
***
Vania dengan kaos hitam polos, berlapis cardigan lengan pendek, berwarna moca.
Gadis mungil itu menatap dirinya sendiri di cermin.
Ini benaran? Aku udah kelas 12? Pendek bet, dah lah syukuri aja
"Vania!! Assalamualaikum! Van! Van ini gue Arka! " Suara melengking berasal dari teras rumah gadis mungil itu.
Itu Arka!
"Bentar ka!! Dua menit lagi! " sahut Vania dari dalam. Entah Arka mendengarnya atau tidak.
***
Jadi ini Rumah Vania, kenapa selama ini dia gak bolehin kami datang. Padahal jelas-jelas rumah dia cantik gini. Mewah tapi sederhana.
Arka duduk di kursi yang ada di teras rumah itu.
Mari kita buktikan, mitos atau fakta nunggu cewek dandan itu lama.
"Arka? Udah? Kuy lah jalan. Buruan, entar kita ketinggalan. " Vania keluar dari pintu, lalu menguncinya lagi.
Arka tidak akan bertanya soal orang tua Vania. Karna Arka dan teman-teman lainnya tau dengan jelas, bahwa Vania anak yatim piatu.
Fix, rumor itu hoax! Cewek dandan gak lama.
"Ya udah ayo jalan. "
***
Riyan ingin menuruni tangga rumahnya, namun keberuntungan tidak di pihak nya. Riyan jatuh dan terpleset. Hingga kepalanya terbentur.
---
"Gimana keadaan Tuan muda Riyan Dok? " tanya kepala pelayan itu.
"Tuan muda baik-baik saja. Nanti malam atau besok dia sudah siuman. Lagipupa, luka di kepalanya tidak parah. "
***
Arka dan Vania sudah sampai, ternyata latih tanding ini berada di sekolah harapan. Konon katanya, sekolah Merah Putih dan sekolah Harapan adalah Rival. Mereka bahkan sering melakukan latih tanding bersama.
"Hoy Van! Alhamdulillah, akhirnya lo datang. Liatin gue yah main. Cowok, kalo lagi tanding dan di lihatin cewek yang dia suka. Semangat nya nambah Van. " sapa Sandy menyambut kedatangan Vania.
"Jangan mengada-ngada lo San! Ingat! Fokus! Jangan buat sekolah kita malu! " peringat Kaptennya. Wajahnya sangat mencerminkan kebijaksanaan, apalagi sikap, cara berdiri, dan cara berjalannya. Dia masih seusia orang Vania. Namun, terlihat lebih dewasa. Benar-benar cocok menjadi seorang kapten.
"Siap Kapten! "
---
Arka, Vania, Disha dan Shina menonton pertandingan Volley itu dari bangku penonton. Sandy si narsis, yang sudah tak punya malu, tak henti-hentinya melambaikan tangannya pada Vania. Seolah itu benar-benar mencerminkan, betapa bahagianya dia dengan kehadiran Vania. Membuat Vania terkadang jadi bahan sorotan.
"Urat malunya udah putus. Biarin aja Van. " bisik Arka yang seolah mengerti apa isi pikiran Vania. Vania mengangguk sambil menahan tawanya.
"Aku kurang paham sih soal Volley. " ujar Vania cemberut.
" Dua in deh Van, aku juga kurang. " sahut Shina setuju.
"Sebenernya aku juga ga terlalu paham, cuma kayaknya aku sedikit ngerti deh. " Ujar Disha.
"Ya udah, pokoknya lo ngomong bebas aja Dish, jelasin aja apa yang lo tau. "
Pertandingan sudah di mulai. Itu di awali dengan Servis atas dari pemain lawan. Tapi, masih bisa di tahan oleh sekolah merah putih.
Pertandingan terus berlanjut, itu cukup menegangkan.
"Eh, itu yant bajunya beda. Yang bolak balik keluar masuk lapangan namanya apa sih? " Shia menunjuk orang dengan pakaian berbeda di timnya.
"Oh itu, itu libero namanya. Khusus penjagaan, dia ga boleh melakukan servis ataupun smash. Cuma bisa passing doang. Makanya, libero rata-rata ga terlalu tinggi. " jelas Disha. Seperti ucapannya. Dia seperti nya cukup tau.
