Riyan & Vania

Riyan & Vania
19. Kita Sebelumnya pacaran?



***


"Tuan muda Arka. Mau sampai kapan anda merahasiakan ini dari orang tua anda? Bukan kah lebih baik memberi tahu mereka. Dengan bantuan uang dan kekuasaan mereka mungkin saja mencarikan jalan keluar,  dan dokter yang lebih hebat lainnya. Dan anda bisa sembuh. " Saran Dokter itu,  membantu Arka memakai jaket hitamnya kembali.


"Jika aku sembuh,  jika tidak? Bagaimana? Di banding melihat wajah sedih dan murung mereka selama dua tahun ini. Lebih baik aku melihat tawa dan menghabiskan waktu bahagia ku dengan mereka selama dua tahun ini, kan? " Arka menoleh menatap serius dokter itu. Namun, beberapa saat lagi dia tersenyum tipis.


"Tapi tuan muda, bukan kah lebih baik memberitau orang tua anda?"


"Jangan lakukan itu Dok, Arka udah menyembunyikannya selama tiga tahun. Biarkan seperti ini sampai akhir hidup Arka Dok. "


Arka berjalan keluar rumah sakit itu. Gayanya biasa saja, seakan peringatan dokter soal usia dua tahun itu bukan masalah baginya.


Jalani, dan nikmati. Hanya itu yang bisa gue lakuin saat ini. Kesehatan tubuh itu memang nikmat yang luar biasa, sayang banget. Gue gak punya.


Arka berjalan keluar dari rumah sakit. Menaiki motor KLX nya, yang berwarna biru. Saat sudah turun kejalanan. Arka bisa melihat kanan kiri, banyak orang yang dengan santainya menghisap rokok. Baik yang tua maupun yang muda.


Andai kalian ngerti rasanya punya penyakit. Kalian gak akan menyia-nyiakan kesehatan kalian hanya untuk sekedar merokok, apalagi sampai menyentuh narkoba. Kalian payah, menyia-nyiakan nikmat kesehatan yang tuhan berikan.


Batin Arka, dia tersenyum miring. Arka membandingkan dirinya dengan mereka. Bagaimana usaha Arka untuk menjaga tubuh penyakitannya itu. Mencoba agar tetap terlihat normal dan biasa saja.


***


Vania sudah selesai dengan sesi tangis menangisnya, dia keluar dari kamar mandi dengan mata sembabnya.


Arka rahasiain ini dari kita semua. Jadi, jadi aku harus tetep tutup mulut kan? Bersikap biasa aja? Aku yakin, dia nyembunyiiin karna gak ingim siapapun mengasihani dia. Kamu yang kuat ka.


Vania dengan gontai berjalan kembali ke kamar 62. Namun kali ini dengan hati-hati. Sayangnya, saat Vania sampai. Pasien di kamar 62 telah berganti. Bukan lagi Arka teman sekelasnya, melainkan korban kecelakaan.


Udah pulang kali, liat om galak aja deh.


Vania berbalik, dia melanjutkan perjalananmya ke kamar 73. Kamar awal incarannya.


Vania mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu itu. Tampak ada Riyan yang terbaring, bersama dengan Arfen dan Thifa di sana.


Vania menghembuskan napasnya lega. Setelah sesak yang begitu dalam, melihat Riyan yang mengobrop ringan dengan Arfen memberikan ketenangan hati tersendiri pada Vania.


Sudah cukup, melihatnya dari jauh saja itu udah cukup untuk ku. Aku tau dia baik-baik aja itu juga udah cukup untuk ku. Sekarang, ayo pulang Van~


Vania mencoba berbalik.


"Kak Vania?! Ngapain di luar aja? Kenapa gak masuk?! Siapa yang ngusi! " Tiba-tiba sudah ada Shiren di depan Vania dengan perkataannya yang bisa membuat orang salah mengartikan.


"Eh-eh itu kaka-"


"What?! Kak Vania kenapa? Habis nangis? Itu matanya sembab gitu? Kakak kenapa? " pertanyaan itu begitu saja terlontar dari mulut Shiren.


***


"Vania? " gumam Riyan dari dalam sana.


Thifa dan Arfen yang mendengar suara Shiren langsung keluar dan menarik Vania masuk.


