ini.
Entah itu berita baik atau buruk, entah kenapa Disha merasa senang.
Jahatnya aku. Kenapa aku senang? Apa aku Udah bener-bener jadi orang jahat?
Keluhnya dalam hati.
"Oke oke. Aku bakal bantuin kamu buat satuin pak Riyan sama Vania. Tapi ada syaratnya!"
Sandy diam, dia menoleh ke arah Disha. Dia mengangguk.
"Kalau nanti berhasil, kamu mesti nurutin satu permintaan aku."
"Oke fix, sepakat. Lo bakal bantuin gue jodohin tuh kedua manusia." Satu jari jempol Sandy sudah mengudara, untuk beberapa detik.
"Bales kek Dish, bengong mulu. Kasian nih jempol gue kan jadi jomblo."
Disha mengedutkan dahinya heran. Entah lah, pria di sebelahnya ini selalu saja berhasil membuatnya terkejut.
Tiba-tiba Sandy menarik tangan Disha, mentautkan jempolnya dengan jempol mungil gadis itu seolah membuat janji.
"Harusnya kan kelingking dodol. " koreksi Disha. Matanya menyipit datar.
"Biar beda, kita pake jempol. Mantaps, janji Sandy dan Disha pake jempol. Oke? Sip!"
Disha tidak tau apakah ini baik atau buruk. Dia sudah masuk dalam zona teman sepertinya? Ah semakin sulit baginya, mungkin?
***
Hari pertama tanpa Arka di kelas XII IPA lima berjalan begitu senyap dan sepi. Kelas yang biasanya tak ribut tak mantap, kini diam klakap.
"Oy Oy Oy, Udah udah jangan di sedihin mulu. Arka bakal gak tenang, oke? Udah kuy lah jalani hari kayak biasa?" Sandy membuka suara cempreng nya. Tanpa sopan dia naik ke atas meja. Pandanganya menyapu seluruh isi ruangan.
"Kalo emang masih sedih, yah sedih aja San. Gak usah belagak sok kuat dan sok hebat. Kita semua tau kok, lo yang lebih terpukul daripada kita. Mata lo jelasin semuanya." Jawab sang ketua Kelas. Apa yang di ucapkannya semua benar adanya.
***
Hari ini seperti biasa, Vania pulang bersama Riyan menaiki mobil mewah pria itu.
"Bagaimana kelasnya tadi? Lebih baik?"
Riyan memilih untuk diam. Dia tau, Vania sedang tidak ingin untuk berbicara.
***
Riyan membawa Vania ke suatu tempat, ah sebuah Rumah Sakit mewah dan berkelas. Bentar ngapain Riyan bawa Vania ke rumah sakit? Pasangan stress mana yang kencannya di rumah sakit?
Vania turun dari mobil, dia menatap aneh bangunan megah yang berdominan warna putih itu. Vania kenal. Itu rumah sakit. Dan yang lebih dia ingat lagi. Ini adalah rumah sakit tempat di mana orang tuanya dirawat sebelum meninggal dunia.
"Ngapain kita ke sini? Bapak sakit yah? Sakit apa?" Vania menoleh ke arah pria jangkung di sebelahnya.
"Kepala ku pusing. Aku ingin periksa. Ikut dengan ku."
***
Dua insan itu sudah memasuki ruangan, tanpa menyapa resepsionis Riyan langsung menarik tangan Vania ke lorong-lorong. Hingga pada akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar itu.
Pintu ini? Pintu yang sama awal mula kisah ku sama om galak! Ah tapi sekarang? Waktu kami ada di depan pintu itu. Hanya aku yang ingat semuanya, enggak untuk orang di sebelah ku.
Batin Vania. Dia mencoba menguatkan dirinya sendiri. Riyan menatap Vania, pria itu seolah bisa membaca pikiran gadis labil ini.
"Ayo masuk. Dokternya udah di dalam." Riyan menarik Vania masuk. Dan?
"Enggak ada dokter di sini, bapak salah ruangan mungkin?"
"Vania Keyland, aku mau sedikit berbagi cerita dengan mata. Karna kita sudah bertunangan. Kau siap mendengarnya?"
Vania menelan salivanya payah, tapi sesaat kemudian dia mengangguk mantap.
"Dulu waktu aku SMA kelas Tiga seperti kamu, aku pernah masuk ruangan ini. Karna tertembak untuk menyelamatkan Raisa. Tapi, semasa aku di rawat, ada satu orang bocah SMP yang berisiknya gak tanggung, beneran bocah rese yang selalu gangguin aku selama satu bulan. "
Riyan menghentikan ceritanya. Dia menatap Vania yang matanya sudah berbinar.
"Satu minggu aku menunggunya di sini, tapi diak tak kunjung datang. Karna orang tuanya yang di rawat di kamar sebelah telah meninggal. Dia pun harus pergi. "
"Kau tau betapa itu menyakiti ku? Sejak saat itu aku bertekad mencari bocah rese itu, berbulan-bulan aku mengerahkan seluruh anak buah ku untuk mencari bocah itu. Tidak tau! Entah kenapa aku begitu tertarik padanya. Aku tidak akan pernah ikhlas jika bocah itu pergi."
Vania mulai meneteskan bulir hangat itu.
"Hingga akhirnya takdir mempertemukan aku dengan gadis itu lagi. Di sebuah cafe milik keluarganya. Tidak tau kah kau? Betapa aku senang, hingga aku ingin membawanya pulang ke rumah ku. Tapi itu tidak bisa! Karna dia masih sangat kecil!"
"Tapi hari ini. Aku bisa bertemu dia lagi, dan sudah bisa untuk membawanya pulang ke rumah ku."
Riyan maju ke hadapan Vania, masih dalam posisi berdiri. Riyan mengeluarkan sebuah kotak, yang berisikan cincin.
"Bocah rese, ikut lah pulang bersama ku? Di sini tidak ada penolakan, ataupun penundaan. Satu-satunya yang boleh kau katakan adalah. Kata "iya".
"Memang benar ini pemaksaan, karna aku gak bisa lagi kehilangan bocah rese kebanggaan ku." Riyan menyentuh bagian belakang kepala Vania, dia mendekatkan wajahnya ke wajah mungil gadis itu hingga hidung keduanya bisa bersentuhan.
***