"Oh ya, yang itu middle blocker namanya, biasanya sih anggotanya tinggi-tinggi. Kalo yang itu, wing spiker, terus kalo yang umpan bola namanya setter. "
Pertandingan terus berjalan, dan Disha terus melanjutkan penjelasannya.
"Dish, perasaan lo kalo pelajaran Voley jarang main. Lah, lo tau nama-nama pemainnya dari mana? Sampai bisa detail jenis-jenis bloknya? Apalagi servisnya? " heran Arka. Arka pikir, Disha hanya tau sebatas nama atau sebutan posisi pemainnya. Ternyata Disha bisa tau sedetail itu.
Disha hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Arka.
***
"Hey Arka! Temenin aku kuy. Ke indoapril. Mau beli bahan-bahan makanan. Soalnya di rumah abis. Boleh ga? " pinta Vania saat di bonceng oleh Arka.
"Siap neng jago. Go to Indoapril! "
Vania tersenyum hangat. Entah kenapa, jantung Arka berpacu lebih cepat saat dia melihat senyuman Vania dari kaca spionnya.
Arka menggelengkan kepalanya, menolak bahwa dia menyukai Vania.
Enggak! Gak boleh! Gue gak boleh suka Vania! Vania juga gak boleh suka gue! Ini salah! Umur gue udah gak lama! Gue gak mau Vania sedih!
Batin Arka meyakinkan dirinya sendiri.
Semoga kamu bisa segera sembuh ka. Semoga.
***
Mereka berdua sudah sampai di indoapril. Arka memarkirkan motornya.
"Van, pintu indoapril di dorong apa di tarik?" bisik Arka.
"Di dobrak! " Vania mendorong pintu yang agak berat itu. Sungguh, untuk mendorong pintu indoapril di butuhkan usaha.
Arka tersenyum kecil menatap Vania yang menurutnya imut.
"Selamat datang, selamat berbelanja. " sambut kasir itu ramah.
Vania tersenyum hangat juga.
"Ini nih ka, yang buat aku suka datang ke sini. Di sambut."
"Iya juga ya Van, baru sadar gue. "
Vania mengambil trolli itu. Dia berjalan bersebelahan dengan Arka.
"Mau beli apa aja? " tanya Arka.
"Sembako ka, sembilan bahan pokok. " sahut Vania. Tangannya mulai mengambil beberapa jenis intermie.
"Jangan intermi Van, entar kalo kebanyakan nanti lo penyakitan. Sayangi tubuh dan kesehatan. "
Vania terdiam sebentar. Saat menyinggung kata kesehatan, Vania langsung mengingat kejadian di rumah sakit pada masa itu.
"Iya deh iya Ka. "
***
Arka membaringkan tubuhnya di kasurnya. Menatap langit-langit berwarna putih di kamarnya. Ingatannya masih menampilkan senyuman dan sikap lucu Vania.
Arka masih mengingat jelas wajah Vania yang polos dan lugu, saat Disha menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan Volley. Wajah manis, suara indah yang masih terngiang di telinga Arka.
Gak gak! Arka lo gak boleh suka Vania!!! Kasihan dia!! Jangan sukain dia!! Ingat umur!
***
Disha berjalan ke ruang tamu, dan menyalakan Tv nya.
"Oh iyaaa! PR Fisika masih numpuk banget!! Arghh!! Padahal pengen nonton Fast and Fourius! Arghhhh!! "
Entah kenapa, ingatan PR itu harus terlintas. Sungguh mengganggu Vania yang ingin nonton Televisi.
***
Riyan membuka matanya secara perlahan. Dia melihat keliling nya. Dia sadar, dia sedang berada di rumahnya.
Vania si bocah rese, siap-siap aja. Om galak ini bakal buat kamu balik ke sini. Tunggu aja.
Dan yah, kelas XII IPA lima? Haha! Aku bakal jadi pak Ghani buat kalian.
Riyan tersenyum seketika, entah apa maksudnya.
***
Hae haee, maap yaa selama ini upnya ga jelas. Dan makasih banget yang sudah selalu nungguin upnyaaa.