Dan di sinilah Vania berada. Duduk di antara orang-orang itu. Vania masih diam membatu.


Riyan mengernyitkan dahinya, saat menyadari satu hal. Bahwa mata Vania itu sembab. Sepertinya Vania benar-benar baru saja menangis hebat.


"Van, lo kenapa gak masuk? Malah pengen balik aja? " tanya Arfen memakan apel yang dipegangnya.


"Berisik dih kalian ini, kali aja Vanianya mau beli makanan kan. Oh iya, ngomong-ngomong soal makanan. Gue laper Fen. Cari makan yuk. Vania, tolong jagain Riyan bentar yah. Kita mau cari makan dulu. " Thifa menarik tangan Arfen.


"Lah? Bukannya kita nanti yah makannya, ini kan masih jadwal si Raisa. " tanggap Arfen. Entah dia bodoh, atau pura-pura bodoh yant jelas saat ini. Thifa ingun sekali menimpuk Arfen.


Bughhh!!


Bukan Thifa, tapi Shiren dengan segenap tenaganya memukul Arfen dengan tasnya.


"Coba kakak sakit, terus kak Thifa baru dateng. Terus ada temen-temen kakak. Kakak pilih berdua apa--? "


"Oh iya! Diem lo bocah. Masih kecil juga. Oh iya. Gue laper. Gue nyari makan dulu yah Yan. Van, nitip Riyan yah. " Arfen segera bangkit. Thifa hanya bisa menghela napas berat.


Thifa dan Arfen sudah berjalan lebih dulu.


Tiba-tiba Shiren membisikkan sesuatu di telinga Vania. Mendadak wajah Vania agak memerah, dia juga tersentak kaget.


"Dah kak~ jagain kak Riyan yah. Ingat pesan Shiren. Dah kak Riyan, muachhh~" Shiren berjalan pergi setelah membisikkan sesuatu hal yang aneh itu.


***


Sepuluh menit sudah berlalu, keduanya masih sama-sama diam. Hingga akhirnya Riyan membuka suaranya.


"Hey, kenapa kau mau pulang lagi? Kau datang ke rumah sakit untuk menjenguk ku kan? Tapi kenapa pulang sebelum melihat ku? " Tanya Riyan. Riyan masih beebaring tampak seperti orang lemah. Namun, sorot matanya tidak pernah lembut.


"Aku udah liat kok, dari kaca pintu. " sahut Vania gugup.


"Apa melihat dari kaca saja cukup kah? Apa kau tau aku baik-baik saja hanya karna melihat dari jendela. Bahkan saat kau sudah di dekat ku, kau tak bertanya keadaan ku. "


Vania tersentak halus. Apakah ini bagian dari bentuk sindiran?


Tunggu dulu, apa dia sedang menyindir? Tapi, kenapa dia sekarang banyak sekali bicara? Efek kecelakaan kah? Buat banyak omong? Atau efek seharian bareng kak Arfen? Kak Arfen kan lambenya turah. Untung mukanya ganteng.


Batin Vania.


"Hey bocah! Aku bertanya pada mu. Kenapa melamun?! " sarkas Riyan. Vania tersentak halus.


"Enggak melamun kok pak. Gimana keadaan bapak? Apa ada bagian yang sakit banget? " tanya Vania, yang niatnya hanya basa-basi.


"Oh itu, iyaa tangan saya pegal. Coba pijat dulu. " sahut Riyan enteng, menggerakkan tangan kanannya.


Sial! Aku kan niatnya cuma basa-basi doang! Mana tau aku kalo om galak bakal beneran minta pijat.


Vania dengan canggung mulai memijat tangan kanan Riyan. Tampak wajah Vania agak merona, namun Riyan sama sekali tak menyadarinya.


"Kenapa canggung sekali? Bukan kah kita berpacaran sebelum ini? Saat kita pacaran dulu, sudah sampai tahap mana? Kita pernah pacaran kan? "


Vania terbelalak tak percaya, pasalnya ucapan itu keluar dari mulut Riyan. Ingin sekali Vania berteriak.


***


Hai hai Guys!


aku ga tau kenapa aku up lagi hikddd


yang jelas, kalian tinggalin jejak yah. like, komen yang positif, dan jangan lupa buat Vote Yah. ^^